Oleh: Diana Kustini
Wartawan Magang
Tanggal 17 Desember 2022 menjadi hari paling kelam dalam kehidupan Luna. Pada hari itu, ia kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi figur utama dan penopang keluarganya. Sejak saat itu, ia merasa pondasi keluarganya runtuh. Ayah adalah tulang punggung keluarga, pelindung, sekaligus sumber kasih sayang yang tak tergantikan. Ia merupakan pribadi yang tegas, pekerja keras, penuh tanggung jawab, dan selalu mengutamakan keluarga. Sosok itulah yang sangat dikagumi Luna.
Sore itu, ketika masih berada di sekolah, Luna dijemput oleh kakaknya. Langit tampak mendung, seolah turut merasakan duka. Kakaknya berlari menaiki tangga menuju kelas Luna yang berada di lantai dua. Wajahnya tampak panik dan dipenuhi kecemasan. Tanpa berpikir panjang, firasat buruk menyergap Luna. Ia berlari keluar kelas tanpa berpamitan kepada guru dan bahkan meninggalkan tasnya. Air matanya mengalir tanpa mampu dibendung, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang menyesakkan.
Sesampainya di rumah, Luna menaiki tangga dengan langkah tergesa. Belum genap beberapa anak tangga dilewati, ia melihat wajah ibunya yang pucat, penuh kecemasan, dan sarat kesedihan. Seketika, hatinya terasa runtuh. Dengan langkah limbung ia berlari menghampiri tubuh ayahnya yang terbaring kaku, lalu memeluknya erat sambil berteriak lirih penuh pilu,
“Ayah, bangunlah Yah…..”
Tangisnya pecah seketika. Dadanya terasa sesak, seolah kehilangan arah. Meski ia menyadari bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian, kenyataan itu tetap terlalu sulit untuk diterima, terlebih untuk pertama kalinya ia harus kehilangan sosok yang begitu dicintainya.
Tak lama kemudian, para tetangga berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa. Ayah meninggal dunia akibat penyakit stroke yang telah dideritanya selama lebih dari sebulan. Dalam kesedihan yang mendalam, Luna sempat berusaha menenangkan diri dengan berpikir bahwa kini ayahnya tidak lagi menahan rasa sakit. Namun, kesadaran itu tidak serta-merta mampu menghapus rasa kehilangan yang menggerogoti hatinya.
Setelah prosesi pemandian dan pengkafanan selesai, bibi mereka meminta seluruh anak almarhum untuk mencium wajah ayah untuk terakhir kalinya, dengan pesan agar tidak meneteskan air mata pada tubuh beliau. Dengan perasaan yang berat, mereka berusaha menahan tangis. Ketika Luna mencium kening ayahnya, ia merasakan dunia seolah berhenti berputar. Ia memandang ibunya yang menangis tersedu-sedu. Puluhan tahun mereka mengarungi kehidupan bersama, dan kini ibunya harus melanjutkan hidup tanpa pendamping.
Ketika tubuh ayah ditutupi kain kafan, Luna tak kuasa menatapnya. Ia memalingkan wajahnya. Saat azan dikumandangkan dari masjid, barulah ia benar-benar menyadari bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya. Isak tangis kakak-kakaknya terdengar sejak dini hari. Mereka adalah saksi detik-detik terakhir ayah bersama ibu.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan suasana yang sangat mengharukan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Luna benar-benar merasakan kehilangan yang begitu dalam. Kakak pertamanya mengumandangkan azan ketika jasad ayah dimasukkan ke liang lahat. Tangisan keluarga pun pecah, sementara Luna hanya mampu terdiam, membiarkan air mata jatuh tanpa suara.
Ketika semua pelayat mulai meninggalkan area makam, Luna dan keluarganya tetap tinggal bersama paman mereka. Mereka duduk melingkar di sekitar makam untuk memanjatkan doa terakhir. Kakak keduanya terus terisak tanpa henti. Dengan suara lirih dan nada yang sarat kelelahan, ibu berkata,
“Sudahlah, Nak. Jangan terus menangis. Biarlah ayah kalian tenang di alamnya.”
Sesuai amanat tetangga, mereka menunggu di makam selama setengah jam sebelum akhirnya pulang. Dalam perjalanan, Luna menangis di atas sepeda motor sambil memeluk ibunya erat. Suara sirene ambulans yang melintas terdengar bagaikan irama perpisahan. Kenangan tentang ayah kembali berputar dalam benaknya tawa, nasihat, kebersamaan, dan kasih sayang yang kini hanya tinggal kenangan.
Seandainya Luna diberi satu kesempatan untuk berbicara kembali dengan ayahnya, Luna ingin berkata,
“Ayah, terima kasih atas segala cinta dan pengorbananmu. Maafkan aku karena belum sempat membuat Ayah bangga. Maaf atas segala kesalahan yang pernah kulakukan. Terima kasih karena telah menyayangiku, merawatku, dan membesarkanku bersama Ibu. Aku rindu, Ayah. Aku menyayangimu selamanya.”







