PALU, LPMQALAMUN.com— Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) bersama Ormasa Fakultas Syariah (Fasya) menggelar aksi simbolik bertajuk September Hitam di Pelataran Gedung Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Kampus I UIN Datokarama Palu, Senin (7/9/2026).
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk refleksi terhadap sejumlah tragedi kemanusiaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi dalam sejarah Indonesia, sekaligus mendorong mahasiswa untuk tidak melupakan peristiwa kelam masa lalu.
Ketua Dema FUAD, Ramdani, mengatakan aksi tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali berbagai tragedi yang menelan banyak korban jiwa.
“Kita ingin mengingatkan dan memberitahu kepada seluruh mahasiswa bahwasanya dulu banyak sekali orang-orang yang tidak bersalah terbunuh sebagai bagian daripada sejarah gelap bangsa ini,” ujarnya.
Menurut Ramdani, aksi tersebut dilatarbelakangi keresahan mahasiswa setelah mempelajari berbagai catatan sejarah bangsa. Sejumlah peristiwa yang menjadi sorotan dalam momentum September Hitam di antaranya tragedi 1965–1966, Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Semanggi II, hingga kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.
“Tujuannya kami bergerak di sini sebenarnya bukan untuk mencari panggung, namun untuk membangkitkan kesadaran dan kembali mengingatkan tragedi berdarah masa lalu. Bahwasanya ada sejarah-sejarah yang belum tuntas diselesaikan,” katanya.
Ia menegaskan, September Hitam tidak semata-mata menjadi agenda tahunan, tetapi diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa UIN Datokarama Palu.
Selain itu, mahasiswa dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan serta berpihak kepada korban ketidakadilan.
“Isu-isu ini sangat penting untuk diingat karena ini berbicara terkait kemanusiaan. Mahasiswa adalah orang-orang yang memanusiakan manusia,” tuturnya.
“Jika ada salah satu dari kita yang merasa dizalimi atau disakiti, kita akan membelanya dan melawan pelaku kejahatan tersebut,” tambahnya.
Melalui aksi tersebut, Ramdani juga menyampaikan pesan kepada pihak kampus, pemerintah, dan masyarakat agar tetap menjaga nilai-nilai perjuangan serta tidak melupakan sejarah bangsa.
“Perjalanan bangsa Indonesia ini dibentuk oleh gagasan, ide-ide, dan pemikiran para aktivis serta orang-orang yang membela tanah airnya,” tegasnya.
“Maka dari itu, jangan sampai dikotori oleh kepentingan-kepentingan pribadi atau politik yang berpihak kepada elite dan oligarki,” pungkasnya.
Wartawan: Farabi, Edelweis







