PALU, LPMQALAMUN.com – UIN Datokarama Palu memperkuat Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) guna memutus mata rantai ketidaksiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Wakil Rektor (Warek) l Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. Hamka, S.Ag., M.Ag., menegaskan bahwa visi utama MBKM bertujuan membekali mahasiswa agar unggul secara teori dan kompeten di lapangan.
“Visi utamanya adalah agar kita tidak berada dalam sangkar yang terus belajar di dalam kampus tanpa tahu apa yang terjadi di luar. Spirit MBKM adalah konektivitas,” ujarnya saat diwawancarai oleh kru LPM Qalamun, pada Selasa (27/01/2026).
“Melalui kerja sama industri, magang, atau asistensi mengajar, kita ingin mahasiswa lebih siap menghadapi dunia nyata. Itulah mengapa dalam menyusun kurikulum, kita melibatkan pihak luar (IDUKA) agar teori yang diajarkan dosen tetap relevan dengan praktik di lapangan,” tambahnya.
Hamka, menjelaskan bahwa penerapan MBKM disesuaikan dengan karakter tiap fakultas serta melibatkan kerja sama dengan pihak eksternal.
“Program ini terbuka untuk semua fakultas sesuai karakter lingkungannya dan adapun pelaksanaannya diserahkan kepada kreativitas fakultas dan koordinasi dengan mitra di luar,” jelasnya.
Selanjutnya, ia menjelaskan langkah strategis rektorat dalam mempermudah transisi kurikulum agar selaras dengan semangat Merdeka Belajar.
“Kami memberikan ruang bagi fakultas untuk melakukan konversi nilai. Misalnya, mahasiswa yang melakukan asistensi mengajar di desa selama satu semester, kegiatannya di sekolah itu dikonversi menjadi nilai mata kuliah seperti strategi pembelajaran, media pembelajaran, PPL, hingga KKN,” jelasnya.
“Jadi mereka tidak rugi waktu kuliah karena praktiknya langsung diakui sebagai SKS,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kriteria mitra utama harus sesuai dengan bidang keilmuan dan standar perusahaan, serta mampu menjamin keterampilan yang diperoleh mahasiswa.
Di akhir wawancara, Hamka berharap mahasiswa mampu memanfaatkan peluang tersebut secara optimal.
“Pesan saya untuk mahasiswa agar memanfaatkannya dengan baik. Ingat cerita burung dalam sangkar, jika terlalu lama disuapi, saat dilepaskan ke hutan mereka akan mati karena tidak tahu cara mencari makan. Jangan sampai mahasiswa menjadi pakar bicara di kelas tapi gugup di luar,” harapnya.
“Dunia sudah berubah, jadilah sarjana yang terampil dan rasional. Teruslah asah soft skill dan komunikasi selama masih muda,” tutupnya.
Wartawan: Huwairah, Readers.







