Oleh: Muh Ezwansya Lapato
Wartawan LPM Qalamun
Awal masuk MA, gue ngerasa semuanya sama aja kayak waktu di MTS dulu. Yah, karena MTS dan MA-nya berdampingan. Seragam putih krem yang dulu cuma gue lihat di kakak kelas, sekarang jadi pakaian gue sendiri. Sekolah rame banget, tiap sudut dipenuhi wajah-wajah asing. Ada yang langsung akrab, ada yang jutek, ada juga teman sekampung tapi nggak terlalu dekat—karena gue emang jarang bergaul.
Gue sendiri? Tipikal anak yang nggak banyak omong. Banyak ngomong cuma kalau udah akrab. Gue lebih suka diam, duduk di bangku pojok, dan ngamatin orang-orang. Kadang gue mikir, “Apa gue bisa bertahan tiga tahun di sini?” Untungnya, ada beberapa teman yang nyambung, walau nggak banyak.
Hari-hari pertama gue sibuk adaptasi. Dari guru yang cerewet dan suka motong rambut kalau udah panjang, tugas yang menumpuk, sampai anak-anak gaul yang nongkrong di kantin kayak itu wilayah mereka. Gue nggak terlalu suka ikut-ikutan. Pulang sekolah, biasanya gue langsung cabut, main HP, atau sekadar main game online.
Tapi di balik semua rutinitas itu, ada satu hal yang nggak gue sangka: gue kenal sama dia.
Awalnya biasa aja. Bukan satu kelas, bahkan bukan satu kota. Kenalnya cuma lewat temen. Gue pikir bakal sekadar kenal lalu lupa. Ternyata malah sering chat, sering teleponan, dan dari situlah hidup gue yang tadinya datar mulai berubah.
Obrolan awalnya receh—tentang tugas, guru killer, atau musik yang lagi trending. Tapi makin lama, makin dalam. Dari jam sembilan malam bisa lanjut sampai jam dua pagi. Aneh, gue yang biasanya ogah ngobrol panjang, sama dia bisa cerita apa aja.
Sampai suatu malam, dia pelan-pelan bilang soal perasaannya. Gue kaget, nggak nyangka. Dalam hati gue mikir, “Wah, kalau gue pacaran, sia-sia dong jomblo yang gue pertahanin dari dulu.” Tapi hati kecil gue nggak bisa bohong: gue nyaman sama dia. Akhirnya, gue bilang “iya” dengan nada ragu tapi jujur.
Hubungan itu resmi dimulai.
Karena beda kota, ketemuan jadi hal langka. Makanya, waktu akhirnya bisa ketemu, rasanya campur aduk—gugup, seneng, bingung harus ngapain. Kita duduk di warung kecil, makan seadanya, tapi buat gue itu udah luar biasa. Gue nggak butuh tempat mewah, karena yang bikin berharga itu siapa yang duduk di depan gue.
Tiap pertemuan jadi mahal. Walau jarang, tiap kali ketemu gue selalu pulang dengan senyum. Rasanya kayak, “Oh, ternyata beginilah rasanya pacaran.”
Hari-hari berjalan. Gue tetap sekolah seperti biasa—masuk kelas, dengerin guru, nongkrong di kantin. Tapi di balik itu semua, ada notifikasi yang selalu gue tunggu tiap hari: pesan darinya. Kadang cuma, “Udah makan belum?” tapi cukup buat bikin hari gue ringan.
Malam jadi waktu yang paling gue tunggu. Biasanya kami teleponan, ngobrol tentang mimpi, masa depan, keluarga, atau hal-hal receh yang bikin ketawa. Aneh, gue yang gampang bosan ngobrol panjang, sama dia bisa sampai ketiduran dengan HP masih nempel di telinga.
Semuanya terasa indah.
