Home OPINI Lingkungan Pesantren : Membangun karakter atau Mengikis Kesehatan Mental?

Lingkungan Pesantren : Membangun karakter atau Mengikis Kesehatan Mental?

84
0

Olehh : Intan Nur Aini
Wartawan Magang

Pondok pesantren yang dikenal dengan lingkungan Islami yang dapat membangun karakter santri menjadi lebih baik dan mempunyai spiritual yang tinggi. Namun kenyataannya banyak sekali santri yang mengalami pelecehan seksual, perundungan, hingga kesehatan mental mereka sangat terganggu. Senioritas yang berada di pesantren membuat budaya perundungan dilakukan terus menerus di lingkungan pesantren. Pesantren yang seharusnya menjadi wadah seorang anak untuk berkembang, membangun karakter yang baik, justru menjadi tempat utama kerusakan mental dan karakter anak tersebut. Harapan orang tua yang sangat tinggi justru terbangkalai begitu saja karena lingkungan pesantren yang sangat toxic.

Tak semua pondok pesantren mempunyai lingkungan seperti itu. Namun, banyaknya kasus mengenai pelecehan seksual, perundungan, bahkan kematian yang terjadi di pesantren karena perundungan yang di alami oleh santri tersebut. Perundungan yang sering terjadi seperti mengejek, mengancam, merendahkan, mengucilkan, menyebar gosip, meremehkan memanipulasi, memukul, dan mendorong. Bahkan pelecehan sering terjadi, banyaknya santri yang mengalami pelecehan seksual hingga mental healthnya terganggu.

Ustadz yang dikenal sebagai panutan seorang santri pun menjadi faktor utama terjadinya pelecehan seksual. Seperti kasus yang masih sangat hangat ini, seorang lora yakni anak dari kyai yang berada di Bangkalan, mencabuli dan melakukan pelecehan seksual kepada santriwati. Bahkan korban lebih dari satu. Hal tersebut semakin menekankan bahwa lingkungan di pondok pesantren tidak sepenuhnya sehat, justru menjadi pusat utama kerusakan mental santri tersebut.

Tak hanya santriwati, santriwan juga mengalami perundungan secara nonverbal, hanya perkara sepele santri tersebut terkena kekerasan dari seniornya. Kekerasan yang dilakukan tak hanya membuat sekujur badan luka, namun mental santri tersebut jadi terganggu. Kekerasan terus terjadi hingga santri yang di rundung meninggal dunia.

Kurangnya kebijakan yang baik oleh pihak pengasuh, membuat budaya senioritas di pondok pesantren terus dibudayakan hingga saat ini. Banyaknya korban perundungan hingga meninggal dunia, gangguan mental, bahkan ada yang sampai hamil.

Hal yang perlu di lakukan pihak pesantren yakni menambahkan anti bully dan anti pelecehan di kurikulum pondok pesantren, sehingga kejadian kejadian seperti perundungan dan pelecehan seksual tidak terjadi di lingkungan pesantren. Budaya senioritas juga dapat di hilangkan secara perlahan jika kurikulum tersebut dapat di terapkan. Seperti pondok pesantren yang berada di Surakarta, Pondok Pesantren Al Muayyad yang telah menerapkan tanpa perundungan dan kekerasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here