Oleh : Abd. Fattah
Pengurus Redaksional
Jejak yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
Langit petang memerah seperti hati yang sedang berusaha menciptakan remang untuk menyembunyikan luka. Jalan setapak yang dilalui Madika sore itu masih basah oleh hujan singkat; dedaunan mengilap, udara dingin menusuk, dan embusan angin membawa aroma tanah yang seperti mengingatkan bahwa segala yang tumbuh pun bisa runtuh tiba-tiba.
Madika berjalan tanpa tujuan, seperti seseorang yang tidak tahu kemana harus menyimpan hatinya. Sejak pertemuan pagi tadi, sejak kata-kata itu keluar dari bibir Nuwairah dan menghantam dirinya tanpa peringatan, dunia serasa tak lagi berada pada poros semestinya.
Ia berhenti di jembatan tua yang membelah sungai kecil tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Tempat Nuwairah pernah bersandar di bahunya, tertawa karena hal-hal sepele, mengulang-ulang cerita masa kecilnya hingga senja berubah gelap. Kini jembatan itu hanya saksi yang bisu, tak sanggup menjadi penghubung apa pun lagi.
“Sepertinya aku memang harus kehilangan agar mengerti,” gumamnya lirih.
Angin mengusap wajahnya, seperti seseorang yang datang memberi penghiburan tanpa suara.
Namun tepat saat ia menghela napas, seseorang berdiri di ujung jembatan, seseorang yang tidak ia duga sama sekali.
Arman.
Lelaki yang menjadi pusat badai. Lelaki yang tiba-tiba hadir kembali dalam hidup Nuwairah dan mengubah jalan cerita.
“Madik…” suara Arman terdengar ragu, seperti seseorang yang tahu bahwa kehadirannya bisa menambah sakit.
Madika tidak menjawab. Pandangannya tetap lurus ke air sungai.
Arman melangkah pelan. “Aku… aku ingin menjelaskan.”
“Tidak perlu,” potong Madika tanpa menoleh. “Aku sudah mendengar semuanya.”
“Tapi tidak semuanya.”
Kali ini Madika menoleh. Ada sesuatu pada raut Arman yang membuatnya berhenti bernapas sejenak bukan karena marah, melainkan karena ada sesal yang sangat dalam di mata lelaki itu.
“Aku tidak pernah bermaksud menjadi alasan kau terluka… atau alasan Nuwairah bimbang,” kata Arman.
Madika tertawa pendek, getir. “Tapi itu terjadi.”
Arman mengangguk lemah. “Iya. Tapi ada hal yang belum kau tahu.”
Ia menelan ludah, sebelum akhirnya berkata:
“Awalnya aku hanya ingin menolong Nuwairah. Dia sedang menghadapi sesuatu yang tidak ia ceritakan padamu… sesuatu yang ia pikir akan membebanimu.”
Madika mengernyit. “Sesuatu apa?”
Arman menurunkan pandangannya. “Ayahnya sakit, Madik. Paru-paru kronis. Mereka butuh biaya besar. Nuwairah bekerja tambahan diam-diam, tapi tetap tidak cukup. Dia malu mengatakan padamu karena tahu kamu juga sedang membantu keluargamu sendiri.”
Madika membeku.
Angin tiba-tiba terasa berhenti.
“Dia tidak ingin kau merasa bersalah kalau kau tidak bisa ikut menanggung bebannya. Dia memilih cerita itu padaku karena kebetulan… aku punya akses bantuan lewat komunitas sosial yang kuikuti. Itu saja. Tidak ada hal lain pada awalnya.”
Hati Madika mencelos pelan, tenggelam seperti batu yang jatuh ke air.
Arman melanjutkan, “Tapi selama proses itu… kalian berdua menjauh. Nuwairah makin takut terbuka. Dan aku, aku salah karena tidak menjaga jarak. Aku pikir dia hanya butuh teman bicara.” Ia mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Sampai akhirnya… dia mulai merasa tenang kalau cerita sama aku. Itu yang membuatnya makin bingung. Dan aku makin merasa bersalah.”
Madika terdiam lama. “Jadi dia memilihmu karena… dia lelah?”
Arman menggeleng. “Dia belum memilih siapa pun saat datang padaku kemarin. Dia hanya ingin jujur bahwa hatinya retak menjadi dua. Dan sebelum dia memutuskan ke mana serpihannya akan jatuh… ia merasa harus mengatakan kebenaran padamu.”
