Home CERPEN Untukmu, Harmonia

Untukmu, Harmonia

508
0

Karya : Muhammad Nur Hidayat
Jurusan : Pendidikan Bahasa Arab
Semseter : 3

“Waktu begitu cepat berlalu, melesat begitu cepat bagai anak panah yang keluar dari busur, menerobos apapun yang ada di hadapannya.”
Begitulah ucap seorang bocah SMA yang rambutnya terpaksa buzz cut karena menjadi korban razia rambut kepada kawannya yang sedang berkumpul di meja bundar kantin. Sungguh gaya rambut itu tidak cocok dengan dahinya yang lebar dan tinggi. Meja hijau itu dikelilingi 3 orang yang sedang berpakaian putih abu-abu; Rayan, Upik, dan Imon.

“Lu mabok M+Susu, Gundul?” ledek Imon sambil mengetuk jidat lebar Rayan.
“Seperti biasa, kalo gak gila bukan Rayan namanya,” ledek Upik setelah menyedot minuman rasa Taronya.
“Ya Ilah, orang gila juga bisa serius, kali. Sumpah, gue gak nyangka bakal secepat ini. Lu bedua entar lagi lulus, trus gue sendirian di sekolah jelek ini,” ucap Rayan dengan makian kepada sekolah yang sudah membuat kepalanya jadi seperti pakai helm setiap saat.

“Lah, siapa suruh lahir telat, dek,” Imon kembali mengejek Rayan.
“Yan, sedih lu mending simpan dulu. Toh, kita masih punya 2 bulan, mending kita nikmatin,” nasihat Upik pada adik kelas yang sekaligus kawannya.
“Seminggu sebelum lu berdua prom night kita camping, yuk! Bener-bener kita bertiga doang, quality time,” ajak Rayan.
“Yeeee, sok Inggris. Gue sih gas. Lu gimana , Pik?” tanya Imon.
“Temen macam apa sih gua kalo nolak? Ya gas lahhhhh,” jawab Upik.

Sepulang sekolah mereka kembali ke rumah mereka masing-masing, Upik dengan motor bebeknya yang ditumpangi oleh Kina, kekasihnya. Imon yang nebeng di motor matic Rayan. Setiap hari begitu, Rayan selalu menjemput dan mengantar Imon karena jarak rumah mereka yang tidak begitu jauh. Momen itulah yang membuat Rayan jatuh pada wanita berambut panjang, beralis tebal, berlesung pipi, bermata cokelat yang sekaligus kawan dan kakak kelasnya.

Bagaimana tidak?
Sudah banyak cerita yang mereka bagi diatas jok motor Rayan, entah itu film favorit mereka, isi playlist mereka, keadaan keluarga mereka, bahkan tentang pria dambaan Imon yang membuat Rayan selalu ingin menabrakkan motor saat mendengar nama pria itu. Tapi Rayan selalu siap untuk menjadi telinga bagi Imon, tanpa lelah, tanpa keluh. Hal itu juga yang menjadikan mereka sepasang duo dalam lingkaran pertemanan berisi tiga orang, mungkin dalam setiap lingkaran pertemanan tiga orang selalu ada duo didalamnya.

Rayan adalah lelaki bersuara merdu dan pandai memetik gitar yang sedang duduk di bangku kelas XI jurusan MIPA, sedangkan kedua kawannya di kelas XII jurusan IPS. Sebuah lingkaran pertemanan yang terbilang langkah karena diisi oleh senior dan junior dari jurusan yang berbeda, sifat yang sangat jauh berbeda. Selera musik yang sama adalah hal yang melahirkan lingkaran pertemanan mereka.

Saat itu Upik dan Imon masih duduk di kelas XI, Rayan Kelas X. Saat itu juga Sheila on 7 akan manggung di kota mereka entah dalam festival apa, toh, siapa peduli? Asalkan band favorit yang akan tampil, tidak perlu pikir panjang untuk beli tiket. Tidak sulit bagi Upik untuk harus susah payah war tiket, ia memiliki kekuatan orang dalam.

Kala itu Upik sudah beli tiket untuk 3 orang; Imon, Galu, dan Ia sendiri. Galu yang adalah sepupu Upik yang numpang tinggal dirumahnya harus batal ikut nonton karena harus kembali ke kampung setelah ibunya menelepon bahwa ayahnya jatuh sakit. Supaya tidak tekor, Upik langsung menjual tiketnya di instastorynya, belum genap 2 menit terupload, sudah ada balasan dari Rayan yang ingin membeli. Tanpa negosiasi Rayan langsung mentrasfer uangnya ke dompet elektronik Upik, lalu Upik membuat Grup Whatsapp yang berisikan mereka bertiga.

