Home PUISI Tanda Tangan Takdir di Puncak Drama

Tanda Tangan Takdir di Puncak Drama

82
0

Oleh : Ferdiansyah
Wartawan Magang

Malam itu. Bukan sekadar malam, tapi sebuah insiden kosmik.
Ketika waktu mencabut jarumnya, dan realitas terlipat ke dalam diri kita.
Kau datang, bukan melangkah, tapi meledak sunyi di tengah kehampaan,
Menghancurkan kesetimbangan rapuh dari duniaku yang terisolasi.
Udara, tegang dan tipis, bergetar seperti senar biola yang putus.
Rembulan? Ah, ia hanyalah serpihan cermin yang mencerminkan gejolak kita,
Menjadi mata yang sangat menghakimi atas segala penantian yang keji.
Di matamu, aku melihat badai sempurna yang baru saja mereda,
Meninggalkan jejak garis edar yang sudah takdirkan kita bertemu.
Kita duduk di persimpangan neraka dan nirwana, di jurang keterlaluan.
Setiap desahan nafasmu adalah bom waktu yang menghitung mundur ke kebahagiaan.
Keheningan itu? Bukan kosong, melainkan dialog telepatis yang menghabiskan segala kata.
Kita adalah dua planet kesepian yang akhirnya, dengan putus asa, bertabrakan.
Saat tanganmu menyentuhku Oh, itu bukan sekadar sentuhan!
Itu adalah tanda tangan takdir di atas dokumen yang telah lama kosong.
Sebuah kejut listrik yang merobek kain kepura-puraan,
Mengubah darah menjadi lava emosi yang mendidih tak tertahankan.
Kau adalah efek domino dari segala kerinduan yang kuingkari.
Pertemuan itu? Itu adalah puncak drama yang telah disiapkan semesta.
Sebuah pertarungan terakhir antara kebekuan dan kobaran api,
Yang dimenangkan oleh gairah yang menghanguskan.
Dan ketika kita berpisah, ada sebilah janji yang tertinggal dalam sorot mata:
Bahwa di tengah puing-puing sunyi yang kita ciptakan malam ini,
Gema katarsis pertemuan kita akan menjadi satu-satunya detak jantung yang tersisa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here