Home CERPEN Di Antara Jam yang Berhenti

Di Antara Jam yang Berhenti

46
0

Oleh : Ahmad Fauzi
Jurusan : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Wartawan LPM Qalamun

Jam dinding di ruang tamu itu berhenti pada pukul 04.17 WIB. Jarumnya kaku, seolah menolak bergerak walau detik terus berjalan di luar sana. Setiap orang yang datang ke rumah tua di ujung gang Melati selalu menatap jam itu lebih lama dari seharusnya, lalu bertanya dengan nada setengah bercanda,“Kenapa tidak diperbaiki?”.

Alya hanya tersenyum, ia tidak pernah menjawab. Bukan karena tidak tahu caranya, melainkan karena jam itu memang tidak ingin bergerak lagi.

Pagi itu, hujan turun tipis, membasahi genteng yang sudah berlumut. Alya duduk di kursi rotan, memeluk secangkir teh yang uapnya mengepul samar. Bau tanah basah bercampur dengan aroma kayu tua memenuhi ruangan. Di luar, gang Melati masih sepi, hanya suara sapu seorang ibu yang menyapu halaman rumahnya, dan langkah kaki pedagang sayur yang lewat sambil berteriak pelan.

Sudah lima tahun Alya tinggal di rumah itu sendirian.

Rumah itu bukan sekadar bangunan tua peninggalan orang tuanya. Di sanalah ingatan Alya tertambat tentang tawa, pertengkaran kecil, dan satu pagi yang mengubah segalanya. Pagi ketika jam dinding itu berhenti.

Dulu, rumah ini selalu ramai. Ayah Alya, Pak Rahman, seorang guru sejarah, gemar bercerita sambil mengetuk papan tulis imajiner di meja makan. Ibunya, Bu Sari, menyiapkan sarapan dengan langkah cepat, sesekali mengomel karena nasi hampir gosong. Dan Alya, anak tunggal yang kala itu baru duduk di bangku SMA, sering terlambat turun karena terlalu lama membaca novel di kamar.

Pukul 04.17 WIB adalah waktu Ayah selalu bangun untuk salat Subuh. Ia punya kebiasaan aneh : menatap jam dinding di ruang tamu sebelum melangkah ke kamar mandi, seolah memastikan waktu masih setia berjalan.“Waktu itu seperti sungai,” katanya.“Kalau kita lengah, ia akan membawa kita entah ke mana.”

Alya tidak benar-benar memahami maksud ayahnya saat itu.

Pagi itu, lima tahun lalu, hujan turun jauh lebih deras. Petir menyambar, membuat lampu sempat padam sesaat. Alya terbangun karena suara dentuman keras. Dalam gelap, ia mendengar langkah ayah di ruang tamu, lalu terdengar bunyi benda jatuh yang keras dan singkat.

“Ayah?” teriak Alya.

Tidak ada jawaban.

Ketika lampu menyala kembali, Alya menemukan ayahnya tergeletak di lantai, tepat di bawah jam dinding. Jam itu miring, kacanya retak. Jarumnya berhenti pada pukul 04.17.

Ayah pergi pagi itu juga. Serangan jantung, kata dokter. Cepat dan tanpa banyak tanda. Ibu Alya tidak pernah benar-benar pulih sejak hari itu. Dua tahun kemudian, ia menyusul ayah dalam tidur panjangnya.

Sejak saat itu, waktu bagi Alya terasa berhenti.

Hari-hari Alya berjalan dengan ritme yang sama. Ia membuka toko buku kecil di depan rumah, menjual buku bekas dan beberapa novel baru yang dititipkan penerbit lokal. Toko itu sepi, tapi Alya menyukainya. Di antara rak-rak buku dan debu tipis, ia merasa aman. Buku-buku tidak menuntut, tidak memaksa waktu berjalan lebih cepat.

Suatu sore, seorang pemuda datang ke toko itu. Rambutnya sedikit berantakan, bajunya sederhana, dan ia membawa ransel lusuh. Matanya menelusuri rak dengan penuh minat.

“Buku sejarah ada?” tanyanya.

Alya mengangguk dan menunjuk rak di sudut. Pemuda itu mengambil beberapa buku, salah satunya buku sejarah lama yang ditulis ayah Alya bertahun-tahun lalu.

“Ini bagus,” katanya sambil membalik halaman. “Penulisnya punya cara bercerita yang hidup.”

Alya terdiam. “Itu… ayah saya.”

