Nama : Muhammad Nur Hidayat Malontu
Jurusan : Pendidikan Bahasa Arab
Semester : 3
Suasana Kotakita saat itu sedang cerah dan sedang menyambut petang tatkala seorang lelaki menutup bukunya setelah menandatangani ribuan eksemplar dari tulisannya yang berjudul “Pesawat Kertasmu Untukku”. Menulis adalah hobi yang sekaligus menjadi pekerjaannya untuk menghidupi dirinya dan wanita cantik yang selalu menunggunya dirumah, Mentari Enedina. Ini adalah buku ke-3 nya yang telah terbit dan tersebar ke masyarakat luas, tapi baru buku ini yang berhasil mencapai predikat mega best seller dan terpampang dalam deretan “Top 10” Gramedia.
Ia adalah pria yang bertubuh tinggi dan kekar hingga menjadikannya seorang yang bersifat arogan, belum lagi ditambah dengan kesuksesan bukunya yang baru saja terbit dan masuk ke dalam list buku best seller nasional, kini ia tak punya alasan untuk merendahkan hatinya sebagai seorang manusia.
Dalam perjalanan menuju rumah dari kantor penerbit, ia menyinggahi rumah makan favoritnya bersama kawannya yang merangkap sebagai managernya, Bintang. Lelaki yang bertubuh pendek dan berambut cepak ala perwira tentara. Dulu bintang adalah seorang calon siswa TNI yang terus menerus gagal dalam tesnya karena tinggi tubuhnya yang tidak memadai, hingga kawannya mengajaknya untuk bekerja sama dan mulai dari situlah ia bisa mencari makan untuk dirinya sendiri. Ya, usia mereka berdua masih sangat muda, 25 tahun.
Setibanya dirumah, ia melihat ikan goreng, sambal terasi, cah kangkung dan nasi putih sudah tersedia didapur didepan Mentari yang sedang duduk di meja makan menunggu kedatangannya ditemani drakor yang entah judulnya apa.
“Papa udah datang nih. Makan, yuk!” Ajak Mentari pada suaminya untuk makan malam bersama.
“Ahh, aku udah kenyang, udah makan tadi diluar sama Bintang,” balasnya dengan cuek sambil menaruh jaketnya diatas kursi.
Perempuan itu adalah perempuan yang selalu bersabar atas masalah yang ia hadapi, tapi tidak untuk kali ini. Entah sudah kali keberapa suaminya menolak ajakan makan Mentari yang sudah menyiapkan masakan sederhana untuk mereka santap bersama.
“PA!, Kamu tuh, ya. Paham dong! aku ini istri kamu, berkali-kali aku masak buat makan malam, tapi kamu makan diluar mulu. Lagian temen kamu bukan siapa-siapa kamu! aku ini istri kamu, Pa! ” Tegas Mentari sampai urat didahinya bisa terlihat.
“Lah, kamu kok tiba-tiba marah gak jelas? toh aku makan gak pake uang kamu, malahan kamu belanja, masak pake uangku. Kamu ngertilah, aku ini capek kerja seharian. Kamu dirumah ngapain aja? lamaran kerja kamu aja sampai sekarang belum ada kabar. Kamu juga jangan sering-sering marah! di perut kamu itu ada anak kita yang bulan depan udah mau lahir” Dengan nada tinggi, ia memarahi istrinya dengan begitu dendam.
Perempuan muda yang sedang hamil muda itu melelehkan airmatanya, tak lagi bisa untuk ia tahan, segera ia berlari ke kamar dan mengurung diri lalu tenggelam dalam kesedihannya, sedangkan suaminya langsung rebah dan beristirahat di karpet depan tv tanpa rasa bersalah setelah membuat istrinya menangis.
Ia adalah lelaki berengsek yang seringkali menyakiti istrinya. Ia tidak lagi mensyukuri pernikahan mereka karena beberapa pikiran bengisnya; Wajah Mentari yang sudah bosan ia pandang, namanya yang sudah naik daun dan bisa menikahi wanita manapun, dan pernikahan mereka yang terjadi karena “kecelakaan” saat mereka masih berpacaran. Dengan pikiran bengisnya ia tertidur pulas di karpet ruang tamu.
