Home CERPEN 1000 Mimpi Untuk Putra Tidur

1000 Mimpi Untuk Putra Tidur

122
0

Oleh : Intan Nur Aini
Wartawan Magang

Bel pergantian jam pelajaran berbunyi, menandakan pergantian mata pelajaran, namun untuk kelas dua belas mereka di bebaskan, mereka di suruh untuk membuat akun pendaftaran kuliah.
Di kelas yang sangat amat ramai karena kebingungan mereka dalam membuat akun, seluruh siswa di kelasnya sibuk membuka portal pendafataran kuliah untuk membuat akun, sedangkan Akhil dibangku paling belakang ia sedang meneliti tekstur bantalnya dengan penuh kesungguhan.

“Bantal adalah tempat refleksi terbaik untukku dimanapun dan kapanpun.” Itu adalah kata kata yang selalu diucapkan akhil.

Akhil merupakan siswa kelas 12 MIPA yang terkenal santai, punya prinsip hidup yang sederhana: tidur adalah solusi segala keresahan. Ketika guru BK bertanya soal rencana kuliah, ia menjawab dengan mantap,

“Saya sudah punya tujuan, Bu yaitu ingin jadi Putra Tidur Indonesia. Kalau ada Putra Mahkota yang memimpin kerajaan, maka saya akan memimpin dunia mimpi.”

Teman-temannya tertawa. Gurunya menghela napas panjang, gurunya hanya menyayangkan nilai nilai akhil yang rata rata nya bagus, karena akhil murid yang rajin mengerjakan tugas dan pandai walaupun dia terlihat seperti tidak peduli dengan segala hal.

Suatu hari saat di rumah, ibunya menatapnya sambil melipat pakaian.

“Kamu itu mau sampai kapan tidur dan bersantai terus, Khil? Teman temanmu sudah mempunyai kampus yang mereka incar loh, kamu sudah ada atau belum?.”

Akhil melirik malas. “Belum ada, lagian buat apa kuliah, Bu? Aku ini sudah mapan, tiap hari makan, tidur, kadang mikir-.”

Ibunya menghela napas dalam, memotong ucapan akhil sambil menggelengkan kepalanya.

“Mikir apa kamu? Coba kamu lihat kaka kamu, dia kuliah di uin dan dia akhirnya bisa menjadi orang yang mandiri, jangan terus menerus berdiam diri di kasurmu khil…..ibu juga sudah tua.. ibu dan ayah ingin lihat kamu sukses…”

Akhil mencoba menolak, tapi ibunya sudah menatap dengan ekspresi yang tidak bisa dilawan tatapan klasik seorang ibu yang bisa meluluhkan tembok baja sekalipun. Ucapan ibunya terus menerus terputar di kepalanya, orang tuanya ingin dia sukses tapi dia masih membiarkan dirinya bermalasan di atas Kasur.

Akhirnya, dengan banyak pertimbangan di kepala dan akhil juga tidak ingin mengecewakan harapan ibunya, akhil mendaftar di uin datokarama melalui jalur SPAN PTKIN.
Setelah makan malam, akhil mendekati ibu ku, menanyakan kira kira jurusan apa yang akan ia ambil karena dia sendiri belum mempunyai pandangan yang jauh tentang jurusan yang ingin akan ia ambil.

“Jurusan apa, Bu?” tanyanya asal.

“Ambil saja Tadris Matematika. Cocok dengan jurusanmu di sekolah.”

Akhil menatap kosong layar laptop, Tadris Matematika? Apakah ibunya serius dengan apa yang dikatakan nya?. Dalam kepalaku, angka-angka berlari-lari seperti pasukan semut.

“Matematika? Aku bahkan mimpi pun dihantui soal algoritma, Bu.”

Akhil protes tapi ia tetap mencantumkan nya di pilihan pertama, ia hanya bisa menghela nafas dan pasrah jika ia diterima di jurusan tersebut.

Beberapa minggu kemudian, hasil seleksi diumumkan dan ibunya yang paling bersemangat untuk pengumuman ini.

Ibunya berteriak dari ruang tamu,

“Khil! Kamu lulus! Jalur rapor!”

Akhil hampir menjatuhkan ponselnya.

“Lulus? Di mana?”

“UIN Datokarama. Jurusan Tadris Matematika!”

Suara ibunya penuh haru, sangat senang karena putra nya lulus di jalur rapor, tapi Akhil malah bengong dia tidak menyangka bahwa dia diterima di kampus yang sama sekali tidak ia rencakan dengan jurusan yang sangat keramat baginya.

“Matematika lagi? takdir sepertinya sedang bercanda denganku.”

Namun di balik kelucuan dan keluhannya, terselip rasa aneh semacam campuran bangga dan takut. Ia tidak punya mimpi besar, tapi mungkin inilah kesempatan yang selama ini tidak pernah ia cari.

Dan dari situlah dia mulai berkembang, dia mulai merubah dirinya agar tidak mengecewakan orang tua yang mempunyai harapan besar kepadanya. Dia mulai tekun dalam belajar, mengikuti beberapa lomba dan sejak hari itu dia mempunyai mimpi yang sebenarnya yang perlahan tercapai dengan usahanya.

SELESAI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here