Home CERPEN Yang Datang Tanpa Rencana, Pergi Tanpa Pamit

Yang Datang Tanpa Rencana, Pergi Tanpa Pamit

70
0

Oleh: Zul Syahrul Ramadhan
Wartawan Magang

Pagi itu, dapur pondok sedang ramai seperti biasa. Barisan santri mengular panjang, suara sendok dan piring beradu satu sama lain. Di tengah antrean itu, mataku tertuju pada seorang santriwati yang tampak kerepotan membawa piring dan sendoknya. Tanpa pikir panjang, aku melangkah mendekat dan membantunya mengambil makan.

Dia menoleh sejenak, menatap dengan mata teduh, lalu berkata pelan, “makasih.”
Cuma satu kata, tapi entah kenapa sejak itu, dadaku terasa berdebar tanpa alasan. Hari itu, aku sadar, ada sesuatu yang berbeda.

Sejak kejadian itu, aku mulai memperhatikannya dari jauh. Kadang waktu kami berselisih di halaman pondok, kadang saat keluar kelas, atau sesudah salat berjamaah. Tidak ada komunikasi yang berarti, tapi cukup sering untuk membuatku hafal caranya berjalan, caranya tertawa, bahkan cara dia menunduk saat malu.

Hari demi hari berlalu. Aku mulai mencari alasan agar bisa dekat dengannya—menitip salam lewat teman, pura-pura lewat depan kelasnya, kadang hanya untuk sekadar menyapa. Sampai akhirnya, entah bagaimana, kami mulai saling terbuka. Hubungan itu pun berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar teman.

Awal pacaran, semuanya terasa indah. Kami saling kirim surat kecil lewat teman, saling menyapa dari jauh, dan tertawa karena hal sepele. Dia orangnya gampang merajuk, cepat marah, tapi manis sekali kalau sudah tenang. Justru saat dia marah, aku semakin yakin—aku benar-benar menyukainya.

Tapi, seperti banyak kisah di pondok, cinta kami tidak berjalan mulus. Awalnya, ada peraturan baru dari ustadz yang melarang hubungan semacam itu. Kami sempat diminta berhenti, tapi waktu itu kami masih belum mau. Kami mencoba bertahan diam-diam, seolah dunia hanya milik kami berdua.

Sayangnya, kenyataan selalu punya cara untuk menyadarkan. Dia mulai berubah—lebih dingin, lebih jarang tersenyum. Aku bingung, lalu mencari tahu. Dari teman dekatnya, aku akhirnya tahu bahwa dia masih belum selesai dengan seseorang dari masa lalunya. Saat itu, rasanya seperti seluruh duniaku runtuh.

Kami sempat bertahan beberapa waktu, tapi akhirnya benar-benar berpisah. Alasannya sepele, tapi mungkin itu memang sudah waktunya. Aku tidak pernah marah padanya, hanya kecewa. Kecewa karena aku sudah berjuang sekuat itu, tapi tidak bisa jadi tempat terakhir untuknya.

Hari-hari setelah itu terasa berat. Aku kehilangan semangat, sulit fokus belajar, bahkan sering menangis diam-diam di malam hari. Tapi waktu berjalan, dan aku mulai belajar menerima. Aku tahu, hidup tidak berhenti hanya karena seseorang pergi.

Sekarang, sudah sepuluh bulan berlalu. Aku masih menyimpan fotonya di galeri HP. Kadang aku buka diam-diam, hanya untuk memastikan aku belum benar-benar melupakannya. Dan benar saja—rasa itu masih ada, masih sama seperti dulu, hanya saja kini lebih tenang, lebih dewasa.

Aku tidak tahu apakah takdir akan mempertemukan kami lagi. Tapi kalau pun iya, aku tidak akan meminta apa-apa. Aku hanya ingin bilang terima kasih—karena dia pernah hadir, pernah membuatku merasa hidup. Mungkin kisah ini sudah selesai baginya, tapi bagiku, ini tetap sejarah. Luka yang tidak akan aku sesali, karena dari situ aku belajar bagaimana caranya kuat, walau hati masih tetap mencintai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here