Angkasa sedang gelap dan hanya bulan juga bintang yang bersinar tatkala Lelaki itu baru saja selesai menjadi pembicara dalam acara bedah buku terlarisnya lalu Seorang wanita nan jelita berkacamata, berambut panjang mendatanginya untuk meminta tanda tangan. Lelaki itu langsung gercep menandatangani buku sang wanita lalu melontarkan sedikit pertanyaan untuknya.
“Wah, kamu pembaca buku saya? makasih, ya,” ucapnya kagum sembari memandang wanita itu.
“Iya, kak. Seneng banget bisa ngobrol sama kakak,” jawabnya senang karena bertemu idolanya.
“Jangan berlebihan gitu, dong. Aku juga manusia biasa sama seperti kamu,” ucapnya dengan pura-pura merendah untuk menjaga imagenya sebagai seorang penulis.
“Hahaha, kak, maaf. Agak sedikit lancang, tapi boleh tidak saya meminta kontak kakak? Hehehe, saya juga lagi hobi nulis, kak. Kali aja bisa belajar dari kakak,” pintanya kepada sang penulis.
“Itu nomorku. Oh, ya. Nama kamu siapa? Biar aku save balik nomormu,” tanyanya kepada sang wanita.
“Nama aku Cia, kak,” jawabnya dengan pipinya yang memerah karena ditanyakan tentang nama oleh penulis idolanya.
“Nama yang cantik, kayak pemiliknya. Oh, ya. Kalo kamu gak sibuk, mau gak ikut aku ngopi bentar kalo semua urusanku disini selesai?” Gombal sang pria beristri itu untuk Cia.
Setelah semua benda milik penggemar ia tandatangani, sang lelaki bersama Cia pergi ke kafe Sobat Kopi, tempatnya dan Mentari dulu yang sering mereka gunakan untuk berpacaran. Kini ia kembali ke tempat itu tapi dengan orang yang berbeda. Berbagai pertanyaan terlontarkan antara sepasang manusia, kafe itu menjadi saksi bisu kebengisan sang lelaki, hari itu menjadi titik awal perselingkuhannya dengan Cia, Ia memasuki masa puber kedua.
Kian waktu berjalan mereka resmi berpacaran, kisah dua orang dalam sebuah larangan. Sang lelaki menjadi kerap pulang larut, kamar indekos Cia menjadi tempat singgah favoritnya sebelum menuju rumah, dan rekening Cia selalu terisi dengan royalti tulisannya.
Namun kisah perselingkuhan mereka tak berjalan manis, sang lelaki menemukan cia berjalan dengan pria lain ketika ia sedang dalam perjalanan pulang bersama Bintang. Segera ia turun dari mobil dan mendatangi Cia.
“Cia, jadi ini yang kamu lakuin di belakang aku? Setelah semua yang kita lalui? Cia?” Tanyanya yang bercampur kesal, sedih dan marah.
“Lah, aku kan selingkuhan kamu, jadi aku selingkuh boleh juga, dong,” balas Cia dengan ledekan menggunakan nada bicara tinggi.
Keributan terjadi, hingga akhirnya Cia dibawa pergi oleh lelaki yang berjalan bersamanya yang ternyata itu adalah mantan Cia. Pada malam itu, ribuan penyesalan lahir dalam benak sang lelaki, kursi taman menjadi tempatnya menangis menyesali segala perbuatannya. Bintang kawannya hanya bisa merangkulnya dan menasihatinya.
“Kan udah gue bilang dari awal, bro. Istri lu lagi hamil, lu malah selingkuh. Selama ini gue bener-bener ngerasa bersalah harus nyembunyiin ini semua dari Mentari… Trus duit lu udah banyak yang lu kasih ke Cia. Pulang, yuk. Mentari pasti udah nungguin lo dirumah” Nasehat bintang untuk kawannya dengan nada mendukung.
Ia pulang ke rumah dengan penuh sesal dan rasa bersalah. Dengan penuh air mata seperti anak kecil, ia memeluk Mentari dengan begitu eratnya.
“Maafin aku, sayang. Selama ini aku ga pernah hargain kamu, selama ini aku selalu marahin kamu,” maafnya kepada istrinya dengan begitu tulus.
(Hening)
“Maafin aku. Aku selama ini selingkuh sayang, maafin aku,” lanjutnya.
