Oleh: Syarifatul Awliyah Sahupala
Wartawan LPM Qalamun
Di ruang tamu,
kursi itu masih setia menunggu—
kayu tua menghafal berat tubuh
yang tak lagi pulang.
Aku belajar mengikat sepatu
pada pagi yang dingin,
tanpa telapak tangan besar
yang dulu menguatkan simpulku.
Suaramu kini tinggal gema
di dinding kalender;
tanggal-tanggal berlubang
menjadi pelajaran paling sunyi.
Ibu menutup jendela lebih awal,
angin membawa namamu
ke sela tirai
aku pura-pura tak menangis.
Ayah,
aku tumbuh dengan doa yang pincang,
namun langkahku kupahat sendiri
di bayang-bayangmu yang abadi







