Home CERPEN Kopi Jam Tiga Sore

Kopi Jam Tiga Sore

39
0

Oleh : Muhammad Jibril Paendong
Wartawan Magang

Setiap jam tiga sore, kantin pojok kampus selalu penuh. Di sanalah Nara dan Bima sering bertemu setelah kelas selesai. Mereka berbeda jurusan, berbeda karakter, tapi sama-sama sedang berjuang menghadapi kerasnya dunia perkuliahan. Hari itu, Nara datang dengan wajah lelah sambil melempar buku ke meja. “Bim, aku capek. Tugas nggak habis-habis. Rasanya otakku mau meledak,” keluhnya. Bima hanya tertawa kecil sambil menyeruput kopi hitam yang sudah mendingin.

Padahal Bima juga tidak sedang baik-baik saja. Ia baru saja gagal presentasi karena terlalu gugup. Tapi ia memilih tetap tersenyum, seolah semuanya normal. Nara memang tipe yang mudah menunjukkan keluhan, sementara Bima menyimpan segalanya dalam hati. Meski berbeda, mereka sama-sama tahu satu hal: kuliah tidak seseindah brosur promosi kampus.

Hari itu, Nara bercerita tentang keraguan besarnya. Ia merasa salah jurusan. “Aku suka desain, tapi orang tua maksa aku ambil ekonomi. Aku takut mengecewakan semua orang,” katanya lirih. Bima berhenti memutar gelasnya. “Nar, yang akan menjalani hidupmu nanti itu kamu, bukan orang lain. Kalau kamu terus hidup untuk memenuhi ekspektasi orang, kamu nggak akan pernah bahagia.” Kata-kata itu membuat Nara terdiam lama.

Di sisi lain, Bima menyimpan kecemasan berbeda. Ia sedang berjuang mengumpulkan biaya semester karena ayahnya baru saja di-PHK. Namun ia tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, bahkan pada Nara. Ia merasa harus terlihat kuat. Namun sore itu, ketika Nara bertanya, “Kamu kenapa tiba-tiba diam?” sesuatu di dalam dirinya retak. Untuk pertama kalinya, Bima berkata pelan, “Aku nggak tahu aku masih bisa bayar kuliah semester depan atau tidak.”

Nara mengangkat wajahnya, kaget sekaligus merasa bersalah karena selama ini ia hanya fokus pada dirinya sendiri. “Bim… kenapa nggak cerita dari awal?” Bima mengangkat bahu. “Semua orang punya masalah. Aku nggak mau nambahin beban kamu.” Namun Nara tidak menerima itu. “Kita teman. Teman itu bukan cuma ketawa bareng. Tapi juga nangis bareng.”

Besok sorenya, hal tak terduga terjadi. Saat Bima datang ke kantin, ia melihat brosur kegiatan bazar kreatif kampus. Di bagian bawahnya, ada tulisan kecil: “Didesain oleh Nara”. Ternyata Nara nekat mengambil kerjaan freelance untuk membantu biaya kuliah Bima. “Aku nggak bisa bantu banyak, tapi setidaknya aku bisa mulai dari sini,” kata Nara. Bima tak bisa berkata apa-apa. Kopinya saja ikut bergetar di tangannya.

Di jam tiga sore itu, mereka berdua tidak lagi membicarakan betapa beratnya kuliah, atau tugas yang tidak pernah berhenti. Mereka membicarakan tentang mimpi. Tentang harapan. Tentang keberanian menghadapi hidup meski jalannya tidak mudah. Dan di tengah hiruk pikuk kampus yang sering tidak peduli, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih penting dari nilai dan IPK: mereka menemukan bahwa persahabatan adalah tempat pulang terbaik bagi mahasiswa yang sedang berjuang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here