Madika menatap Arman dengan mata yang buram oleh air yang ditahannya. “Lalu sekarang? Dia memilihmu?”
Arman menggeleng lebih tegas. “Tidak. Justru itu… dia pergi.”
Jantung Madika berhenti berdetak.
“Apa maksudmu?”
Arman menghela napas panjang, berat, seperti menarik seluruh dunia sebelum mengembusnya lagi.
“Sebelum aku mencarimu tadi… Nuwairah bilang dia butuh waktu sendirian. Dia ingin pergi sejenak, ke kota tempat bibinya tinggal. Dia bilang… dia tidak ingin membawa salah satu dari kita sebagai alasan perginya.”
Sejenak dunia menjadi sunyi. Bahkan burung-burung di pohon seperti ikut diam.
“Dia… pergi?” Madika hampir berbisik.
Arman mengangguk. “Untuk menata diri. Dia bilang… kalau ia bertahan di sini, ia akan terus diliputi rasa bersalah kepada kalian berdua.”
Madika memejamkan mata. Ada perih tapi perih yang berbeda dari sebelumnya. Perih yang tidak lagi terarah pada pengkhianatan, tetapi pada kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang dihadapi Nuwairah.
Ia terasa bodoh. Terlalu yakin bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang terbuka. Padahal cinta tidak pernah otomatis membuat seseorang berani membagi beban yang paling gelap.
“Aku yang salah…” gumam Madika.
“Tidak,” potong Arman cepat. “Kalian berdua mencoba bertahan dengan cara masing-masing. Hanya saja caranya berbeda.”
Hening kembali turun, kali ini lebih lembut.
Setelah beberapa menit, Arman berkata lirih, “Aku berencana menyusulnya beberapa hari lagi. Bukan untuk menggantikan siapa pun, tapi untuk memastikan ia tidak sendirian. Tapi kalau kau mau—kau bisa lebih dulu menemuinya.”
Madika menatap Arman. Ada kejujuran dalam sorotnya. Bukan rival yang berdiri di hadapannya, tapi seseorang yang juga terluka dalam kisah yang sama.
“Kau sungguh mencintainya?” tanya Madika.
Arman terdiam lama.
“Aku tidak tahu apakah itu cinta atau hanya rasa ingin melindungi seseorang yang rapuh,” jawabnya. “Tapi aku tahu… kalau dia memilihmu, aku akan mundur. Begitu pula sebaliknya.”
Madika mengangguk pelan. “Terima kasih… untuk kejujuranmu.”
Keduanya kembali diam. Dua lelaki yang sama-sama mencintai perempuan yang sama, tetapi kini berdiri bukan sebagai musuh melainkan sebagai dua hati yang tersesat di simpang yang sama.
***
Malam turun perlahan. Langit gelap, tapi bintang bertaburan seperti puing-puing harapan yang belum sepenuhnya padam.
Madika duduk di kamar lamanya, lampu meja menyala temaram. Di depannya tergeletak kotak kayu kecil milik Nuwairah, yang pernah diberikan kepadanya setahun lalu. Ia belum pernah membukanya sejak saat itu karena Nuwairah bilang kotak itu boleh dibuka “nanti, pada waktu yang tepat.”
Entah kenapa malam itu ia merasa waktunya telah datang.
Dengan tangan bergetar, ia membuka kotak itu.
Ada selembar kertas lipat kecil dan sebuah liontin berbentuk daun.
Ia mengambil kertas itu. Tulisan tangan Nuwairah yang rapi menyapanya.
“Madika.
Jika suatu hari aku tidak cukup berani menjelaskan apa yang kurasakan,
bukalah kotak ini.
Di dalamnya ada hal yang tidak pernah sempat kukatakan…”
Madika menelan ludah. Lalu melanjutkan membaca.
“…Aku pernah mencintaimu.
Bukan cinta yang meledak seperti kembang api,
tapi cinta yang tumbuh diam-diam
seperti embun yang muncul tanpa pernah direncanakan.”
Tangannya bergetar. Napasnya patah.
“Tapi aku juga takut.
Takut tentang masa depan.
Takut dengan semua yang belum selesai dalam diriku.
Dan ketakutanku membuatku menyimpan luka sendirian
sampai aku tidak tahu lagi di mana rumah untuk hatiku.”
Air mata jatuh di pipinya.
“Kalau suatu hari aku pergi…
itu bukan karena kau kurang,
tapi karena aku belum cukup untuk diriku sendiri.
