Oleh: Fikri
Wartawan LPM Qalamun
Aku berdiri di sini, di batas hari ini,
Menatap cakrawala yang masih tersembunyi.
Di sana, masa depan berbisik tanpa suara,
Memanggilku maju, meski hati terasa lara.
Ia adalah kanvas luas, belum tersentuh warna,
Menanti goresan kisah, antara suka dan bencana.
Aku adalah pena yang gemetar di genggaman,
Takut salah mengukir, namun ingin memberi kedalaman.
Masa depan bertanya, “Apa yang kau bawa, wahai jiwa?”
Aku menjawab, “Hanya seikat janji dan sisa air mata.
Kegagalan yang mengajariku cara bangkit perlahan,
Serta mimpi-mimpi liar yang menuntut pembuktian.”
Di antara kami, terentang jembatan yang panjang,
Terbuat dari kerja keras dan doa yang menjulang.
Setiap langkah adalah taruhan, setiap detik adalah bekal,
Menempa diri agar layak menyambut hari yang kekal.
Aku tahu, ia takkan datang membawa janji kemudahan,
Ia akan menguji keteguhan, mengukur kesabaran.
Namun aku siap, sebab di balik bayangannya yang jauh,
Tersimpan versi terbaik diriku yang kurindukan.
Maka aku akan melangkah, tanpa ragu dan tanpa henti,
Sebab masa depan adalah cerminan dari aku hari ini.







