PALU, LPMQALAMUN.com – Sejumlah mahasiswa UIN Datokarama Palu membagikan pengalaman berharga mereka saat mendampingi mahasiswa asing dalam kegiatan Datokarama International Short Course (DISC) 2026 yang digelar beberapa waktu lalu.
Rizqi Dwicahyanti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti kegiatan tersebut, terutama melalui interaksi langsung dengan peserta dari berbagai negara.
Menurutnya, kegiatan ini memberinya kesempatan untuk memperkenalkan budaya daerah kepada mahasiswa asing, sekaligus mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Kota Palu, seperti Salena Hills dan Gong Perdamaian.
“Saat berkunjung ke tempat wisata itu sangat berkesan bagi saya pribadi, karena itu juga merupakan pengalaman pertama saya datang ke sana,” ujarnya saat diwawancarai kru LPM Qalamun, pada Rabu (20/5/2026).
Sementara itu, Muhammad Nadif Yamani, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN), mengungkapkan bahwa dirinya berusaha lebih terbuka dan percaya diri selama menjadi pendamping mahasiswa asing.
“Saya aktif menggunakan bahasa Inggris tanpa takut salah, sekaligus berusaha memahami cara berbicara dan kebiasaan mereka agar komunikasi terasa nyaman dan lancar,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa tantangan terbesar dalam mendampingi mahasiswa asing adalah menyampaikan pesan tanpa mengubah makna pembicaraan.
“Kadang ada istilah atau konteks tertentu yang sulit diterjemahkan secara langsung, sehingga saya harus berpikir cepat mencari kalimat yang mudah dipahami oleh kedua pihak,” jelasnya.
Di sisi lain, Muh. Ichsan, mahasiswa Program Studi Informatika, mengatakan bahwa pengalaman paling berkesan baginya adalah dapat berinteraksi langsung dengan peserta internasional serta saling memperkenalkan budaya dari masing-masing negara.
Di akhir wawancara, ia mengajak mahasiswa untuk tidak ragu terlibat dalam kegiatan internasional. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, serta memperluas relasi dengan peserta dari berbagai negara.
“Tidak perlu merasa harus sempurna dalam berbahasa asing. Yang penting adalah kemauan untuk beradaptasi dan keberanian mencoba pengalaman baru,” tutupnya.
Wartawan: Famanur, Ajax, Edelweis