Tapi percayalah, Madika…
tidak ada langkahku yang benar-benar pergi darimu.
Di suatu tempat dalam diriku,
namamu tetap tinggal.”
Madika menutup kertas itu di dada, menahan isak.
Perih itu berubah bentuk. Tidak lagi tajam seperti luka yang baru, melainkan seperti sayatan lama yang perlahan mengering. Ada lega dan sakit yang berjalan beriringan.
***
Keesokan paginya, Madika mengambil keputusan.
Ia tidak pergi menyusul Nuwairah. Bukan karena ia menyerah tetapi karena untuk pertama kalinya… ia menghormati pilihan Nuwairah untuk menata dirinya sendiri.
Ia menulis surat. Panjang, jujur, dan penuh rasa yang selama ini tak sempat ia ucapkan. Surat yang ia titipkan pada Arman.
Sebelum Arman berangkat, mereka bertemu di depan rumah.
“Ini,” kata Madika sembari menyerahkan amplop putih. “Tolong berikan padanya ketika ia sudah siap membacanya.”
Arman menerima amplop itu dengan hati-hati, seolah memegang sesuatu yang rapuh.
“Kau yakin tidak ingin ikut?” tanyanya pelan.
Madika tersenyum, senyum yang tidak lagi getir, tapi berlapis ketegaran baru.
“Tidak semua pertemuan harus dikejar,” jawabnya. “Sebagian harus dibiarkan menemukan jalannya sendiri.”
Arman mengangguk. “Kalau begitu… aku akan menjaga jarak dan memastikan ia baik-baik saja.”
Madika menepuk bahunya. “Jaga dia—bukan untuk memiliknya, tapi untuk membiarkannya pulih.”
Arman tersenyum samar. “Aku mengerti.”
________________________________________
Hari-hari berlalu. Musim berganti membawa kesunyian yang lebih lembut. Madika perlahan menata hidupnya kembali: kembali menulis, kembali membantu keluarganya, kembali menjadi dirinya sendiri, perlahan tanpa tergesa.
Sampai suatu sore, beberapa minggu kemudian, sebuah surat datang. Tidak ada nama pengirim, hanya inisial kecil di sudut kiri bawah:
U.
Tangan Madika bergetar saat membukanya.
“Madika…
Aku sudah membaca suratmu.
Terima kasih karena tidak menyusulku,
karena kehadiranmu di saat aku belum utuh
akan membuatku semakin ingin berlari.”
Madika tersenyum pahit dan manis sekaligus.
“Untuk Arman…
aku sudah mengucapkan padanya
bahwa hatiku tidak memilih siapa pun saat ini.
Dulu aku pikir aku telah memilih,
tapi ternyata aku hanya mencari tempat paling tenang
untuk menyembuhkan diri.”
Madika berhenti membaca sejenak, dada hangat dan perih di waktu bersamaan.
“Aku tidak tahu kapan kembali.
Tapi ketika aku kembali,
jangan menungguku dengan harapan apa pun.
Cukuplah menungguku sebagai seseorang yang pernah memelukmu
dengan sepenuh ketulusan
meski akhirnya melepaskan.”
Sebuah air mata jatuh.
“Aku mencintaimu.
Bukan sebagai tujuan,
tapi sebagai perjalanan yang mengajariku
bahwa cinta tidak harus memiliki
untuk tetap tinggal sebagai cahaya.”
Di akhir surat, ada satu kalimat pendek yang terasa seperti nafas terakhir dari semua yang belum terselesaikan.
“Jika suatu hari takdir mempertemukan kita lagi,
biarlah kita datang sebagai dua hati yang telah sembuh.”
Madika menutup surat itu perlahan.
Di wajahnya mengalir senyum yang akhirnya benar-benar tulus.
Ia tahu hubungan mereka tidak berakhir sebagai kisah cinta yang bersatu. Tidak juga berakhir sebagai perpisahan pahit. Cerita mereka berakhir sebagai sesuatu yang lebih halus: dua hati yang saling mencintai, tetapi memilih untuk sembuh terlebih dahulu.
Dan sesekali, ketika angin berembus dari arah utara, Madika merasa ada jejak Nuwairah yang lewat dalam diam, bukan untuk kembali, tapi untuk mengingatkan bahwa beberapa cinta memang tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hanya berubah bentuk, tinggal sebagai cahaya yang lembut di sudut hati.
Dan itu… sudah cukup.
Selesai.