Pertemuan pertama masih jelas di ingatan. Gue deg-degan kayak mau ujian. Tapi semua rasa gugup hilang begitu ngelihat dia. Sederhana, senyum kikuk, tapi cukup bikin jantung deg-degan. Kita duduk di warung kecil, ngobrol seperlunya. Nggak ada yang mewah, tapi nyata banget. Gue sampai mikir, “Ternyata jadian sesederhana ini, cuma makan berdua, tapi kok rasanya dunia gue berubah?”
Kami ketemu beberapa kali lagi. Walau jarang, setiap momen jadi berharga. Entah duduk di taman atau makan bareng lagi—semuanya berkesan. Tiga bulan hubungan berjalan, semuanya manis. Walau jauh, kami saling percaya. Gue yang dulu cuek soal HP, sekarang bisa bolak-balik buka WhatsApp cuma buat lihat notifikasi darinya.
Tapi bulan keempat datang… dan semuanya berubah.
Chat-nya mulai singkat, kayak nggak sepenuh hati. Kalau dulu suka nanya balik, sekarang sering berhenti di “iya” atau “ok.” Telepon jarang, alasannya sibuk. Gue coba mikir positif, tapi rasa curiga mulai muncul. Dan rasa itu makin besar waktu sepupunya, Reskiya, tiba-tiba ngechat gue.
> “Lu masih sama dia, yah?”
“Iya, masih. Emangnya kenapa?”
“Serius? Gue liat dia kemarin jalan sama cowok lain.”
“Nggak percaya. Ada buktinya?”
“Udah lah, mending lu putusin aja. Dia udah sama cowok lain. Sumpah.”
Kata-kata itu muter terus di kepala gue. Gue berusaha buang jauh-jauh, tapi perasaan aneh itu tumbuh diam-diam.
Sampai akhirnya, kami ketemu di pantai. Sunset, ombak, angin laut. Indah, tapi rasanya ada jarak. Gue pinjem HP-nya dengan alasan foto, tapi dia buru-buru narik HP itu. Matanya panik. Dan di situ, hati gue kayak bilang, “Kayaknya bener kata Reskiya.”
Beberapa hari kemudian, semuanya terbongkar. Dia jujur lewat chat:
> “Maaf, gue udah sama laki-laki lain. Bukan berarti gue nggak sayang. Kalau jodoh, mungkin kita bisa ketemu lagi.”
Rasanya dunia gue berhenti. Semua kenangan hancur. Gue bengong di kelas, nggak fokus ngapa-ngapain. Temen gue, Fadlan, nyeletuk,
> “Lu kenapa bengong mulu, bro? Ayok ke kantin, laper nih gue.”
“Nggak dulu deh, di rumah udah sarapan.”
Padahal mata gue udah berkaca-kaca.
Malamnya, Fadlan sama Aris ngajak keluar.
> “Keluar, yuk. Gue udah di depan rumah lu nih.”
Mereka dua orang pertama yang bikin gue ngerasa nggak sendirian. Kami keluar bertiga, ketawa-ketawa di motor, dan malam itu, gue bisa sedikit lupa sama semuanya.
> “Lu mau nggak, kita minum?” tanya Fadlan dari spion.
“Serius? Ya udah, ikut aja,” jawab Aris.
“Lu gimana?” tanya Fadlan lagi.
Gue ngangguk, “Iya.”
Kami beli minuman, singgah di perumahan kosong. Awalnya gue ragu—seumur hidup nggak pernah nyentuh alkohol. Tapi malam itu gue pikir, “Minum aja, biar semua ini hilang.”
Kami ketawa, mabuk, lupa waktu. Tapi tiap kali efeknya hilang, rasa sakitnya justru datang lagi. Semakin banyak gue minum, semakin jelas kenangan itu muncul. Dan di situlah gue sadar:
cara melupakan seseorang bukan dengan cara yang salah.
Mulai hari itu, gue ubah hidup gue. Pelan-pelan, dengan hal-hal baik.
Jadian kami dimulai sesederhana makan-makan, tapi putusnya justru berakhir dengan minum-minuman.







