Oleh : Haura Hafidzah
Wartawan Magang
Di sebuah desa kecil, disana tinggallah sepasang suami istri yang bernama Pak Budi dan Bu Siti, dan anak tunggal mereka bernama Rian.
Keluarga itu hidup sangat sederhana. Pak Budi bekerja keras di sawah, dan Bu Siti menerima jahitan. Mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak mereka.
Sayangnya, Rian adalah anak yang nakal. Ia suka membantah dan sering membuat ulah di sekolah dan selalu mengeluh karna kehidupannya tidak seperti teman-temannya.
“Kenapa kita tidak punya motor bagus seperti teman-teman yang lain? Baju ini jelek! Makanan ini membosankan!” keluhannya hampir setiap hari.
Pak Budi dan Bu Siti hanya bisa tersenyum sedih. “Syukuri apa yang kita punya, yang penting kita masih sehat,” kata Bu Siti lembut, walau hatinya sakit.
Rian tak pernah peduli. Ia menganggap kebaikan orang tuanya sebagai hal biasa. Ia tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Ia lebih suka bermain dengan teman-temannya dan pulang hingga larut malam.
Suatu malam, hujan turun sangat deras, ibunya khawatir terjadi sesuatu kepada Rian
“Pak hujannya sangat deras ibu khawatir terjadi sesuatu pada Rian,”ucap ibunya sambil mengelus dada.
Pak Budi menjawab, “iya bapak akan pergi mencarinya sekarang.”
Bu Siti menahannaya. “Jangan sekarang, Pak. Hujannya terlalu lebat.”
Tapi pak Budi tetap pergi. Ia tersenyum, “Tidak apa, Bu. Sebentar saja.”
Itu adalah kata-kata terakhir Pak Budi.
Beberapa menit kemudian, ada suara keras. Saat ingin menuruni tangga Pak Budi tergelincir dan terjatuh, kepalanya membentur batu. Bu Siti menjerit dan segera berlari.
Rian melihat itu. Ia berlari menuju ayahnya dan berteriak, “ayaaaaaaaahhhhhh,”.
ayahnya pingsan dan segera dilarikan ke puskesmas, tapi nyawanya tidak tertolong. Hati Rian hancur berkeping-keping. Ayah yang selalu ia keluhkan, Ayah yang selalu ia anggap biasa saja, kini tiada.
Setelah kepergian Pak Budi, Bu Siti menjadi sangat lemah. Ia sakit-sakitan karena terlalu banyak bekerja dan sedih. Rian, yang sekarang harus menjaga ibunya sendiri, mulai melihat betapa besarnya pengorbanan kedua orang tuanya.
Ia ingat setiap senyum lelah Ayahnya. Ia ingat setiap pakaian yang dijahit Ibunya untuknya, meski hanya menggunakan lampu kecil.
Suatu hari, saat Rian menyuapi Bu Siti bubur, Bu Siti memegang tangan Rian yang kasar. “Rian, janji pada Ibu, jadilah orang yang baik. Jangan pernah berhenti bersyukur. Ayahmu ingin kamu bahagia.”
Seminggu kemudian, Bu Siti menyusul Pak Budi.
Rian sendirian. Ia terduduk di lantai rumah kayu itu, menangis menjadi-jadinya. Bukan karena kehilangan harta, tapi karena kehilangan waktu. Ia kehilangan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih, untuk mengatakan “Aku sayang Ayah, Aku sayang Ibu,” tanpa keluhan.
Penyesalan itu seperti api yang membakar hatinya.
Sejak saat itu, Rian berubah total. Ia belajar dengan giat. Ia berhenti mengeluh. Ia bekerja keras dan selalu membantu tetangga yang kesusahan. Ia sering memberikan makanan kepada anak-anak jalanan.
Setiap kali ia membantu, ia merasa seolah-olah Ayah dan Ibunya tersenyum dari jauh. Ia tahu, satu-satunya cara untuk menebus kesalahannya adalah dengan menjadi cahaya bagi orang lain.
Rian tidak pernah kaya raya, tetapi ia menjadi orang yang bersyukur dan itu baginya sudah cukup. Ia tahu, kekayaan yang sebenarnya adalah memiliki hati yang baik dan menghargai orang-orang yang mencintaimu.
Ia hidup dengan satu keyakinan: Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu.







