Home CERPEN Angan Hanya Sebatas Ingin

Angan Hanya Sebatas Ingin

20
0

Nama: Ria Andani AH Timumun
Jurusan: Hukum Ekonomi Syariah
Pengurus Redaksional LPM Qalamun

Malam ini rintik hujan turun semakin deras. Saat orang lain menutup diri, aku justru membuka dunia yang tak pernah benar-benar aku masuki.

Aku duduk di teras sambil menikmati alunan suara hujan yang turun malam ini. Angin datang perlahan membawa bau tanah dan suara nyanyian jangkrik.

Aku Alena, seorang gadis yang bermimpi dan berangan tentang banyak hal, tetapi seakan ragu dengan diri sendiri.

Di pangkuanku ada buku diary yang selalu kubawa ke mana pun. Halamannya penuh dengan tulisan-tulisan yang tak pernah dibaca siapa pun.

Aku menarik napas pelan.

“Bolehkah seseorang bermimpi setinggi ini?”

Dari kejauhan lampu-lampu kecil berkelip, seakan menawarkan kehidupan lain yang terlalu jauh untuk kugapai. Aku selalu membayangkan diriku di sana—berdiri di sebuah panggung kecil, membacakan cerpen karyaku sendiri. Orang-orang tersenyum, bertepuk tangan, dan aku… bahagia.

Namun itu hanya angan.

Aku bangkit dan masuk ke kamar. Besok pagi aku harus kembali bekerja di toko sembako milik Bu Rina. Pekerjaan yang sebenarnya tidak buruk, hanya saja itu bukan dunia yang kuimpikan. Di sana, aku lebih banyak menghitung uang receh daripada menulis kata-kata.

Pagi hari, aku sudah berdiri di depan etalase toko. Riana, sahabatku sejak SMA, datang sambil membawa teh dan roti.

“Len, nanti sore ikut aku, yuk,” katanya dengan ceria.

“Ke mana?” tanyaku penasaran.

“Workshop menulis! Gratis pula! Pokoknya kamu harus ikut. Aku sudah daftar untuk dua orang.”

Mendengar itu aku terdiam beberapa detik.

“Ri, aku—”

“Nggak ada alasan! Kamu itu berbakat, Len. Kalau cuma nulis di buku, kapan majunya? Ayolah, Len.”

Aku ingin menjawab panjang. Aku ingin bilang bahwa aku takut. Takut ditolak, takut dibaca orang, takut dianggap tidak cukup bagus. Takut mimpi ini hanya membuatku terlihat bodoh.

Namun akhirnya aku hanya berkata, “Iya, nanti aku ikut.”

Riana memelukku dengan penuh semangat, sementara aku hanya bisa tersenyum pahit.

Sore itu kami tiba di sebuah aula kecil di pusat komunitas sastra. Ruangan dipenuhi anak muda yang terlihat percaya diri mereka berani mengambil langkah yang selama ini tak berani aku tempuh.

Seorang penulis senior naik ke panggung dan memulai sesi. Ia mengatakan sesuatu yang seolah menusukku.

“Mimpi tanpa usaha hanya akan menjadi angan kosong. Dan angan kosong itu menyesakkan. Karena kamu selalu tahu apa yang kamu inginkan, tetapi kamu tidak pernah punya keberanian untuk melangkah maju.”

Kata-kata itu seperti dilempar tepat ke wajahku.

Di akhir acara, mentor mempersilakan peserta mengumpulkan satu naskah cerpen untuk diberi masukan.

Riana sudah siap dengan flashdisk-nya. Peserta lain pun satu per satu mulai mendekat dan menyerahkan karya mereka.

Aku menggenggam file cerpenku yang sudah kutulis sejak dua tahun lalu. Tanganku gemetar. Keringat dingin muncul.

Ketika akhirnya giliranku tiba, aku justru berbalik dan berjalan keluar.

Riana mengejarku.

“Len! Kenapa?”

“Aku… nggak siap, Ri. Ceritaku belum bagus.”

“Bagus atau nggak bukan masalah. Yang penting kamu sudah mencoba!”

Aku tersenyum lemah.

“Nanti saja, Ri. Aku takut.”

Riana ingin berkata lagi, tetapi melihat mataku yang sudah berkaca-kaca, ia menghela napas.

“Baiklah. Tapi suatu hari kamu harus melangkah.”

Langit tiba-tiba berubah gelap. Hujan turun sangat deras.

Aku berlari pulang sambil menahan tangis yang tak mampu lagi kutahan. Hujan dan air mataku bercampur.

