PALU, LPMQALAMUN.com — Hannah Asa Indonesia menggelar Bootcamp Batch 103 bertajuk Smart Money Starts Here di MAN Insan Cendekia Kota Palu, Sabtu (05/09/2026). Kegiatan tersebut mendorong siswa untuk memahami pentingnya literasi keuangan sejak dini.
Literasi keuangan dinilai penting agar siswa mampu memahami, mengelola, dan mengalokasikan uang secara bijak. Kemampuan tersebut dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana, seperti menentukan prioritas, mencatat pengeluaran, menabung, hingga menyiapkan dana darurat.
Narasumber kegiatan, Hairunnisa, AWPS., menjelaskan bahwa literasi keuangan mencakup pemahaman, keterampilan, dan sikap dalam mengelola keuangan serta mengambil keputusan secara bijak.
“Literasi keuangan itu adalah kemampuan memahami, mengetahui, dan mengalokasikan dana dengan baik untuk masa depan,” ujarnya.
Menurut Hairunnisa, pengelolaan keuangan dapat dimulai dengan mengenali arus kas, baik pemasukan maupun pengeluaran, serta memahami aset yang dimiliki.
Ia juga menilai pengelolaan keuangan sejalan dengan ajaran Islam, salah satunya dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang mengajarkan pentingnya mempersiapkan diri untuk masa depan.
“Islam sudah mengajarkan kita untuk menyiapkan diri untuk hari esok. Dalam keuangan, kita bisa merencanakan anggaran, menentukan prioritas, menabung, dan menggunakan uang dengan bijak,” tuturnya.
Hairunnisa menyebut literasi keuangan dapat membantu siswa menghindari gaya hidup berlebihan, mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, serta mengurangi risiko utang yang tidak terkendali.
Dalam mengelola uang saku, siswa diarahkan untuk terlebih dahulu memenuhi kebutuhan wajib, seperti keperluan sekolah. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, sebagian uang dapat disisihkan untuk tabungan.
Ia menegaskan bahwa menabung tidak harus dimulai dengan jumlah besar. Menurutnya, menyisihkan uang dalam jumlah kecil secara rutin lebih penting untuk membentuk kebiasaan keuangan yang sehat.
Selain menabung, siswa juga perlu menyiapkan dana darurat untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga, seperti biaya pengobatan atau perbaikan barang dan kendaraan yang rusak.
Hairunnisa turut mengingatkan siswa agar membiasakan diri mencatat setiap pengeluaran. Kebiasaan berpikir sebelum membeli juga dinilai penting agar siswa dapat mempertimbangkan apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan atau masih dapat ditunda.
Sebagai langkah awal, ia mengarahkan siswa membuat anggaran sederhana dengan mengetahui jumlah uang yang dimiliki dan menentukan alokasinya.
Melalui kebiasaan tersebut, siswa diharapkan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta terbiasa menentukan skala prioritas dalam menggunakan uang sejak dini.
Wartawan: Edelweis