“Iya, sayang. Aku udah dengar tentang itu dari teman-temanku, aku udah tau semuanya, sayang. Walaupun sakit aku akan selalu maafin kamu, ingat kan janji yang dulu kita buat? Yuk, tepati lagi,” ucap Mentari ke suaminya sambil mempererat pelukannya.
Lagi, Mentari menutupi kesedihannya yang selama ini ia rasakan demi membuat sang suami tersenyum.
Hari terus berlalu, mereka semakin sering keluar bersama, ia menjadi lebih sering makan malam dirumah, banyak tempat wisata yang mereka kunjungi, ia berusaha memperbaiki semua keadaan yang selama ini telah ia rusak.
Kala itu sang lelaki sedang melakukan meeting dengan kawan-kawan komunitas penulisnya lalu Gawainya gawainya berdering, di layarnya tertulis “Ibu Ida” Tetangga sebelah rumahnya, segera ia keluar dari ruangan dan mengangkat teleponnya.
“Nak, istri kamu mau melahirkan, sekarang lagi dibawa ambulans menuju rumah sakit harapan indah” Ibu ida berbicara dengan penuh khawatir.
“Hah? Okee, buu, terimakasih saya langsung kesana,” Ia langsung menutup telepon lalu beranjak dari tempat itu tanpa pamit dengan kawannya.
Dalam perjalanannya menujuh rumah sakit, lampu lalu lintas menyala berwarna merah.
“Persetan dengan peraturan” Sembari mengacungkan jari tengah ke lampu lalu lintas.
Dengan terburu-buru iya menerobos lampu merah, dari sebelah kanan ada ambulans yang sedang melaju. Sopir ambulans kaget dan kehilangan kendali hingga akhirnya menabrak sebuah gedung tepat di perempatan dalam kecepatan tinggi dan sang lelaki menabrak tiang lampu lalu lintas di seberang.
Segera ia turun dari mobil dengan niat memaki sopir ambulans, hingga niatnya harus ia tarik saat melihat tubuh istrinya bersimbah darah dalam ambulans tersebut. Ia tak menyangka bahwa yang didalam ambulans itu adalah Mentari. Ia hampir saja dikeroyok warga sekitar namun batal karena ia berteriak bahwa itu adalah istrinya. Ia dan istrinya dinaikkan ke salah satu mobil warga sekitar dan segera menuju ke rumah sakit.
Ia menunggu istrinya yang sedang diusahakan untuk selamat oleh para dokter. Beberapa jam kemudian salah seorang dokter menjumpainya.
“Maaf, pak. Tapi kami sudah berusaha sebaik mungkin, istri anda tak bisa terselamatkan, tapi alhamdulillah anak bapak masih bisa terselamatkan. Turut berduka cita, pak,” ucap belasungkawa sang dokter lalu pergi meninggalkannya.
Kala itu sang lelaki dibaluti suka dan duka, istrinya pergi meninggalkannya untuk selamanya, lelaki petarung kecil datang ke dunianya. Air matanya tak berhenti menetes selama berjam-jam, seketika semua penyesalannya berkumpul menjadi satu dan meledak di kepalanya.
Langit Nakesha, nama sang pria, seperti sifatnya yang selalu merasa tinggi, sombong dan keras kepala. Ia tak ingin anak lelakinya menjadi sepertinya, maka pahlawan kecilnya ia beri nama Bumi Baridah, dengan harap agar Bumi menjadi anak yang hebat dan tetap selalu merendah. Adzan ia kumandangkan di telinga Bumi.
Dalam menjalani hidup baru yang hanya bersama pahlawan kecilnya, Langit menerbitkan buku terbarunya. Di halaman sampul belakangnya tak lupa ia tuliskan kalimat “Sayang, walaupun kamu telah pergi dariku, aku akan selalu menulis karnamu, atasmu dan untukmu. Kamu akan selalu menjadi mentari untuk Langit dan Bumimu”
Dari semua itu Langit belajar bahwa tak ada yang menetap di dunia ini, bahkan udara yang ia hirup akan dihembuskan juga. Penyesalan ada agar manusia tak lagi mengulangi kesalahan yang sama.
“Maka bumikan sifatmu, dan langitkan doamu”.







