Oleh: Zul Syahrul Ramadhan
Jurusan: Hukum Tata Negara Islam
Wartawan LPM Qalamun
Namaku Zail. Usiaku delapan belas tahun. Aku baru saja lulus dari Madrasah Aliyah dan kini menjalani hari-hari sebagai mahasiswa semester satu, rasanya masih canggung, masih dipenuhi kebingungan, tetapi juga penuh rasa ingin tahu tentang hidup yang katanya baru saja dimulai.
Aku tidak pernah percaya pada kebetulan, hingga sore itu aku berdiri di depan kampus dengan motor tua yang harus diengkol berkali-kali agar mau menyala. Langit menggantung rendah, kelabu, seolah ikut menahan napas.
Saat aku menunduk dan kembali menendang engkol motor, seseorang menabrakku.
“Maaf—” ucap kami hampir bersamaan.
Aku mengangkat kepala. Di hadapanku berdiri seorang perempuan dengan tumpukan buku di dadanya. Beberapa terjatuh ke tanah. Hijab krem yang dikenakannya sedikit miring. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tenang, ketenangan yang terasa terlalu dewasa untuk seseorang seusianya.
“Aku bantu,” kataku.
“Terima kasih,”ujarnya pelan. “Namaku Irena.”
Nama itu jatuh perlahan di kepalaku, lalu tinggal. Aku memperkenalkan diri. Namaku Zail. Dan tanpa kusadari, sejak saat itu hidupku mulai berjalan ke arah yang tidak pernah kusiapkan.
Aku menawarkan tumpangan. Irena ragu sejenak sebelum akhirnya naik. Motor kami melaju pelan. Jalan terasa lebih panjang oleh obrolan kecil yang hangat, tentang dosen, tugas, dan kopi murah yang rasanya pahit, tetapi jujur. Irena sering tertawa, meski di sela-selanya ada jeda sunyi yang tak pernah ia jelaskan.
Sejak hari itu, Irena menjadi kebiasaan.
Pesan-pesan kami mengisi malam. Tentang lelah, mimpi yang belum berani disebutkan, dan ketakutan akan kegagalan. Aku mulai menunggu notifikasinya seperti orang bodoh yang menggantungkan kebahagiaan pada layar ponsel.
Suatu malam aku bertanya, “Kamu pernah benar-benar mencintai seseorang?”
Balasannya datang lama.
“Nanti ya,” tulisnya.
Dan aku, dengan segala kebodohanku, menganggap itu sudah cukup.
Aku menceritakan semuanya kepada Dimas. Ia menatapku lama sebelum berkata pelan, “Zail, orang yang belum selesai dengan masa lalunya sering datang bukan untuk tinggal, tetapi hanya untuk berteduh.”
Aku membela Irena tanpa ragu. Sebab cinta sering kali lebih keras kepala daripada logika.
Perubahan itu datang perlahan. Pesan Irena semakin singkat. Balasannya dingin. Kadang ia menghilang berhari-hari. Alasannya selalu terdengar masuk akal, dan aku selalu memilih percaya, meski dadaku kerap terasa kosong.
Hingga suatu malam aku melihat unggahan lama di media sosialnya. Foto-foto bersama seorang pria. Dalam setiap foto, hijabnya rapi dan senyumnya utuh, penuh keyakinan. Senyumnya sama seperti saat bersamaku, bahkan terasa lebih lengkap. Komentar-komentar di bawahnya terlalu dalam untuk sekadar kenangan.
Aku bertanya.
Balasannya datang lama setelah itu.
“Aku pernah bertunangan,” tulis Irena. “Belum lama putus. Aku belum selesai. Maaf karena tidak jujur sejak awal.”
Aku membaca pesan itu berulang kali. Setiap kata menekan dadaku semakin dalam.
Aku memintanya bertemu.
Kami bertemu di taman yang sama, tempat kami dulu sering duduk, tertawa, dan berpura-pura baik-baik saja.
“Kamu datang ke hidupku hanya untuk sembuh, ya?” tanyaku. Suaraku bergetar, bukan karena marah, melainkan lelah.
Irena menunduk. Jemarinya meremas ujung hijabnya. Matanya basah.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu,” katanya lirih. “Aku hanya tidak tahu harus ke mana selain ke kamu.”
Kalimat itu menghancurkan segalanya.
Aku tersenyum, meski rasanya seperti merobek diri sendiri. “Seharusnya aku tahu,” kataku. “Aku mencintaimu sendirian.”
Irena menangis. Aku tidak memeluknya. Ada perpisahan yang justru terasa lebih menyakitkan jika disentuh.
Aku pulang dengan motor yang sama. Jalan terasa panjang. Dadaku kosong, tetapi berat.
Hari-hari setelahnya aku mencoba hidup. Tertawa bersama teman, bekerja, dan bertemu Nara yang hadir dengan cara sederhana: mendengar tanpa memaksa. Namun, setiap kali Nara tersenyum, aku sadar bahwa hatiku masih penuh oleh nama yang tak lagi boleh kupanggil.
Suatu malam, pesan terakhir dari Irena masuk.
“Terima kasih sudah mencintaiku, meski aku tidak bisa membalasnya dengan utuh.”
Aku tidak membalas.
Aku menulis satu nama di selembar kertas: Irena. Tanganku gemetar. Kertas itu kulipat perlahan, seperti melipat sesuatu yang pernah menjadi rumah.
Aku tidak membencinya.
Aku hanya akhirnya mengerti: ada cinta yang datang bukan untuk dimiliki, melainkan untuk melukai kita hingga kita belajar melepaskan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku menangis, bukan karena Irena pergi, melainkan karena aku menyadari telah memberikan seluruh hatiku kepada seseorang yang hanya singgah.
Luka itu bernama cinta, dan aku belajar hidup bersamanya.
Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Aku bangun, kuliah, dan pulang. Tak ada hal besar yang terjadi, tetapi rasanya tetap berat. Ponselku jarang berbunyi. Kadang aku mengeceknya tanpa alasan, lalu meletakkannya kembali.
Aku sempat kembali ke taman kampus. Duduk di bangku yang sama, tanpa harapan apa pun. Aku hanya duduk, melihat orang-orang berlalu, dan membiarkan pikiranku diam. Aku tidak lagi berbicara seolah ia ada. Aku hanya mengingat, lalu membiarkan ingatan itu pergi.
Dimas pernah berkata, “Yang paling lama sembuh bukan lukanya, melainkan kebiasaannya.” Saat itu aku mengerti. Aku tidak selalu merindukan Irena, aku merindukan rutinitas yang pernah ada.
Aku tidak membuang kertas bertuliskan namanya. Aku juga tidak menyimpannya sebagai sesuatu yang istimewa. Ia hanya ada seperti bagian hidup yang pernah lewat.
Kini aku belajar satu hal sederhana, bahwa tidak semua yang datang harus tinggal, dan tidak semua yang pergi harus disesali. Aku masih berjalan ke depan, perlahan, tanpa janji apa pun. Dan itu sudah cukup.







