Home CERPEN Surat yang Tak Pernah Sampai

Surat yang Tak Pernah Sampai

80
0

Oleh: Ferdiansyah
Wartawan Magang

Namaku Pagi, seperti harapan pertama yang selalu dikhianati.
Di balik jeruji langit-langit, di mana udara pun terasa memar,
Aku merintih lewat kepakan sayap yang kau lihat di jendela.
Ini bukan kicau bebas, tapi perpisahan kami yang terpaksa.
Dulu pena ini lincah menarikan berita, bukan terkulai lemas.
Menulis pesan diam-diam, merangkai janji di atas lipatan.
Kami berbagi harap dan sembunyi di antara tumpukan pos rahasia,
Percaya bahwa kata-kata kami mampu menjangkau hati yang beku.
Lalu pengkhianatan datang bersama dinginnya metal di pelipis.
Tinta disita, alamat disensor, raga dipaksa melupakan wajah.
Pengakuan hanyalah mantra yang keluar dari bibir yang pecah,
Dan nama penerima pesan menjadi beban yang menusuk ulu hati.
Mereka mematahkan tulang belikatku, membuangku ke udara yang bejal,
Dengan sayap yang dilumuri aspal, agar penerbanganku sia-sia.
Agar aku menjadi pesan yang jatuh dan membusuk di selokan,
Gagal tanpa kabar, tanpa pelukan, tanpa balas.
Tapi mereka keliru besar.
Angkasa tak pernah tidur nyenyak.
Ia menyaksikan setiap tetes air mata yang jatuh ke bumi,
Ia menyimpan jeritanku dalam keheningan awan mendung.
Di sebuah laci kayu, selembar surat masih setengah tertulis.
Di dada seorang ibu, denyut nadi terus menghitung hari.
Kekasihku masih membaca ulang aksara lama setiap malam,
Berharap ada baris baru, meski hanya dusta.
Maka jika kau mendapati selembar kertas lusuh tersangkut di dahan,
Dekaplah erat-erat, di antara angin yang menerpa pedih.
Itu kami, yang jiwanya menolak untuk mati.
Kami adalah surat yang terus mencari penerimanya
Sampai kebenaran membebaskan kami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here