Pengingat di kalender berdering dan bulan bertengger tepat diatas Kotakita, menandakan konser akan segera di meriahkan. Imon yang sudah selesai bersiap meminta tolong untuk dijemput dan pergi bersama ke tempat konser, sedangkan Rayan baru saja selesai menyisir rambut hitam tebalnya kearah kanan, seperti anak SMA biasa pada umumnya.
Begitulah Rayan, tipikal bocah SMA yang biasa saja dan tidak menjadi perhatian bagi orang lain, orang baru tidak akan mengingatnya bahwa pernah berpapasan dengannya di tempat umum, bahkan tidak ada orang yang ingat betul bahwa di pergelangan tangan kirinya ada bekas luka keloid, akibat bermain lelehan sedotan plastik yang ia bakar saat masih duduk di bangku SMP. Tipikal manusia yang tidak mencolok, hanya menjadi “NPC” dalam kisah kehidupan orang lain, tak ada yang bisa ia banggakan selain kemampuan memetik gitar, suara merdu, dan sedikit keahliannya dalam bermain diksi.

Ia telah memasuki mode tampan, baterai gawainya juga sudah penuh dan siap mengabadikan momen-momennya menonton band favoritnya bersama 2 homo sapiens yang selama ini hanya mutual di instagram dengannya, sebelumnya belum pernah berkomunikasi selain saat ia membeli tiket dan mengobrol kecil-kecilan di dalam grup. Segera ia menyalakan motor matic hijaunya dan menjemput Imon. Untuk pertama kalinya, jok motornya di isi oleh homo sapiens yang berjenis kelamin betina.
Demi apapun itu, Rayan rela bersumpah bahwa sungguh ia gugup karena harus membonceng senior yang cukup populer di sekolahnya. Sedangkan baginya, dirinya hanya sebiji pasir diantara ribuan bunga dan lebah di sekolah.

Ia berhenti tepat di titik lokasi yang diberikan Imon melalui Whatsapp. Imon keluar dari rumahnya dengan celana corduroy cream dikombinasikan bersama crewneck bergaris cokelat dan putih, pada saat itu juga Rayan percaya bahwa mitos jatuh cinta pada pandangan pertama bukanlah mitos belaka, Rayan tenggelam pada kibasan rambut Imon saat ingin mengenakan helmnya. Dalam kepalanya ia seperti sedang mengucapkan Tampaknya tuhan benar-benar serius saat mengukir manusia yang satu ini.

“Tunggu apalagi? yuk, jalan” ujar Imon kaku.
“Eh, ayo” jawab Rayan kaget. “Bismillah,” doanya kecil setelah termenung beberapa saat karena matanya harus melihat paras cantik Imon.

Motornya melaju kencang, situasi Kotakita cukup ramai karena bertepatan dengan malam bahagia bagi banyak manusia, malam minggu. Hingga tangan Imon reflek berpegangan pada pinggangnya.
“Lah, lu udah punya cowok?” tanya tengil Rayan.
“Enggak, sih. Nge-crush doang,” jawab Imon.
“Trus ngapain pegangan, bego”
“Lu kenceng banget, GOBLOK”
Entah gerangan apa yang membuat Rayan bertanya hal seperti itu, entah gerangan apa Imon seterbuka itu pada orang yang baru ditemuinya.

Mereka bertiga bertemu dilapangan tempat konser di meriahkan. Manusia kala itu benar-benar padat. Lagu “Pria Kesepian” dikumandangkan sebagai lagu pembuka yang dinyanyikan SO7, mereka benar-benar menikmati euforia pada malam itu.
Dari sanalah semuanya bermula. Hari-hari Rayan yang biasa saja menjadi berwarna, ada Imon sebagai wanita dambaannya dan Upik sebagai kawan barunya.


Hari itu, di permukaan bumi, saat tanggal berkemah telah dimasuki. Seperti biasa, Rayan menjemput Imon dengan motor andalannya menuju rumah Upik sebagai titik kumpul mereka. Di rumahnya, Upik telah duduk didepan teras menunggu kedatangan mereka.

“Langsung gas?” tanya Imon.
“Gue jemput Kina dulu,” jawab Upik.
“Kina? Serius, Pik? kita janjinya bertiga doang, kan?” potong Rayan.
“Doi marah kalo kaga gue bolehin ikut, Yan. Gue juga gak pengen bawa doi, tapi yah mau gimana lagi, Yan”
“Udah, gapapa. Toh disana jadi ada cewek selain gue, Kan? gausah ngeluh, Yan. Gapapa, kok” lanjut Imon menyemangati Rayan.
“Ngeluh? gue? orang sekuat gue ngeluh? lu bedua gak salah?”
“Ya elah, baru ban motor lu bocor aja, lu udah jadi kek orang paling tersiksa dimuka bumi,” ledek Imon.
“Hoax, lagian gimana mungkin gue ngeluh kalo cuma karena kalian ego gue luluh,” ucap Rayan seperti seorang penyair sembari mengusap rambutnya yang sudah mulai tumbuh.
“Gak usah bacot, Botak. Pamit dulu ke bokap gue, terus kita langsung meluncur,” ujar Upik.

