Oleh : Abd. Fattah
Pengurus Redaksional
Ketika Senyap Menjadi Bahasa yang Menyakitkan
Malam turun perlahan seperti tirai tipis yang menutup panggung kenangan. Di beranda rumah kayu tua itu, Madika duduk sendirian, memegang cangkir yang sejak tadi tak disentuh. Aroma kopi sudah hilang, berubah menjadi sisa kehangatan yang tak mampu menguatkan dadanya.
Sejak pertemuan terakhir dengan Nuwairah, ada sesuatu yang retak halus dalam dirinya—seperti kaca yang pecah tanpa suara.
Nuwairah saat itu tersenyum, tapi senyum yang tak lagi seutuh dulu. Madika hafal benar setiap gerak alisnya, setiap perubahan pada sorot matanya, dan ia tahu… ada jarak baru yang tiba-tiba tumbuh di antara mereka.
Malam itu ia masih mengingat kata-kata Nuwairah:
“Kita bicara lagi besok, ya. Ada sesuatu yang ingin aku jelaskan…”
Kalimat sederhana, namun nadanya seperti seseorang yang akan pergi.
Madika mencoba membunuh kecemasan dengan berpikir bahwa semua hanya prasangka. Namun hatinya tak bisa diajak berbohong. Ada tanda-tanda yang selama ini ia abaikan: pesan Nuwairah yang makin pendek, tatapannya yang sering hilang ke arah lain, dan keheningan yang terlalu sering jatuh di antara mereka.
Hingga malam itu, suara motor berhenti di depan rumahnya. Madika terlonjak. Ia kira Nuwairah datang.
Ternyata bukan.
Itu Arman.
Adik kelasnya yang dulu sering ia lihat bersama uwa sebelum perlahan hilang dari lingkaran, entah karena kesibukan atau karena memilih menjauh.
“Dik,” sapanya pelan. Suaranya tenang, tapi menyimpan sebuah rahasia.
Madika menatapnya penuh tanya. Arman menelan ludah, lalu berkata lirih,
“Aku rasa… kau harus siap dengan apa pun yang akan Nuwairah katakan besok.”
Hati Madika mencelos.
“Apa maksudmu, Man?”
Arman tidak langsung menjawab. Ia menatap langit malam, lalu menurunkan pandangannya perlahan.
“Aku tidak ingin menjadi orang yang merusak apa pun. Tapi… aku rasa kau harus tahu kalau Nuwairah banyak bercerita padaku akhir-akhir ini.”
Madika membeku.
Arman melanjutkan, lebih perlahan,
“Dia bilang… dia sedang mencoba memahami perasaannya sendiri.”
Malam seperti berhenti bergerak. Udara menipis. Napas Madika tercekat.
“Aku tahu kau mencintainya, Dik… tapi kamu juga harus siap kalau dia memilih jalan yang tidak kamu duga.”
Madika mengepal tangan. “Kau tahu sesuatu… dan kau tidak mau mengatakannya.”
Arman tidak menjawab. Diamnya adalah jawaban.
Dan pada keheningan itu, Madika tiba-tiba sadar bahwa plot hidupnya mungkin akan berubah arah—dan ia tidak siap sama sekali.
________________________________________ Pilihan yang Tak Pernah Dibayangkan
Nuwairah berdiri di bawah pohon flamboyan yang mulai merontokkan bunganya. Pagi itu cerah, tetapi wajahnya tampak memikul hujan yang tak terlihat. Gaunnya yang sederhana bergerak lembut tertiup angin, namun langkahnya tetap, seolah setiap pijakan adalah keputusan yang berat.
Madika menghampirinya dengan hati yang bergetar.
“Uwaa… ada apa sebenarnya?”
Nuwairah mengangkat wajahnya, dan mata mereka bertemu, dua semesta yang dulu selaras, kini berdiri berseberangan.
“Madika…” suaranya pelan, seperti seseorang yang memohon maaf sebelum mengatakan kebenaran yang pahit. “Aku sudah terlalu lama membuatmu menunggu.”
Madika menahan napas.
“Aku pikir… aku akan menemukan diriku di sampingmu. Aku pikir denganmu, aku akan mengenal cinta tanpa ragu…” Ia tersenyum getir. “Tapi ternyata aku malah hidup dalam kebingungan.”
Madika ingin memotong, tapi Nuwairah mengangkat tangan. “Biarkan aku lanjut.”
Angin berhenti seakan ingin mendengar.
“Aku bertemu Arman lagi beberapa bulan lalu. Awalnya hanya bicara sebentar, lalu jadi sering curhat. Tanpa kusadari… aku menemukan tenang yang selama ini hilang.”
Madika merasakan jantungnya seperti diremas.
“Dan aku benci pada diriku sendiri karena merasa begitu,” lanjut Nuwairah. “Aku takut menyakitimu, tapi aku juga tidak bisa berbohong tentang apa yang kurasakan.”
Madika menggigit bibir. “Jadi itu yang ingin kau katakan? Bahwa kau memilihnya?”
Nuwairah menunduk, air mata menetes perlahan.
“Aku memilih Arman bukan karena aku tidak menghargaimu. Tapi karena… hatiku ternyata berjalan ke arahnya.”
Kata-kata itu menghantam dada Madika seperti badai.
Ia tidak marah. Tidak memaki. Hanya menatap Nuwairah dengan mata yang menyimpan seluruh pecahan cinta yang pernah ia bangun.
“Apa aku tidak cukup?” tanyanya lirih.
Nuwairah menangis makin keras. “Kau selalu cukup, Madika… hanya saja hatiku tidak tinggal di tempat yang seharusnya.”
Hening memeluk mereka.
Arman datang beberapa menit kemudian, berdiri di kejauhan, tampak gelisah dan salah tingkah. Ia seperti seseorang yang tidak tahu bagaimana menjadi pemenang dari sesuatu yang terasa seperti kehilangan.
Madika memandang mereka berdua. Lalu ia melepaskan napas panjang.
“Kalau itu pilihanmu,” katanya akhirnya, “aku tidak akan memaksa.”
Nuwairah terisak, mencoba meraih tangannya, tapi Madika mundur selangkah. Ia tersenyum, senyum yang benar-benar sakit.
“Aku hanya berharap… kamu bahagia. Meski bukan denganku.”
Dan dengan itu, Madika melangkah pergi,membiarkan angin mengambil jejaknya. Di belakangnya, Nuwairah menangis keras, dan Arman menunduk dalam rasa bersalah yang panjang.
Hari itu, kisah cinta yang mereka bangun runtuh.
Namun di balik runtuhnya, tumbuh kisah baru entah kisah penyembuhan, atau kisah kehilangan yang panjang.
Yang jelas, hati Madika kini belajar satu hal:
Bahwa tidak semua cinta harus dimiliki.
Beberapa hanya untuk dipahami, dilepas, dan dikenang
Bersambung …







