Home OPINI Pendidikan dan Kehidupan Bersosial dalam Perspektif Muhammadiyah

Pendidikan dan Kehidupan Bersosial dalam Perspektif Muhammadiyah

68
0

Oleh : Moh. Fauzan
Prodi : Pendidikan Agama Islam
Wartawan LPM Qalamun

Sampai saat ini, saya meyakini bahwa menjadi bagian dari organisasi masyarakat (ormas) Muhammadiyah adalah suatu hal yang membanggakan dan relatif. Muhammadiyah bukan lagi ormas kecil dalam masyarakat Indonesia, melainkan sebuah gerakan besar yang berperan penting dalam membentuk peradaban bangsa melalui bidang pendidikan, sosial, dan spiritual. Dari Muhammadiyah, saya belajar bahwa menjadi manusia bukan hanya tentang hidup di tataran duniawi, tetapi juga bagaimana menghidupkan nilai-nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat.

Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta, didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, dari sejarah pendiriannya, CVkita dapat melihat betapa pendidikan menjadi ruh utama dalam gerakan ini. KH. Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah dengan penuh kesederhanaan menggunakan ruang tamu rumahnya dan mengandalkan harta pribadi. Namun, semangat itu justru menjadi dasar lahirnya sistem pendidikan Islam modern di Indonesia. Sikap ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, asal disertai keikhlasan dan niat yang tulus.

Melalui semangat pembaruan (tajdid), Muhammadiyah terus berupaya menjawab tantangan zaman. Gerakan dakwahnya tidak hanya menekankan pada aspek ibadah, tetapi juga pada peran sosial masyarakat. Muhammadiyah memahami bahwa agama tidak berhenti pada ritus keagamaan semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, serta lembaga sosial yang bermanfaat bagi seluruh umat tanpa membeda-bedakan golongan.

Gerakan sosial Muhammadiyah adalah wujud nyata dari nilai-nilai Islam yang termaktub dalam Kitab suci Al-Qur’an Surah Al-Ma’un, mengajarkan bahwa keberagamaan sejati tidak hanya diukur dari seberapa rajin seseorang beribadah, tetapi juga dari seberapa peduli ia terhadap sesama, terutama fakir miskin dan anak yatim. Melalui semangat ini, Muhammadiyah telah menjadi pionir dalam bidang filantropi dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

Dari segi pendidikan, Muhammadiyah telah banyak mengubah paradigma berpikir masyarakat Indonesia. Jika dahulu pendidikan dianggap hal yang tidak penting atau hanya untuk kalangan tertentu, kini masyarakat mulai menyadari bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju kemajuan bangsa. Sekolah-sekolah Muhammadiyah hadir di berbagai pelosok negeri, membuka akses pendidikan bagi siapa saja yang ingin belajar tanpa memandang status sosial.

Namun demikian, di tengah kemajuan yang dicapai, masih ada tantangan yang dihadapi. Tidak sedikit ormas atau kelompok masyarakat yang memiliki perbedaan pandangan dengan Muhammadiyah, baik dalam hal pemikiran sosial, budaya, maupun pendekatan terhadap masyarakat. Perbedaan ini sejatinya merupakan hal wajar dalam dinamika kehidupan berbangsa. Justru di sinilah pentingnya sikap bijak dan keterbukaan untuk terus menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan keadilan sosial.

Melalui kiprahnya, Muhammadiyah mengajarkan bahwa pendidikan dan kehidupan sosial harus berjalan beriringan. Pendidikan membentuk cara berpikir, sedangkan kehidupan sosial membentuk kepekaan terhadap realitas masyarakat. Keduanya adalah fondasi untuk mewujudkan masyarakat berkemajuan masyarakat yang cerdas, berakhlak, dan berkeadilan.

Sebagai bagian dari warga Muhammadiyah, saya merasa bangga. Dari gerakan ini, saya belajar arti tanggung jawab sosial, dan semangat memperbaiki diri. Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan wadah pembelajaran yang menuntun umat untuk lebih dekat kepada Allah SWT dan meneladani Nabi Muhammad SAW dalam setiap aspek kehidupan. Melalui pendidikan dan pengabdian sosial, Muhammadiyah terus menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here