Oleh : Nur Fatia
Wartawan
Warna pink atau merah muda sering dianggap warna yang identik dengan perempuan. Banyak orang melihatnya sebagai simbol kelembutan, kasih sayang, dan romantisme. Bahkan, tidak jarang pink dikaitkan dengan sifat manis, feminim, atau kekanak-kanakan. Padahal, pink bukan sekadar “warna perempuan”. Dalam psikologi warna, pink dipercaya mampu memberi ketenangan, mengurangi stres, dan menumbuhkan rasa nyaman.
Menurut saya, tidak ada salahnya jika seorang gadis remaja berusia 19 tahun sangat menyukai warna pink. Justru pink memiliki sisi kuat yang jarang diperhatikan orang. Dalam dunia fashion dan budaya populer, pink bisa tampil elegan, berani, bahkan menjadi simbol perlawanan terhadap stereotip bahwa perempuan selalu identik dengan kelemahan. Tren “pink power” membuktikan bahwa warna ini juga bisa mewakili keberanian untuk tampil berbeda.
Kalau dari pengalaman pribadi, saya memang sangat gemar dengan warna pink. Ada yang bilang pink itu bikin sakit mata atau terkesan kekanak-kanakan. Tetapi bagi saya, rasa suka ini bukan soal ingin terlihat imut. Setiap kali melihat pink, hati terasa adem. Lihat baju pink rasanya ingin beli, minuman dengan cup warna pink terasa lebih nikmat, bahkan kalau melihat orang lain memakai pink, saya merasa seperti menemukan soulmate.
Bagi saya, pink bukan sekadar warna. Pink adalah energi positif yang membuat hidup terasa lebih hangat. Ia mampu menghadirkan suasana ceria sekaligus ketenangan, sesuatu yang tidak saya dapatkan dari warna lain. Jika dunia ini hanya menyisakan dua warna, pink dan hitam, tanpa ragu saya akan memilih pink.
Konon katanya, semakin bertambah usia, justru semakin besar rasa suka perempuan terhadap warna pink. Mungkin benar adanya, sebab pink bukan hanya melambangkan kelembutan, tapi juga kedewasaan dalam cara pandang. Maka, bagi saya, menjadi seorang “pinky holic” bukan sesuatu yang memalukan, melainkan bagian dari identitas dan kebahagiaan diri.
how i love being a pinky woman
always a pinky girl