Pemuda itu menatap Alya, sedikit terkejut. “Oh. Maaf. Saya Raka.”

Sejak hari itu, Raka sering datang. Kadang membeli buku, kadang hanya duduk dan membaca. Ia seorang mahasiswa sejarah yang sedang menulis skripsi tentang ingatan kolektif dan waktu. Topik yang terdengar rumit, tapi cara Raka menjelaskannya sederhana dan penuh semangat.

“Waktu itu bukan cuma jam dan kalender,” kata Raka suatu sore. “Ia hidup dalam ingatan kita. Kadang maju, kadang mundur.”

Alya hanya tersenyum kecil. Ia tidak pernah menceritakan tentang jam di rumahnya kepada siapa pun.

Suatu hari, hujan turun lagi. Raka berteduh di toko lebih lama dari biasanya. Ketika Alya menyeduh kopi, listrik tiba-tiba padam. Gelap menyelimuti ruangan, hanya suara hujan yang tersisa.

“Kamu punya lilin?” tanya Raka.

“Ada di rumah,” jawab Alya.

Mereka masuk ke ruang tamu. Cahaya lilin menari di dinding, memperjelas jam dinding yang berhenti itu. Raka menatapnya, alisnya berkerut.

“Jamnya rusak?” tanyanya.

Alya mengangguk. “Sudah lama.”

“Kenapa tidak diganti?”

Alya menarik napas. Kata-kata yang selama ini tertahan akhirnya keluar. Ia menceritakan tentang ayahnya, tentang pagi hujan itu, tentang pukul 04.17 yang terpatri di kepalanya.

Raka mendengarkan tanpa menyela.

“Kadang,” kata Alya pelan, “kalau jam itu bergerak lagi, rasanya seperti ayah benar-benar pergi. Selama jam itu berhenti, seolah waktu masih menunggu.”

Raka terdiam. Lalu ia berkata, “Mungkin bukan jamnya yang berhenti. Mungkin kamu yang menahan waktu.”

Kalimat itu menggema di kepala Alya jauh setelah listrik menyala kembali.

Malam itu, Alya tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar, mendengar detik jam tangan di pergelangan tangannya berdetak pelan. Untuk pertama kalinya, detik-detik itu terdengar mengganggu.

Ia bangkit dan menuju ruang tamu. Jam dinding itu masih di sana, bisu dan berdebu. Alya mengambil kain, membersihkannya perlahan. Retakan kaca itu masih jelas, seperti luka lama yang belum sembuh.

Alya membuka penutup belakang jam. Di dalamnya, mekanisme tua tampak rapuh. Ia ingat ayahnya pernah mengajarinya memperbaiki jam kecil saat ia masih SMP. Dengan tangan gemetar, Alya mengutak-atik roda-roda kecil itu.

Ketika jarum detik bergerak satu langkah, Alya menahan napas.

Jarum itu bergerak lagi.

Jam berdetak.

Pukul 04.18.

Air mata Alya jatuh tanpa ia sadari. Tangisnya pecah, memenuhi ruang tamu yang selama ini sunyi. Ia menangis bukan karena kehilangan yang baru, melainkan karena kehilangan yang selama ini ia simpan sendirian.

Di tengah tangis itu, Alya merasa sesuatu yang hangat, bukan kehadiran ayahnya, melainkan penerimaan. Bahwa ayahnya tidak terjebak di pukul 04.17. Bahwa kenangan tidak akan hilang hanya karena waktu bergerak.

Keesokan paginya, matahari terbit cerah. Jam dinding berdetak normal, mengisi rumah dengan suara yang dulu ia hindari. Alya membuka toko dengan perasaan yang berbeda lebih ringan, meski sedikit asing.

Raka datang seperti biasa. Ia berhenti sejenak di ruang tamu, menatap jam dinding yang kini hidup.

“Jamnya jalan,” katanya sambil tersenyum.

Alya mengangguk. “Seharusnya begitu.”

Mereka duduk di toko, membicarakan banyak hal : tentang skripsi Raka, tentang buku-buku favorit Alya, tentang rencana kecil yang selama ini Alya tunda menata ulang toko, mungkin mengadakan diskusi buku kecil-kecilan.

Waktu berjalan, dan untuk pertama kalinya, Alya tidak ingin menghentikannya.

Jam dinding di ruang tamu terus berdetak, mengingatkan bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir. Kadang, ia hanya sebuah jeda di antara jam yang berhenti dan waktu yang kembali bergerak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here