Oleh: Abdul Wahid Ansori
Wartawan LPM Qalamun
Di tepi jalan raya Jakarta, langit sore berwarna jingga keemasan.
Bendera merah putih masih berkibar di tiang-tiang jalan, meski kainnya mulai lusuh — seperti napas panjang bangsa yang terus menanggung beban zaman.
Arif, seorang pengemudi ojek online, berhenti sejenak di pinggir trotoar. Ia melepas helm, mengusap peluh, dan menatap layar ponsel yang terus berdering. Orderan datang silih berganti, namun isi dompetnya tetap tipis. Harga-harga naik, bensin mahal, sementara rezeki terasa makin sempit.
“Bang, bisa cepat? Saya ada rapat online sebentar lagi,” ucap penumpangnya tergesa.
Arif hanya mengangguk, menyalakan motor, dan melaju menembus kemacetan yang seolah tak pernah berakhir. Di wajahnya terselip senyum, meski hatinya lelah.
Di balik gedung-gedung tinggi, Sinta — seorang guru honorer — melangkah pulang dengan langkah pelan.
Gajinya bahkan tak cukup untuk sewa kos sederhana, tapi semangatnya untuk mengajar anak-anak tak pernah padam.
Saat melewati pasar, ia melihat pedagang kecil mengeluh karena dagangan sepi, kalah bersaing dengan toko modern di seberang.
“Bu Guru, kapan sekolah kita dapat buku baru?” tanya seorang murid tadi siang dengan mata berbinar.
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya.
Sinta tahu, buku bukan sekadar tumpukan kertas — tapi jalan keluar dari rantai panjang kemiskinan.
Sementara itu, di sisi lain kota, Bima — mahasiswa tingkat akhir — baru saja turun ke jalan. Ia berbaur dengan massa demonstran yang menggenggam spanduk dan poster bertuliskan tuntutan rakyat.
“Keadilan! Lapangan kerja! Pendidikan layak!” seru mereka lantang di depan gedung parlemen.
Bagi sebagian orang, mereka dianggap pengganggu. Tapi bagi Bima, inilah bentuk cinta: cinta yang berani bersuara ketika yang lain memilih diam.
Indonesia terus berjalan, seperti seseorang yang memikul terlalu banyak luka.
Jalan tol megah terbentang, kereta cepat melaju, tapi di pelosok negeri masih ada desa yang gelap — listrik tak pernah datang, sinyal tak pernah menjangkau.
Malam perlahan turun.
Di sebuah warung kopi sederhana di sudut kota, takdir mempertemukan Arif, Sinta, dan Bima.
Tiga jalan hidup berbeda, tapi satu akar yang sama: mereka sama-sama sedang berjuang untuk bertahan.
“Kadang saya merasa negeri ini lupa pada orang kecil,” ujar Arif sambil meneguk kopi hitam.
“Kalau lupa, siapa yang harus mengingatkan?” sahut Sinta lembut.
“Ya kita,” jawab Bima, menatap mereka berdua. “Mahasiswa, guru, pekerja—semua rakyat. Kalau kita diam, siapa lagi?”
Hening sejenak.
Di luar warung, bendera merah putih masih berkibar, walau kusam diterpa debu jalanan. Namun di balik kusam itu, warnanya tak pernah pudar.
Merahnya masih menyala, putihnya masih bersinar, seolah berbisik: Aku masih di sini. Menunggu kalian menjaga dan merawatku.
Dan malam itu, di antara kopi, obrolan, dan semangat yang sederhana, lahir harapan baru.
Harapan bahwa meski Indonesia penuh luka, ia tetap punya anak-anak bangsa yang tak pernah berhenti menjaga cahayanya.