Semuanya terasa berat.

Di tengah derasnya hujan dan air mata yang tak bisa kubendung, aku berpikir:

“Kenapa aku hanya bisa ingin? Kenapa langkah itu terasa begitu berat?”

Sesampainya di kamar, aku menutup wajah dengan tangan. Di luar, hujan terus mengetuk atap rumah, seakan mengulang-ulang kesedihanku.

Seolah belum cukup, Ibu datang membawa kabar bahwa ia harus lebih sering kontrol kesehatan. Biayanya bukan hal kecil.

Keesokan harinya, Bu Rina menawarkan aku bekerja penuh waktu agar gajiku dinaikkan. Itu berarti waktu menulisku hampir hilang.

Lalu tiba-tiba Riana mengirim pesan.

“Lenn! Naskahku diterima penerbit! Aku mau launching buku!”

Mendengar itu aku ikut senang untuknya. Namun di saat yang sama, hatiku seperti diremas.

Bahkan sahabatku sudah melangkah, sementara aku… masih di titik yang sama.

Malam itu aku menatap buku diaryku.

Anganku terasa seperti burung dalam sangkar emas, indah tetapi tak pernah terbang keluar.

Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak kusangka terjadi.

Aku menemukan Andra, temanku semasa SMA yang diam-diam sudah lama kusukai. Ia sedang duduk di depan rumahku sambil memegang buku diaryku.

“Ini… aku nemu di jalan setapak waktu Ibu nyapu halaman,” katanya sambil menyerahkan buku itu.

Jantungku seakan berhenti sejenak.

“Kamu… baca?” tanyaku panik.

“Cuma satu halaman. Yang ini.”

Ia menunjukkan halaman berisi potongan cerpenku, bukan yang bersifat pribadi.

Aku sudah siap malu sampai ke tulang. Namun Andra berkata pelan,

“Tulisanmu bikin aku berhenti sebentar. Rasanya… menenangkan. Kamu hebat, Len. Kamu cuma belum percaya pada dirimu sendiri.”

Aku terdiam.

Kata-katanya sederhana, tetapi terasa dalam. Mungkin karena diucapkan oleh seseorang yang selama ini menjadi sumber inspirasiku.

Andra menatapku lagi.

“Aku nggak ngerti dunia sastra. Tapi aku tahu satu hal—orang seperti kamu cuma butuh mulai.”

Setelah mengatakan itu, ia pergi. Namun kalimatnya masih terngiang di kepalaku.

Malam berikutnya, aku kembali duduk di teras. Namun kali ini aku tidak sekadar menatap bintang.

Aku membuka laptop tua yang selalu kusimpan di atas meja kamarku.

Kubuka folder cerpen lamaku. Kubaca ulang. Kubereskan. Kuperbaiki dialognya. Kuperhalus narasinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar menulis dengan hati yang utuh.

Entah mengapa jantungku berdegup keras.

Aku menutup laptop, lalu memeluk lutut.

“Apa ada yang akan membaca?”

Aku tidak tahu.

Namun untuk pertama kalinya… aku sudah melangkah.

Keesokan paginya, aku membuka aplikasi itu lagi.

Ada satu like.

Hanya satu.

Namun aku tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak muncul.

Rasanya hangat, sehangat cahaya kecil di tengah kegelapan.

Sore harinya, aku menulis lagi. Bukan untuk lomba, bukan untuk siapa pun, tetapi untuk diriku sendiri.

Namun malam itu, ketika aku kembali duduk di teras rumah, aku mengambil keputusan yang dulu terasa mustahil bagiku.

Aku membuka email penerbit kecil yang disebut mentor workshop tempo hari.

Kuketik pesan singkat:

“Selamat malam. Izinkan saya mengirimkan naskah cerpen untuk dipertimbangkan…”

Tanganku bergetar saat menekan tombol kirim.

Namun setelah pesan itu terkirim, aku menatap langit malam dengan perasaan berbeda.

Bintang-bintang masih sama, tetapi ada sesuatu yang berubah.

Mungkin bukan mimpinya.

Mungkin hanya diriku.

Aku tersenyum kecil dan berbisik pada diri sendiri,

“Mungkin selama ini bukan mimpiku yang jauh… tetapi langkahku yang belum berani.”

Sekarang aku sudah mulai.

Walau kecil.
Walau pelan.

Namun anganku tak lagi hanya sebatas ingin.

Untuk pertama kalinya, aku mulai berjalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here