Oleh : Sirajul Fuad
Wartawan Magang
Loris duduk di bangku taman sekolah, menatap langit yang mulai memerah oleh senja.Di sebelahnya, kosong. Seharusnya Rosaline ada di sana, seperti biasanya. Tapi hari ini, seperti beberapa minggu terakhir, Rosaline menghindar.
Loris tahu, itu bukan tanpa alasan. Rosaline masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya. Mantan yang tak kunjung pergi dari pikirannya, seperti lagu yang stuck di kepala dan susah dilewati.
Loris pernah bercanda, “Kalau mantanmu itu lagu, aku siap jadi playlist baru yang lebih asik.” Tapi Rosaline hanya tersenyum tipis, matanya jauh. Loris jatuh cinta pada Rosaline bukan karena dia sempurna.
Justru karena Rosaline punya luka yang dalam, dan Loris ingin jadi obatnya. Tapi cinta itu ternyata tidak cukup. Rosaline tidak bisa membuka hatinya sepenuhnya, dan Loris harus menerima kenyataan pahit itu.
Setiap kali Loris mencoba mendekat, Rosaline selalu memberi jarak. Kadang Loris merasa seperti detektif yang gagal memecahkan misteri. “Kenapa kamu dingin banget, sih? Aku bukan es krim yang harus kamu simpan di freezer,” kelakar Loris dalam hati, tapi suaranya tetap datar.
Loris mulai berubah. Dari yang dulu ceria dan penuh semangat, kini ia menjadi sosok yang pendiam dan dingin. Teman-temannya bertanya, “Bro, kamu kenapa? Kok kayak robot?” Loris hanya tersenyum kecut, “Lagi upgrade software hati, nih.”
Rosaline merasa kehilangan. Dia rindu Loris yang dulu, yang selalu bisa membuatnya tertawa dengan lelucon receh. Tapi dia juga takut, takut kalau membuka hati lagi hanya akan membuatnya terluka lebih dalam. “Mantan itu kayak mantan charger, selalu nyambung tapi nggak pernah penuh,” pikir Rosaline sambil menahan air mata.
Suatu hari, Loris melihat Rosaline duduk sendiri di perpustakaan, wajahnya murung. Loris ingin mendekat, tapi mulutnya seakan tak bergerak. Akhirnya dia hanya mengangguk pelan dan pergi. “Kamu ini, Loris, kayak sinyal WiFi, kadang kuat kadang hilang tanpa alasan,” pikir Rosaline sambil tersenyum pahit.
Loris tahu, sikap dinginnya menyakiti Rosaline. Tapi dia juga lelah berharap pada sesuatu yang belum pasti. “Kalau cinta itu matematika, aku sudah berhitung dan ternyata hasilnya nol,” gumam Loris dalam hati. Mereka berdua terjebak dalam lingkaran yang sama: ingin bersama tapi takut terluka.
Loris memilih mundur, bukan karena tidak cinta, tapi karena mencintai kadang berarti memberi ruang. Ruang yang mungkin Rosaline butuhkan untuk sembuh.
Hari-hari berlalu, dan Loris semakin jauh. Rosaline mulai menyadari bahwa kehadiran Loris adalah cahaya kecil yang selama ini dia abaikan. Tapi kini, cahaya itu mulai redup, hampir padam. Suatu sore, saat hujan turun deras, Loris dan Rosaline berteduh di bawah pohon yang sama.
Rosaline berkata pelan, “Loris, maaf aku belum bisa jadi yang kamu mau.” Loris menatapnya, “Aku nggak mau kamu berubah, Rosaline. Aku cuma ingin kamu bahagia, walau itu bukan denganku.” Keduanya terdiam, hujan menjadi saksi bisu perpisahan yang tak terucap.
Loris tahu, dia harus pergi agar Rosaline bisa menemukan dirinya sendiri. Dan Rosaline tahu, dia harus belajar melepaskan masa lalu agar bisa membuka hati.
Loris berjalan pergi, meninggalkan Rosaline dengan sejuta harapan yang belum sempat terucap. Tapi di balik sikap dinginnya, Loris menyimpan doa agar Rosaline suatu hari bisa bahagia, dengan atau tanpa dirinya.
Malam itu, Loris menulis di buku hariannya, “Cinta tanpa status memang menyakitkan, tapi kadang itu cara terbaik untuk mencintai tanpa menyakiti.” Dia tersenyum kecil, lalu mematikan lampu.
Rosaline menatap langit malam dari jendela kamarnya, berharap suatu saat bisa move on dan mungkin, suatu hari nanti, bisa kembali membuka pintu hati untuk Loris. Tapi untuk sekarang, dia hanya bisa berterima kasih pada Loris, yang pernah hadir dan mengajarinya arti cinta yang sabar.







