Oleh: Nur Syam Solehah
Wartawan LPM Qalamun
Pagi itu cukup berbeda. Setelah kelas lukis di Senin hingga Rabu, aku memutuskan untuk membiasakan hal baru yang mungkin akan sulit kulakukan di masa aktif kuliah. Entah mengapa, Sabtu itu aku merasa ingin menyusuri jalan yang membingkai danau, saat langit belum sepenuhnya biru, dan angin masih membawa sisa embun malam yang dingin.
Langkahku ringan, tapi tak bersemangat. Sampai akhirnya mataku menangkap sosok itu—dia. Duduk sendiri di bangku kayu yang menghadap ke danau. Tangannya terlipat di pangkuan, matanya menatap lurus ke permukaan air yang tenang. Ia tampak seperti seseorang yang sedang mendengarkan cerita dari sudut dunia yang ia pandang. Aku tahu yang ia tatap hanyalah danau, tapi mungkin saja ia sedang menganalogikan sesuatu atau sedang mengamati bagaimana dunia bekerja.
Aku memperlambat langkah. Tak ingin mengganggu, tapi juga tak sanggup berlalu. Ada keheningan yang menyatu di antara danau yang tenang dan sosok dalam diam itu—saling memahami tanpa kata-kata.
Beberapa detik berlalu hingga datanglah seorang anak kecil. Mungkin usianya 8 tahun. Ia menarik tangan si teduh, lalu duduk di sampingnya tanpa canggung. Mereka berbicara sebentar—aku tak mendengar jelas, tapi terlihat seperti tawa kecil dan pandangan kagum. Seolah bocah itu baru saja diajak untuk melihat dunia dari sisi yang berbeda—sisi yang selama ini mungkin hanya bisa dilihat oleh orang-orang seperti dia.
Aku tersenyum tanpa sadar. Bagaimana jika diriku duduk di sana, melihat apa yang mereka lihat? Tapi tepat saat aku melangkah sedikit lebih dekat, sesuatu dalam diriku terasa tertahan. Ada keinginan yang tak mampu untuk kutarakan. Sepertinya dunia harus tetap berjalan pada ritme awalnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan rute lariku, kemudian kembali ke rumah.
—
Matahari bersinar begitu terang menyambut hari Senin. Radiasinya menyengat, bahkan dari balik tirai studio, membuat kepala mudah pening dan fokus yang mudah terdistraksi. Saat jeda melukis yang agak lengang itu, aku berinisiatif membelikan es teh untuk menghilangkan dahaga di kelas.
Aku pun kembali dengan tujuh cup es teh di dalam kantong plastik yang kugenggam. Melihat antusiasme mereka sedikit menghilangkan rasa gerah yang kurasakan saat pergi ke kedai di hari yang panas ini.
“Eh! Wah, makasih banyak, Kak,” seru salah satu dari mereka, segera mengambil segelas.
Yang lain menyusul. Beberapa langsung duduk sambil menyeruput keras. Terdengar suara es yang saling berdenting di dalam plastik bening. Semuanya tampak senang kegirangan—kecuali dia.
Ia hanya menoleh sebentar, tersenyum tipis. Ia menerima es tehnya, tapi tak langsung meminumnya. Matanya kembali pada kanvas, tangannya kembali bergerak dengan pelan—menambahkan warna biru pucat pada bagian langit di lukisannya.
Aku berdiri tak jauh. Tak ingin terlihat menunggu reaksi apa pun. Tapi justru karena diam itu, aku mendengar suara kecil dari bangku sebelahnya.
“Kok aku masih haus, ya?” seru seorang teman yang dikenal agak blak-blakan.
Ia hanya mengangguk ringan, mendorong gelas plastik itu ke arah temannya.
“Lho, gak minum?”
“Aku kebetulan lagi puasa,” jawabnya pelan. Tidak terdengar seperti sesuatu yang ingin ia bagi—hanya penjelasan seperlunya. Ringan, tapi ada keteguhan yang tidak bisa disangkal.
Aku terdiam. Bukan karena terkejut, tapi karena tersentuh. Di tengah panas yang membuat siapa pun ingin menyeruput dingin, dia memilih untuk tetap berpuasa—tanpa perlu pengakuan, tanpa perlu pamer keteguhan.
Itu hanya percakapan kecil. Tapi bagiku, cukup untuk kembali mengingat bahwa kadang… hal-hal baik yang tidak ingin diumumkan bisa saja merupakan ketulusan tanpa berharap adanya pujian. Saat ia meredupkan cahayanya, benda-benda bersinar di sekitarnya malah menyorotnya.
—
Sore itu hujan turun perlahan, saat biru langit baru saja berubah menjadi kelabu. Aku masuk ke toko kue kecil di pojok jalan, tempat yang jarang ramai dan menyimpan aroma manis seperti pelukan masa kecil.
Di dekat rak kue kering, aku bertemu anak kecil itu—anak kecil yang pernah kulihat duduk di bangku taman bersama si dia. Ia menoleh, lalu senyumnya mengembang cepat.
“Kakak pelukis!” serunya ceria.
Aku menoleh, sedikit terkejut. “Kamu… kenal Kakak?”
“Iya,” katanya sambil nyengir. “Aku tahu dari Kakakku. Hehe.”
Aku tertawa kecil. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan, dan tentunya aku penasaran. “Kakakmu?”
“Iya. Kakak bilang, Kakak itu pintar melukis,” katanya polos. “Katanya, kalau aku pengen punya lukisan yang bagus dan bernilai jual… aku harus belajar sama Kakak.”
Aku terdiam. Kata-kata bocah itu menggantung seperti aroma kue manis yang baru keluar dari panggangan. Ada sesuatu yang hangat menelusup dalam dada. Bukan hanya karena pujian, tapi karena tahu… bahwa ternyata aku menjadi bagian dari ceritanya. Oleh seseorang yang selama ini begitu tenang, begitu sulit ditebak, dan tak pernah berkata banyak.
“Tapi… Kakak tidak sehebat itu,” jawabku pelan.
Sebelum kembali berbicara, neneknya memanggil dari arah kasir, sambil mengangkat kantong belanja. Bocah itu buru-buru pamit dan berlari kecil, lalu meninggalkan toko hingga tak terlihat lagi di balik pintu kaca.
Entah kenapa… aroma ini seperti tetes hujan pertama yang jatuh ke tanah yang kering. Mungkin aku perlu memastikan bahwa aroma yang kuhirup saat ini benar-benar aroma hujan.