Tangan ayah Upik telah mereka cium, dan mereka melanjutkan perjalanan menjemput Kina, Pacar Upik. Di bangku depan pagar rumahnya, Kina telah menunggu dengan segala perlengkapannya. Saat ingin naik keatas motor, terlebih dahulu hidung Kina dicubit oleh dua jari Upik.
“Kita kapan kayak gitu, Mon?” tanya Rayan sembari melihat wajah Imon di spion motornya.
“Gue nyubit idung lo? gak, ah. Idung lo minyakan,” jawab Imon.
“Lu jadi cewek peka dikit, napa”
“Jangan gila deh, Yan”
Perjalanan menuju pantai kembali dilanjutkan. Ditengah perjalanan saat motor sedang melaju kencang, Imon mengeluh karena punggungnya pegal akibat menggendong gitar Rayan.
“Yan, ini gitar atau apaan sih? Berat bet,” tanya Imon dengan teriak.
“Apaa?” tanya balik oleh Rayan karena tidak mendengar suara Imon dengan jelas.
“Stop duluu!” perintah Imon
Rayan mengerem motornya, berhenti dibawah pohon mangga dipinggir jalan. Imon meminta agar dia yang mengendarai motor dan Rayan yang menggendong gitarnya.

“Pelan-pelan aja, Mon. Sambil kita nunggu Upik yang ketinggalan di belakang,” ucap Rayan
“Udah… percaya aja ama gue,” balas Imon.
Imon memutar penuh gas motor. Rayan benar-benar kaget, pasti ia terjatuh jika tidak pegangan di handle besi joknya. Bukannya Rayan penakut, hanya saja akhirnya dia menyadari bahwa sensasi melaju kencang ketika membonceng dan dibonceng sungguh berbeda.
“WAHAHA,” teriak Imon.
“YUHUU,” teriak Rayan yang tak mau kalah.

Langit sudah mulai menampakkan cahaya jingganya tatkala sepasang manusia tiba di pantai tempat mereka akan berkemah.

“Akhirnya nyampe juga” takzim Rayan karena sudah tiba dengan selamat.
“Gimana? skill motor gue jago, kan?” tanya Imon dengan bangganya.
“B aja”
“Dih, sok berani, padahal tadi pegang behel motor kenceng bener, takut bet mati, yak?”
“Lah, emangnya ada yang lebih berani dari gue? lagian buat apa gue takut mati kalo bareng lo, cara paling surgawi untuk meninggalkan segala hal duniawi”
“Bacot,” potong Imon. “Noh, si Upik ama Kina udah dateng,” ucapnya setelah mendengar suara khas milik motor Upik.
“Bujed, cepet bet lu bedua,” sapa Upik yang baru saja tiba.
“Ya, iyalah. Soalnya gabutuh drama bucin-bucinan di atas motor kek lu bedua,” jawab Imon.
“Udah, gausah banyak omong. Udah keburu sore, matahari keburu tenggelem. Mendingan kita diriin tenda, trus ngopi dipinggir pantai ala-ala anak indie,” potong Rayan.

Tepat setelah ajakan Rayan mendirikan tenda, mereka langsung mengeksekusi. Ada dua tenda yang mereka dirikan, biru untuk Rayan dan Upik, merah untuk Imon dan Kina. Senja mereka nikmati dengan kursi portable dan kopi, mereka abadikan dengan video selang waktu matahari yang sedang terbenam dan dipandang oleh siluet 4 orang yang sedang menikmati kopi.

“Senja cantik, yah, gaes. Bisa gasih gue secantik senja?” tanya Imon sambil membayangkan jika dirinya secantik senja.
“Jangan, Mon. Senja cantik, namun keindahannya dinikmati oleh banyak orang. Aku ingin keindahanmu hanya untukku,” gombal Rayan menjawab pertanyaan Imon.
“sa aee lu, botak” ledek Upik dengan tangan kanannya menjitak kepala Rayan.
“RAYAN GILA!” teriak Imon dengan suara cemprengnya.

Melihat kelucuan tiga sekawan itu, Kina hanya tertawa menikmati tingkah mereka yang seperti anak-anak.
“Ternyata jadi anak senja kayak lu bukan ide yang buruk-buruk amat, Yan” Upik memecah keheningan karena rasa kagumnya pada cahaya jingga mentari di sore hari.
“Nah, kan. Udah gue bilangin,” jawabnya bangga.
“Kenapa sih, lu bisa sesuka itu ama senja?” potong Imon.
“Tiap kali gue liat senja, gue selalu ingat almarhum nenek gue, doi sering buatin jus jeruk buat gue. Warnanya kan orens,” jawab Rayan.
“Karena warnanya orens? cocokologinya jauh banget, aneh bet lu, botak.” ucap Upik bingung sembari mengangkat alis kanannya.

