Oleh: Ahmad Ikhlashul Amal
Jurusan: Pendidikan Bahasa Arab
Wartawan LPM Qalamun
Lebih dari tujuh dekade Indonesia merayakan kemerdekaan. Namun, pertanyaan mendasar masih relevan diajukan: sudahkah bangsa ini benar-benar merdeka?
Di berbagai sudut kota, sebagian masyarakat hidup dalam kemewahan. Restoran mahal ramai dikunjungi, pusat perbelanjaan dipenuhi barang bermerek, dan gaya hidup konsumtif dipamerkan tanpa ragu. Pada saat yang sama, di ruang-ruang lain yang kerap luput dari perhatian, masih banyak warga yang harus mengais sampah, mencari sisa makanan dan barang bekas demi mempertahankan hidup.
Kontras sosial tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya bermakna keadilan. Kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan asing, tetapi juga harus diwujudkan dalam pembebasan dari ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Apa arti kemerdekaan jika hasil pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir orang, sementara sebagian lainnya tertinggal?
Ketimpangan sosial bukan sekadar persoalan data dan statistik, melainkan persoalan kemanusiaan. Selama masih ada anak bangsa yang mengalami kelaparan di negeri yang kaya akan sumber daya, maka kemerdekaan itu patut dipertanyakan.
Kemerdekaan sejati mensyaratkan adanya kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara untuk hidup layak. Selama jurang antara kemiskinan dan kemewahan terus melebar, kemerdekaan yang dirayakan baru sebatas simbol, belum menyentuh realitas kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, negara dituntut hadir secara nyata. Tidak cukup melalui seremoni dan slogan, melainkan melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada kelompok rentan. Pemerataan akses pendidikan, layanan kesehatan yang terjangkau, serta penyediaan lapangan kerja merupakan indikator penting dari kemerdekaan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, makna kemerdekaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Kepedulian sosial dan keberanian untuk tidak bersikap abai terhadap ketimpangan adalah bagian dari upaya mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Sebab, bangsa yang benar-benar merdeka bukanlah bangsa yang sekadar kaya, melainkan bangsa yang mampu menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.







