Oleh : Miftahul Jannah
Wartawan Magang
Saat itu Miftah baru pulang sekolah. Tasnya masih menggantung di bahu ketika ia berlari memasuki halaman rumah.
“Yeey pulang! Tidak sabar mau ketemu Papa,” ujarnya riang.
Beberapa bulan terakhir, Miftah tinggal di kampung halamannya. Papanya harus menjalani pengobatan di sana, dan Miftah memilih melanjutkan sekolah di kampung agar bisa menemani ayahnya selama masa sakit.
“Assalamualaikum…” Miftah melangkah masuk.
“Waalaikumsalam,” jawab mamanya sambil tersenyum hangat.
Di dalam kamar, Papanya berbaring di atas kasur. Kakinya yang bengkak dibalut kain hangat. Melihat itu, keceriaan Miftah sedikit memudar. Ia duduk di sisi ayahnya.
“Bagaimana sekolahnya, Nak?” tanya Papanya.
“Alhamdulillah lancar, Pa… Kakinya masih sakit?” tanyanya cemas.
“Iya, masih agak nyut-nyutan sedikit,” jawab Papanya menahan perih.
“Semoga Papa cepat sembuh, ya…” harap Miftah tulus.
“Iya, Aamiin,” Papanya tersenyum tipis.
Sore itu, tiba-tiba Papanya mengerang kesakitan. Nafasnya berat dan tersengal,tangannya mencengkram kaki yang membengkak.
“Aduh ya Allah… sakit…” keluh Papa terbata-bata.
Miftah yang tertidur di sampingnya terbangun panik.
“Papa!? Papa kenapa!?”
Mamanya berlari dari dapur, wajahnya pucat.
“Ya Allah… Papa kenapa!?”
Papanya semakin sulit bernapas. Dadanya naik turun cepat.
“Kita ke rumah sakit saja, ya,” ujar Mamanya cemas.
“I-iyah…” Papanya mencoba menjawab meski suaranya hampir hilang.
“Papa tahan sebentar ya…” Miftah menggenggam tangan ayahnya yang mulai terasa dingin.
Mobil akhirnya datang. Dua omnya membantu mengangkat Papanya ke kursi tengah mobil.
“Kamu di rumah saja ya, Mif. Temani nenek. Biar Mama yang ikut,” ucap Mamanya lembut.
“Ndapapa… nanti kabari ya, Ma,” jawab Miftah mencoba kuat.
Miftah berdiri di depan pintu rumah, menatap Papanya di dalam mobil.
“Papa, cepat sembuh ya… nanti kalau Papa sembuh kita jalan-jalan,” katanya penuh harapan.
“Iya, Nak. Nanti kita jalan-jalan,” jawab Papa sambil tersenyum lemah.
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang,” ujar Omnya.
“Daaah Papa, semangat!” Miftah melambaikan tangan.
Papa membalas lambaian itu. Lambaian terakhir.
Malam itu rumah sunyi. Miftah tertidur di ruang tengah karena kelelahan.
“Nak… bangun sebentar,” bisik neneknya lirih.
Miftah bangun perlahan. Ia melihat nenek dan Omnya menatapnya dengan wajah iba.
“Mif… ikut Om ke rumah sakit, ya,” ucap Omnya.
“Sekarang? Tengah malam begini?” Miftah gelisah.
“Papa kenapa, Om? Papa ndapapa kan?”
Omnya terdiam, mencoba tersenyum.
“Ndapapa… Papa cuma mau lihat kamu.”
Miftah mengambil handphone di kamarnya. Ketika hendak keluar, ia mendengar Omnya menjawab telepon.
“Assalamualaikum, sudah dimana?” tanya seseorang di telepon.
“Waalaikumsalam… ini baru mau ke sana. Ada apa?” jawab Omnya gelisah.
Di seberang, suara itu terdengar berat.
“Pa… Papanya Miftah…”
“Kenapa?”
“Papanya Miftah… sudah ndada.”
Praang!
Handphone di tangan Miftah jatuh ke lantai. Tubuhnya membeku. Omnya menghampiri dan memegang bahunya.
“Mif… sabar ya. Ayo kita ke rumah sakit…”
Di perjalanan, air mata Miftah mengalir tanpa suara. Dadanya sesak, napasnya berat, namun ia tetap diam dengan tatapan kosong.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ia bersuara lirih.
“Om… sekarang… bagaimana dengan Miftah…? Kalau Ayah sudah ndada… Miftah harus bagaimana…?”
Om Dani menoleh sekilas, matanya berkaca-kaca.
“Om ada di sini, Nak… Tenang, ya…”
Begitu mobil berhenti, Miftah langsung berlari menuju gedung rumah sakit. Nafasnya tersengal, dadanya serasa diremas ketakutan.
“Miftah… pelan-pelan, Nak,” Omnya memanggil dari belakang.
Miftah tak mendengar. Ia terus berlari menyusuri lorong hingga tiba di depan pintu ruang perawatan.
Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu itu.
Mamanya menoleh. Matanya bengkak, wajahnya merah oleh tangis. Begitu melihat Miftah, ia segera memeluk anak bungsunya itu erat-erat.
“Miftah… sabar ya, Nak…” suara Mamanya pecah.
“Pa… Papa, Ma… Papa sudah ndasakit lagi, Ma…” ucap Miftah dengan suara bergetar.
Air matanya mengalir deras, membasahi baju Mamanya.
Tubuh kecilnya bergetar hebat. Ia meremas baju Mamanya, seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa di dunia.
Di dalam kepalanya, lambaian tangan Papanya sore tadi terus berputar berulang-ulang seolah waktu enggan membiarkannya pergi.
Di sudut ruangan, keluarga mereka hanya bisa menunduk. Mata mereka berkaca-kaca menyaksikan dua hati yang patah pada malam paling panjang dalam hidup mereka.