“Memang aneh. Tapi, alasan seseorang buat bisa bahagia gak selalu harus sefilosofis dan seaesthetic itu. Bahagia itu sederhana, Pik” jelas Rayan dengan nada bicaranya yang seperti Langit Nakesha saat sedang membaca sajak-sajak indahnya.
“Walaupun gundul-gundul gini, lu ternyata bisa keren juga” sambung Imon kagum mendengar pandangan Rayan.
“Lu hebat sih, Yan. Gue tau lu ngefans sama Langit Nakesha, tapi lu bakal lebih keren kalo bisa nemuin gaya lo sendiri, Yan,” puji Upik sambil memberi saran kepada temannya.

“Gue belajar banyak hal dari karya-karya dan kisah hidup doi, dan semoga almarhumah istri doi bisa istirahat dengan tenang di alam sana. Yah, namanya juga proses, gue bakal terus berkembang, Kok. Makasih, Bro,” ucap Rayan terimakasih seraya mendoakan almarhumah istri penulis favoritnya.

Matahari yang sudah mulai tenggelam setengah menjadi saksi mereka bertiga mengamini doa tulus Rayan untuk Mentari Enedina, almarhumah istri dari penulis buku berjudul “Pesawat Kertasmu Untukku” yang berhasil menginspirasi Rayan dalam proses panjang perjalanan perkembangan dirinya.
Lalu matahari telah tenggelam seutuhnya dan tak ada lagi cahaya jingga, namun bulan malam itu masih saja belum muncul. Upik dan Kina pamit untuk mencari warung makan terdekat dari pantai tempat mereka kemah. Imon dan Rayan yang masih belum lapar memilih untuk tidak ikut dan menitip saja pada mereka berdua untuk makan disaat rasa lapar pada perut mereka telah berkunjung.

Sepasang tenda, satu buah lampu kemah dan sepasang manusia menjadi entitas yang tersisa dibibir pantai kala itu.
Imon yang sudah mulai bingung harus melakukan hal apalagi, langsung meminjam gawai pintar milik Rayan yang kameranya cukup bagus untuk melakukan swafoto. Tak hanya dirinya sendiri, ia juga mengajak Rayan untuk berada dalam satu frame.
Sungguh Rayan salting sampai ingin kencing. Ia pergi ke bawah pohon kelapa yang jaraknya agak jauh dari tenda. Dua menit ia meninggalkan ponselnya, dua menit juga ia telah melakukan blunder terbesar dalam sepanjang sejarah hidupnya. Saat Rayan buang air, Imon membuka instagram untuk memasukkan akunnya, namun tak sengaja ia melihat search history Rayan yang hanya berisikan akun milik Imon. Tidak hanya itu saja, saat akun Imon telah masuk dan fotonya akan ia posting di instastorinya, tak sengaja (lagi) ia melihat galeri Rayan yang berisikan foto-fotonya.

Rayan yang selama ini menyembunyikan rahasianya digagalkan oleh keblunderannya. Selama ini ia mengaku bahwa didalam ponselnya banyak vidio dewasa dan vidio pembunuhan agar tak ada yang melihat isi galerinya, namun Imon saat itu tidak sengaja mengetahui hal yang selama ini ia sembunyi.
Tanpa rasa berdosa, ia berjalan dari bawah pohon kelapa menuju tenda sembari menutup resleting celana denimnya. Hingga saat ia baru saja ingin duduk disamping Imon, sebuah pertanyaan langsung dilontarkan kepadanya.
“Kenapa, Yan?” tanya Imon.
“Hah? kenapa apaaan?” tanya balik Rayan dengan dahi yang mengernyit.
“Kenapa harus gue, Yan?’’ tanya Imon balik dengan perasaan yang sedang campur aduk.
“Elu? lu kenapa? apaaan sih, Mon?’’ tanyanya lagi dengan dahinya yang makin mengernyit. “ASTAGA!!!” teriaknya spontan setelah menyadari ponselnya sedang berada ditangan kanan Imon dan sedang menampilkan isi galeri di layarnya.
(hening)

Dahinya yang sudah dua kali mengernyit akhirnya mengeluarkan keringat dingin, rambutnya yang baru tumbuh gatal secara tiba-tiba, tangan kurus beruratnya bergetar, degupan jantugnya meningkat secara signifikan. Inikah yang dinamakan shock? sungguh Rayan kebingungan.
“Yan, tolong, kenapa? kenapa musti gue?” Imon memecah hening.
Rayan lalu mengambil napas dan membuangnya perlahan. Memaksa dirinya untuk menjelaskan segalanya. Ia merasa sekarang adalah waktunya atau tidak sama sekali, walaupun resiko terbesarnya adalah mereka tak lagi tegur sapa atau bahkan mungkin Imon akan membencinya. Rayan meyakinkan dirinya untuk menerima apapun kasus terburuk yang akan terjadi setelahnya.

