Oleh : Rival Dzulqarnaen
Wartawan
Semuanya bermula di semester pertama perkuliahan. Saat itu kami baru saling mengenal—masih canggung, penuh basa-basi. Namun, perlahan jarak itu memudar. Sedikit demi sedikit kami akrab, hingga akhirnya muncul rencana pertama untuk healing bersama.
Mengumpulkan seluruh teman kelas memang bukan perkara mudah. Jadwal yang berbeda, kesibukan yang tak sama, sering membuat rencana hanya jadi wacana. Tapi pada akhirnya, kami tetap berhasil menciptakan momen yang mempertemukan kami. Di balik perbedaan karakter—ada si penyendiri, si cerewet, si rajin membuat wacana, dan si pelawak yang selalu sukses memecah tawa—justru saling melengkapi. Kebersamaan itu membuat suasana hidup dan hangat.
Setelah ujian semester berakhir, tibalah saat yang kami tunggu: liburan di tepi pantai. Perjalanan ke sana saja sudah penuh cerita. Di dalam mobil sewaan yang sempit, kami berebut tempat duduk, memutar lagu-lagu jadul, dan tertawa setiap kali sopir mengerem mendadak. Sesekali, obrolan tentang dosen killer dan nilai ujian memecahkan tawa, seolah beban perkuliahan tak lagi penting.
Begitu menapakkan kaki di pasir putih, segala penat seakan lenyap. Angin laut yang lembut menyapu wajah, aroma asin bercampur harum kelapa menenangkan hati. Kami berlarian riang, memanggang ikan di pinggir pantai, bercanda hingga lupa waktu. Saat matahari perlahan tenggelam, kami duduk berderet menatap langit bergradasi oranye—sunset yang begitu indah hingga membuat waktu seolah berhenti.
Malam tiba. Kami menyalakan api unggun, berbagi cerita dan keluh kesah, menumpahkan isi hati tanpa ragu. Diiringi petikan gitar, kami bernyanyi hingga larut malam, lupa pada kantuk yang kian mendekat. Ada tawa yang meledak tanpa alasan, ada pula hening saat masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
Dalam hati aku berbisik, “Ini adalah hari yang indah. Mungkinkah hari-hari seperti ini akan terulang di semester berikutnya? Ah, mungkin saja. Tapi… entah apakah kami masih bisa bertahan bersama sampai akhir perkuliahan.”
Waktu pun bergulir. Semester demi semester berlalu, dan perlahan lingkaran kami menyusut. Ada yang pindah kampus, ada yang terpaksa berhenti kuliah, ada pula yang sibuk bekerja sambil menyelesaikan studi. Kami masih sesekali saling menyapa lewat grup chat, tapi obrolan itu tak lagi seramai dulu—kadang hanya satu dua pesan singkat, selebihnya hening.
Candaan, curhat, nyanyian, dan tingkah konyol kami kini menjelma kenangan manis—kenangan yang akan selalu terpatri. Setiap kali mencium aroma laut atau mendengar denting gitar yang sama, ingatan itu seakan hidup kembali.
Meski jarak dan waktu perlahan menggerus kebiasaan kami, benih persahabatan itu tetap hangat di sudut hati. Sesekali, aku menelusuri foto-foto lama di ponsel: potret wajah-wajah yang dulu begitu akrab, kini terasa seperti potongan cerita. Ada tawa yang terekam, ada gestur spontan yang membuatku kembali mendengar riuh ombak di telinga. Rasa rindu itu mengalir diam-diam, seperti arus bawah laut—tak tampak, namun kuat mengguncang jiwa.
Aku pun belajar bahwa kenangan bukan sekadar masa lalu yang kita simpan, melainkan cahaya kecil yang menuntun langkah di masa depan. Dari mereka, aku paham arti kebersamaan yang tulus dan keindahan momen sederhana. Dan meski waktu mungkin terus menjarakkan, persahabatan yang pernah ada takkan benar-benar hilang; ia akan selalu hidup menyala di antara tiap senja yang perlahan meredup, menunggu saat yang tepat untuk kembali menyatukan kami dalam tawa yang sama.
Aku hanya bisa berharap, semoga suatu hari nanti kami diberi kesempatan untuk bertemu lagi dalam keadaan sehat, dan masih bisa tertawa bersama seperti dulu—meski dunia telah banyak berubah, dan kita semua sudah menapaki jalan masing-masing.







