Oleh : Rival Dzulqarnaen
Wartawan
Artificial Intelligence (AI) kian berkembang seiring berjalannya waktu. Kehadiran teknologi ini mempermudah berbagai kebutuhan manusia, baik di dunia kerja maupun di bidang pendidikan. Bagi mahasiswa, AI sangat membantu, misalnya dalam penyusunan makalah, pencarian referensi jurnal, hingga berbagai kebutuhan akademik lainnya. Hal ini tentu menjadi bagian dari proses adaptasi terhadap pesatnya perkembangan teknologi.
Namun, tidak dapat dipungkiri, AI juga kerap disalahgunakan oleh sebagian mahasiswa. Alih-alih memanfaatkan AI untuk memperdalam pengetahuan, ada yang menggunakannya sebagai jalan pintas agar tidak perlu melakukan riset mendalam. Misalnya, dalam pembuatan makalah, mereka hanya mengetikkan perintah “buatkan makalah” tanpa berusaha mencari sumber ilmiah sendiri. Kebiasaan seperti ini berpotensi menumbuhkan rasa malas, melemahkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan ketergantungan pada AI, dan pada akhirnya menurunkan produktivitas.
Saya kerap berpikir, rasa ingin tahu dan semangat belajar mahasiswa di era sebelum hadirnya AI mungkin lebih besar, meskipun akses informasi saat itu terbatas. Bandingkan dengan sebagian mahasiswa sekarang yang terlalu bergantung pada gawai. Tentu tidak semua mahasiswa kehilangan sikap kritis, tetapi dampak kemudahan akses informasi terlihat nyata. Minat membaca cenderung menurun karena rasa penasaran seakan sudah terpuaskan secara instan.
Hal ini tentu tidak kita inginkan, sebab membangun bangsa membutuhkan orang-orang hebat yang memiliki rasa ingin tahu yang melimpah dan pemikiran yang kritis. Oleh karena itu, cara terbaik adalah menumbuhkan kembali kebiasaan membaca di kalangan mahasiswa, terutama membaca buku, bukan hanya mengandalkan hasil instan dari prompt AI.
Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pemerintah memiliki peran penting dalam mengedukasi mahasiswa tentang pemanfaatan AI. Penggunaan AI di kalangan pelajar perlu dibimbing dan diajarkan tata cara pemanfaatannya yang tepat, agar tidak menimbulkan ketergantungan berlebihan. Langkah ini dapat menjadi awal untuk mengubah kebiasaan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara bijak.
Kekhawatiran terhadap generasi sekarang dan mendatang tentu wajar. Kita tidak tahu tantangan seperti apa yang akan muncul seiring kemajuan teknologi dan masalah baru yang mungkin ditimbulkannya. Karena itu, sebagai mahasiswa kita perlu bijak dalam menggunakan AI—membatasi diri agar tetap mampu berpikir mandiri, memiliki landasan pemikiran sendiri, dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Yang jelas, tidak ada larangan bagi mahasiswa menggunakan AI. Perkembangan teknologi juga tidak sepenuhnya buruk. AI memberikan banyak manfaat dalam keberlangsungan perkuliahan. Maka dari itu, mahasiswa harus mampu memilah dampak positif dan negatif dari teknologi ini, sehingga AI benar-benar menjadi alat bantu produktivitas, bukan sumber kemalasan.