“Yah, udah ketahuan. Mau gimana lagi,” ucap Rayan setelah menghela napas panjang. “Gak Cuma itu, Mon. Gue juga udah buat lagu tentang lu, dibelakang KTP didalam dompet gue ada polaroid foto kita dalam satu frame, gue sering kebangun setengah sadar tengah malam karena ngerasa ada chat lo masuk padahal aslinya gak ada sama sekali, lu ada didua alam gue… sadar dan bawah sadar. Kayaknya tanpa gue gak kasih tau lo udah tau semuanya , deh. Gue suka lu, Mon,” sambung Rayan memecah keheningan beberapa saat setelah kalimat sebelumnya.
“Kenapa harus gue, Yan?” tanyanya lagi. “Seminggu abis prom gue udah harus berangkat ke Jogja. Gue lolos di jurusan statistika, jurusan impian gue, Yan. Dan malam ini yang harusnya kita Quality time, lu malah harus ngebuyarin kepala gue” lanjutnya dengan mata yang mulai berair.

“Jadi, kita ini apa, Mon?”
“Gue, elu, Upik. Kita bertiga sahabat, Yan”
“Sedikitpun gak ada gue disana, Mon?” tanya Rayan dengan telunjuknya yang menunjuk dada Imon.
“Ada, kok, Yan. Ada, besar malah” jawabnya pelan. “Tapi, gak bisa, Yan. Waktu kita singkat, gue harus ngelanjutin kuliah gue. Kalau kita lebih dari ini, gabakal bisa, Yan. Perjalanan kita masih panjang, kita bakal berada di kota yang berbeda, lu bakal dapat orang yang lebih baik dari gue, begitu juga gue. Kayaknya emang we aren’t meant to be ,Yan” sambung Imon mengeluarkan isi hatinya.

“Gak bakal ada orang lebih baik dari elu yang mau sama orang yang mukanya dibawah standar dan perawakan aneh kayak gue, Mon. Gak ada hal yang bisa bikin orang kagum ke gua, gak kayak lu. Lu itu paket lengkap, dan diluar sana banyak banget cowo yang jauh diatas gue dan itulah hal yang paling gue takutin. Dan sungguh gue gak pernah kepikiran buat dapetin orang lain lagi, Mon. Bukan waktu yang singkat buat gue ngebangun semua ini mon, gak bakalan gue rusak semudah itu”
“Kenapa harus kita sih, Yan? kenapa harus lu yang beli tiket kita? kenapa harus lo yang tebengin gue tiap hari? dan kenapa gue harus suka sama temen gue sendiri?”
“Kenapa gak dicoba dulu, Mon?”
“Karena emang bener-bener gabisa, Yan. Tolong, jangan benci gue, yah, Yan. Lagian gue ini tipikal perempuan toxic dan lu malah suka ke gue”

“Gak ada alasan buat gue benci lo, Mon. Justru semakin gue tau kekurangan lu, semakin gue pengen ngelengkapin lu”
“Udahlah, Yan. Kita gabakal bisa. Yang sakit bukan lu doang, kok, gue juga”
“Kalo emang gak bisa sekarang nanti aja, Mon. Kalau kuliah lu udah selesai, gue udah jadi pria yang mapan, mungkin di umur gue yang 27 tahun. Gimana kalo nanti aja kita bersanding? dan kalo ternyata harus lu yang duluan, izinkan gue jadi lelaki yang dengan gitarnya mengiringi musik di hari bahagia lu dengan pria terbaiklu, Mon”
“Kita masih terlalu muda, masih terlalu labil, Yan. Terlalu dini buat kita menggantungkan diri sama orang yang kita temui dimasa SMA, Yan”

“Gue janji bakal jaga nomor WA gue, bakal ngejaga akun sosmed gue, biar lu gak sulit cari gue saat pikiran lu udah berubah, Mon. Dan dering notifikasilu akan selalu gue bedakan dengan orang lain”
“Semoga aja, Yan” doa tulus Imon. “Maaf, Yan. Untuk sekarang, gue gak bisa ngasih harapan dan janji apapun buat elu”
“Gapapa, kok, Mon. Gue yakin tuhan udah nulis skenario yang terbaik buat kita”
Tubuh Imon lalu jatuh dengan sengaja ke tubuh Rayan dengan kedua tangannya yang mendekap begitu eratnya. Dengan jantung yang berdebar, Rayan membalas dekapan itu dengan rangkulan yang lebih erat. Untuk pertama kalinya, dua homo sapiens itu akhirnya berpelukan, disaksikan oleh bulan yang baru saja menampakkan wujudnya dan diiringi suara ombak yang begitu merdunya.

