Nama: Alif Ramadhan
Jurusan: Ekonomi Syariah
Pengurus Redaksional LPM Qalamun
Malam turun perlahan di kota tempat Al merantau. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi jalanan yang masih ramai oleh orang-orang yang pulang dari aktivitas mereka. Namun, di sebuah kamar kos yang sederhana, Al duduk sendirian di tepi tempat tidurnya.
Di tangannya ada sebuah ponsel. Ia membuka galeri dan berhenti pada sebuah foto lama. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu sebuah foto sederhana di depan rumahnya. Di sana ada ayahnya yang tersenyum tipis, ibunya berdiri di samping, dan Al yang masih terlihat jauh lebih polos.
Al tersenyum kecil, tetapi ada rasa hangat yang bercampur dengan rindu di dadanya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari ia akan berada sejauh ini dari rumah.
Dulu, ketika masih tinggal bersama keluarga, semua terasa begitu biasa. Bangun pagi, sarapan bersama, bercanda dengan adik atau saudara, lalu menjalani hari tanpa banyak memikirkan hal-hal besar. Rumah terasa seperti tempat yang selalu ada, tempat yang tidak pernah terpikirkan akan dirindukan.
Namun, ternyata hidup membawa Al berjalan lebih jauh dari yang ia bayangkan saat masa kecilnya.
Keputusan untuk meninggalkan rumah bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pertimbangan, banyak keraguan, dan banyak pertanyaan di dalam pikirannya waktu itu. Namun, ia tahu satu hal—ia ingin mengejar masa depan yang lebih baik.
Hari pertama di kota rantau terasa sangat asing. Jalanannya lebih ramai, orang-orangnya lebih sibuk, dan semuanya terasa begitu cepat. Tidak ada wajah yang benar-benar ia kenal. Di sinilah Al mulai memahami arti sebuah jarak yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Awalnya ia merasa kuat. Ia mencoba menjalani semuanya dengan penuh semangat. Kuliah dan berbagai kesibukan lain membuat hari-harinya terasa padat. Namun, ada waktu-waktu tertentu ketika kesibukan itu berhenti, biasanya pada malam hari.
Ketika kota mulai sunyi, rasa sepi itu datang perlahan. Pada saat-saat seperti itulah Al sering memikirkan rumah.
Ia teringat suara ibunya di pagi hari yang selalu memanggilnya bangun. Ia teringat ayahnya yang kadang menegurnya dengan cara sederhana, tetapi penuh perhatian. Ia juga teringat bagaimana dulu ia sering mengeluh tentang hal-hal kecil di rumah.
Sekarang ia menyadari bahwa semua itu adalah hal-hal yang sangat berharga.
Suatu malam, hujan turun cukup deras. Angin dingin masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Al duduk di kursinya sambil memandang ke luar. Lampu jalan terlihat buram tertutup tirai hujan.
Entah mengapa, malam itu rasa rindunya terasa lebih kuat dari biasanya.
Akhirnya ia mengambil ponselnya dan menekan satu nomor yang sudah sangat ia hafal.
Beberapa detik kemudian, suara ibunya terdengar di seberang telepon.
“Assalamu’alaikum… Al?”
Suara itu sederhana, tetapi membuat hati Al terasa hangat.
“Wa’alaikumussalam, Bu… bagaimana kabarnya?” jawab Al pelan.
Percakapan mereka tidak panjang. Hanya menanyakan kabar, menanyakan apakah Al sudah makan, apakah kuliahnya lancar, dan apakah ia menjaga kesehatannya dengan baik.
Namun, di balik percakapan sederhana itu, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rindu yang tertahan, ada perhatian yang tulus, dan ada doa yang terus mengalir tanpa henti.
Sebelum menutup telepon, ibunya berkata pelan, “Di mana pun kamu berada, ingat… rumah selalu menunggumu.”
Al terdiam sejenak. Kalimat itu terasa sangat sederhana, tetapi bagi Al, kalimat itu seperti menghapus sebagian dari rasa lelah yang selama ini ia rasakan.
Setelah telepon terputus, Al berdiri dan membuka jendela lebih lebar. Hujan sudah mulai reda. Udara malam terasa lebih segar.
Ia menatap langit yang masih gelap, mencoba mencari bintang yang mulai muncul di antara awan.
Saat itu ia menyadari sesuatu.
Jarak memang memisahkan langkah manusia. Ia bisa membuat seseorang berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat yang ia cintai. Namun, jarak tidak pernah benar-benar mampu memisahkan hati.
Selama doa masih saling dipanjatkan, selama kenangan masih hidup di dalam ingatan, dan selama ada harapan untuk kembali pulang—jarak itu hanyalah bagian dari perjalanan hidup.
Al menarik napas dalam-dalam.
Perjalanannya masih panjang. Masih banyak hal yang harus ia perjuangkan, masih banyak mimpi yang ingin ia wujudkan.
Namun, satu hal yang selalu ia yakini:
Sejauh apa pun ia melangkah, akan selalu ada satu tempat yang tidak pernah berubah.
Tempat yang selalu menunggunya pulang.
Rumah.







