Home PUISI Kita

Kita

425
0

Dari pengagum abadi Saphhire, Yato

Waktu itu, kita duduk berdua di sebuah kedai. Kau pilih kedai tersebut, karena kamu butuh keheningan untuk sesi daringmu. Sepi, cuma ada beberapa pengunjung.

Obrolan kita diiringi lagu Juicy Luicy. Aku yang banyak mendengar, dan kau yang banyak berbagi. Aku yang bermata binar mendengarmu, dan kau yang ceria membagi cerita. Yang pasti, tidak ada hp di antara kita.

Hanya ada mata kita yang beradu, yang sesekali salah tingkah, kemudian menoleh ke arah lain. Kita gibah perihal mahasiswa organisasi, yang tampil dengan angkuhnya. Padahal kurasa, bukan mereka yang angkuh. Kita saja yang iri, semoga tak begitu.

Asap rokokku berembus di sela canda. Menguap ke angkasa yang sudah gelap. Tumben, langit cantik. Biasanya kota ini muram. Tapi, aku tidak begitu peduli dengan rasi bintang. Ada kau di depanku, apa yang lebih cantik dari itu?

Hari-hari kita berlalu.

Kau memintaku untuk bercerita tentang buku yang kubaca, atau pemikiran-pemikiranku yang membuatmu menggelengkan kepala. katamu, apapun itu, kau akan mendengarkan, walau tidak terlalu mengerti. Yang terpenting, kita berbagi cerita, itu sudah lebih dari cukup.

Kemudian kita berdiri, keluar, menyusuri trotoar. Tanganmu di dalam tanganku, langkahku menuntun langkahmu. Kau tahu? Aku merasa jadi manusia paling beruntung. Tidak perlu jauh-jauh menyambangi gunung tertinggi, atau laut terdalam. Denganmu, di jalanan kumuh sekalipun, sudah terasa indah buatku.

Kupasangkan helm-mu. Kita naik motor putih kotorku. Meski tidak bisa ngebut, kau melingkarkan tanganmu di perutku. Kau berusaha menyandarkan kepala di punggungku, membuat kepalaku harus miring karena helm kita beradu. Biarpun pegal, tidak apa-apa. Lalu kuelus lututmu sembari melihat wajahmu di spion motor. Kau tersenyum. Kita melaju melintasi kota, menyeberangi sore, hingga langit berubah gelap.

Pelukan pertama kita, kau ingat? Tidak diiringi kembang api, atau sorak-sorai kemenangan layaknya di film-film. Hanya ada kau, aku, laptop yang menyala, juga alunan lagu indie yang tak pernah absen kudengarkan.

Tapi, kita berdua sadar debarannya sekencang apa. Kita tidak perlu mengucap apapun, sejak saat itu, kau dan aku tahu bahwa kita ditakdirkan bersama. Hari demi hari berlalu. Kita sudah banyak berubah. Layaknya manusia biasa, kita melewati rasa jenuh, kecewa, patah hati, pengkhianatan.

Semua pertengkaran itu, semua amarah dan tangis. Kadang, aku ingin mengakhiri segalanya dan pergi, jauh pergi. Tapi, entah bagaimana, aku selalu yakin kau adalah rumah, tempat aku pulang.

Segala yang hancur akan pulih jika kita berdua yang menyusun kembali puing demi puing. Dan aku tidak bisa melakukannya sendirian. Aku tahu, kau pun butuh aku. Kita sudah banyak berubah. Tapi satu hal yang pasti, perasaan untukmu hanya bisa bertambah, dan terus bertambah.

Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Kita memiliki kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here