“Yang lu bilang waktu di kantin dulu ternyata bener, Yan,” cetus Imon memecah hening setelah peluk mereka lepas dan duduk diatas sebuah batang pohon dekat tenda.
“Hah? yang mana?” tanya Rayan kebingungan.
“Waktu begitu cepat berlalu, melesat begitu cepat bagai anak panah yang keluar dari busur, menerobos apapun yang ada di hadapannya”
“Buset, hapal bener” ucap Rayan sambil tertawa. “Yah, begitulah, Mon. Dengan orang yang tepat waktu akan terasa lebih cepat,” lanjutnya.
“Kita berdamai dengan keadaan yah, Yan”
“Yah, mau gimana lagi, Mon. Toh, juga gak bisa maksa, asal lu bahagia, yah, gapapa” ucap Rayan meski kalimat itu terasa agak berat untuk keluar dari mulutnya. “Tapi, Mon. Izinin gue untuk kembali seperti dulu lagi”
“Yang dulu?”
“Iya, kembali menjadi orang yang memuja lo dalam rahasia, orang yang mencintaimu dalam diam, dan orang yang selalu mencuri pandang pada wajah lu” cetusnya lalu diam sejenak. “Dan kalo suatu saat lu udah ngerasa gue berhenti ngelakuin semua itu, percayalah, perasaan lu itu salah, Mon. Seperti laut, mungkin bisa pasang dan surut, namun rasanya tak akan pernah berubah, Mon”

Kepala Imon tertunduk, ia termenung, tak sempat ia menjawab, suara motor Upik terdengar mendekati mereka berdua. Raut wajah mereka berdua segera mereka normalkan, seolah tidak terjadi apa-apa, namun sungguh, bekas tangisan yang ada di mata Imon tak bisa berbohong.

“Nih, nasi goreng buat lu bedua” sapa Upik yang baru datang dan membawa sebungkus nasi goreng yang dilingkari karet merah didalam kantong plastik transparan.
“Lah, kok cuma satu?” tanya Imon kebingungan setelah mengambilnya dari tangan Upik.
“Stok nasi mamangnya tadi tinggal buat satu setengah porsi, trus mamangnya nawarin buat ngasih semuanya dengan harga normal, lauknya juga di banyakin sama mamangnya. Jadi, yaudah gue iyain aja,” jelas Upik.
“Kamu kenapa, Mon?” tanya Kina menyadari mata Imon yang tidak baik-baik saja.
“Gapapa, kok. Tadi abis nonton film pendek sedih bareng sadel supra” jawabnya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, sungguh Imon ahli dalam hal bermain peran.
“Yee, hampir aja lu gue cemplungin ke laut kalo lu apa-apain temen gue, botak” ledek Upik pada Rayan dengan tawa jahatnya.
“Syukurlah, kamu gapapa, Mon,” ucap Kina takzim.

Upik yang sepertinya tidak begitu peduli karena baru saja menghabiskan waktu dengan kekasihnya meminta Rayan memetik gitarnya lalu menikmati malam dengan lagu-lagu bahagia atas pertemanan mereka. Iya, pertemanan, tidak lebih dari itu.

Setelah menikmati malam, kantuk mulai megetuk katup mata mereka. Seperti sepasang pacar pada umumnya, Upik mengecup dahi Kina sebelum mereka berpisah tenda, sedangkan Rayan dan Imon hanya bisa tersemyum pada pemandangan malam itu. Lampu dimatikan, barang-barang penting dimasukkan, dan resleting tenda mereka tutup sebelum mereka menutup kelopak matanya masing-masing.

Upik yang tampak begitu lelahnya langsung memakai sarung dan mengambil posisi paling nyaman untuk masuk ke alam mimpinya, tidak dengan Rayan yang malah masuk kedalam sesi overthinking dini hari. Sungguh kepala Rayan ramai dan berisik kala itu.

Di tenda sebelah, Imon malah menangis tanpa suara. Menyadari itu, Kina langsung memeluknya dan mengelus rambutnya seraya berkata “Udah, Mon. Itu kan cuma film doang, kisahmu gak akan seburuk itu kok,” tanpa Kina tau bahwa kisah mereka jauh lebih buruk daripada film manapun. Tangis Imon sudah reda, Kina sudah tertidur pulas. Sama seperti Rayan, Imon tak kunjung bisa tidur, kepalanya berisik.
Dua kepala dibawah bulan yang sama, diatas bumi yang sama, dipinggir pantai yang sama, memikirkan hal yang sama, hanya tenda yang membedakan mereka. Mungkin benar kata orang, pasangan sejati adalah cerminan diri mereka sendiri. Upik dan Kina yang sudah tertidur pulas, Rayan dan Imon yang tak kunjung menguap. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku pada Rayan dan Imon.

Matahari yang sore kemarin meninggalkan mereka kini kembali menerangi pagi mereka. Tak ada hal yang istimewa pagi ini, Rayan dan Imon tetap dalam permainan peran mereka yang seperti tidak terjadi apa-apa. Yang ada hanyalah empat manusia yang sedang merebus mi instan dengan kompor portable dan nesting sebelum mereka menikmati air asin milik laut membasahi tubuh mereka, seperti kisah kumpulan pertemanan yang sedang menghabiskan waktu bersama pada umumnya.

Saat mereka baru saja selesai mengepak peralatan, matahari sudah berada sejajar diatas ubun-ubun mereka. Dan kala itu, masih saja tidak ada yang istimewa, hanya kecanggungan antara Rayan dan Imon yang perlahan muncul. Seperti adegan orang yang bersiap pulang pada umumnya, mereka mengendarai motornya, namun kali ini berbeda, tak ada lagi adegan balap-balapan, tak ada lagi adegan teriak-teriakan, yang ada hanya kecanggungan.

Rayan seperti robot kurir Artificial Intelligence yang hanya bisa mengantar paket dan mengoperasikan sepeda motor, Imon seperti manekin yang dibawa oleh si robot untuk diantarkan kepada konsumen, hening.

Motor Rayan dan Upik sudah terpisah menuju arah yang berbeda, Rayan mengerem motornya saat sudah tiba didepan rumah Imon. Imon turun, mengambil barang-barangnya, lalu sebelum Rayan memutar gas motornya, Imon mengeluarkan tiga kata ajaib “Love you,Yan,” Rayan membalasnya dengan senyum dan pipi yang merah tanpa menggunakan blush on. Kalimat ajaib itu membuat bibir Rayan tak kunjung berhenti melengkung selama diatas sepeda motornya.

Jarum pendek pada jam dinding telah berputar tujuh kali setelah hari berkemah mereka berlalu, menandakan bahwa saatnya Prom Night milik kelas akhir SMAN 1 Kotakita dimeriahkan di sebuah hotel yang tidak begitu jauh dari sekolah mereka. Rayan yang baru akan naik kelas akhir hanya bisa melihat acara itu lewat instastory senior-seniornya, berulang kali ia men-tap bagian kanan handphonenya saat melihat instastory, berulang kali juga ia me-refresh instagramnya, namun tak kunjung muncul foto profil imon dalam bar instastorynya.

“Ini gue di hide?” pikirnya bertanya-tanya. Hingga tak lama setelah itu muncul sebuah lingkaran yang berwarna pink dan ungu mengelilingi foto profil Imon pada bar instastorynya. Tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada repost foto dengan pria lain didalamnya, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Imon adalah wanita manis yang tak pernah gagal dalam memilih outfit dan pasti selalu ada laki-laki yang mengajaknya untuk berada dalam satu frame foto, Imon pun selalu merepost fotonya yang dimention oleh para lelaki itu.
Rayan dengan pd-nya merasa bahwa Imon sedang menjaga perasaanya. Ia menyadari bahwa dalam waktu dekat Imon akan segera meningalkan Kotakita dan dirinya dalam kesendirian. Ia segera memikirkan tentang hadiah apa yang akan dia berikan kepada Imon sebelum berangkat meninggalkan kota kecil ini.

Maka terpilihlah barang-barang yang akan ia berikan. Ia akan membelikannya sebuah kalung bunga matahari mengingat Imon adalah seorang perempuan yang suka merawat bunga cantik didepan rumahnya, juga mengingat momen mereka berempat menikmati pemandangan matahari saat tenggelam dipinggir pantai kala itu. Ia juga memberikan replika sertifikat milik Peter Parker yang ia dapatkan saat magang di Stark Industries dan mengganti nama Peter Parker menjadi Harmonia, mengingat Imon adalah perempuan yang sangat menggemari karakter Peter Parker yang sanggup bertahan dalam kehidupannya yang berat dan harus mengemban tugas sebagai Friendly Neighborhood Spider-Man yang selalu menampakkan sikap ceria.

Layaknya karakter fiksi Peter Parker, Imon juga hebat dalam bermain peran. Tak lupa ia menulis sebuah surat untuk Imon dan tentang alasannya memilih dua barang itu.
Enam hari setelah Prom telah berlalu, besok Imon sudah harus berangkat meninggalkan Kotakita untuk mengejar impiannya. Rayan yang ingin mengantarkan hadiah itu kerumah, bingung tentang bagaimana cara memberitahu itu pada Imon.

Bagaimana Tidak?
Grup chat mereka sudah sangat sepi, riwayat terakhir di grup itu adalah satu hari setelah mereka kemah, itupun hanya kiriman hasil dokumentasi mereka disana. Upik menghabiskan sisa waktunya di kota ini bersama Kina, Imon menghabiskannya bersama kawan-kawannya, sedangkan Rayan harus bersiap untuk ujian kenaikan kelas, tak ada lagi komunikasi diantara mereka.

“Sekarang atau tidak sama sekali” begitulah bunyi yang keluar dari kepalanya. Segera ia berangkat menuju rumah Imon dengan motor matic andalannya.
Didepan rumah Imon, ia mengendap-endap lalu meletakkan kotaknya didepan pintu rumahnya. Entah kenapa rasa takutnya bertemu Imon bisa begitu besar, tak bisa ia jelaskan. Ia hanya meninggalkan pesan pada Imon melalui Whatsapp bahwa ia telah meletakkan sesuatu didepan rumahnya.
Mengetahui itu, Imon bergegas mengambil benda yang ditinggalkan Rayan lalu membawanya ke kamar. Tepat setelah membuka kotak, ia menemukan kertas kecil yang bertuliskan “Maaf, gue cuma bisa kasih ini, Mon. Tanggal tua soalnya,” membaca itu Imon. Lalu ia mengenakan kalungnya dan mengisi sertifikat itu di koper untuk dipajang di kamar indekosnya nanti. Imon menyadari bahwa masih ada satu kertas lagi yang belum ia keluarkan dari kotak itu, ia membukanya dan membacanya dengan perlahan.

“Untukmu, Harmonia.
Aku tidak punya ide tentang mengapa aku harus membencimu, tapi untuk mencintaimu aku punya ribuan ide cemerlang. Aku tidak menyangka konser Sheila On 7 pada malam itu bisa mempertemukanku dengan warna cerah yang akhirnya menerangi hari-hariku, dan aku juga tidak menyangka pantai itu menjadi tempat terakhir kita bertemu.
Kamu suka Spider-Man, kan? maaf aku tidak bisa memberikanmu action figure mahal, jadi hanya sertifikat magang itu hal yang terlintas dikepalaku. Oh, ya. Kamu juga suka bunga, kan? aku berikan kalung agar bisa kau pakai dan mengingatku kemanapun kau pergi, aku memilih bunga matahari untuk mengingat momen kita menikmati senja sore itu, tapi jika kau tidak ingin mengenakannya, tidak mengapa.
Kalau kamu masih menerimaku, mari kita bertemu lagi saat usiaku sudah 27 tahun untuk membicarakan pesta meriah kita, jika kau mau sebelum 27 juga tidak mengapa. Namun, jika kamu harus lebih dulu bersanding dengan pria lain, aku harap kamu bisa mengundangku untuk mengisi slot sebagai wedding band untuk memeriahkan hari bahagiamu. Jika persandingan kita nanti terjadi (amin), semoga itu tidak menjadi nexus event yang bisa merusak algoritma semesta paralel seperti Loki dan Sylvie.

Maaf, Mon. Aku tidak pandai dalam hal merangkai kata. Aku hanya ingin kau tau bahwa aku akan terus mencintaimu dan kau akan abadi didalamku, aku hanya ingin kau tau bahwa aku akan terus melangitkan semogaku untukmu, aku ingin kau tau bahwa kepergianmu melunturi warna dalam hidupku.
Clara Harmonia, bahagiamu adalah bahagiaku, sedihmu adalah sedihku. Aku menyayangimu seutuh-utuhnya aku.
-Yang akan selalu menantimu, Rayan.”

Air mata Imon mengucur deras setelah membaca surat kecil dalam kertas sobekan buku ukuran B5 itu. Sungguh, ia tak bisa membendung cairan bening yang keluar dari matanya.
“Apapun semogamu, akan selalu aku aminkan, Yan,” ucapnya kecil dengan air mata yang masih saja belum berhenti.


Hari ini adalah hari ulang tahun Rayan yang ke 27. Untuk memeriahkan itu, ia telah menyewa sebuah gedung dan menyiapkan banyak hidangan untuk seluruh orang yang datang menghadiri pesta ulang tahunnya.
Tidak seperti pesta ulang tahun pada umumnya, yang berdiri didepan tamu kala itu tidak hanya satu orang, Harmonia bersamanya. Benar, ini adalah resepsi mereka berdua sekaligus memperingati hari ulang tahun Rayan yang ke 27.
Ia sungguh tak menyangka dikali pertama ulang tahunnya dirayakan, ia mendapatkan kado terbaik sepanjang hidupnya, Clara Harmonia.
“Mon, aku sayang kamu,” ucap Rayan sebelum mencium dahi Imon didepan khayalak manusia malam itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here