Home CERPEN Hujan di Bawah Payungmu

Hujan di Bawah Payungmu

73
0

Oleh: Andika Heru Prasetyo
Wartawan LPM Qalamun

Senja itu, hujan turun tanpa aba-aba. Orang-orang berlari mencari teduh, sementara aku hanya berdiri di pinggir jalan, membiarkan rinai menetes di bahuku.

Lalu kau datang—dengan payung biru yang tampak biasa, tapi entah mengapa terasa hangat.
“Sendiri?” tanyamu sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk, sedikit kikuk.

Kau membuka payungmu lebih lebar. “Kalau begitu, kita pulang bersama.”

Aku melangkah di sampingmu, terlalu dekat untuk disebut kebetulan, terlalu jauh untuk menyebutnya keberanian. Hujan yang biasanya dingin, sore itu terasa seperti musik yang hanya kita berdua yang bisa dengar.

“Kau tahu,” katamu pelan, “aku selalu berharap bisa berjalan denganmu di bawah hujan. Tapi tak pernah tahu bagaimana cara mengatakannya.”

Aku terdiam, jantungku berdetak lebih kencang daripada suara hujan di atas payung biru itu. Lalu, tanpa sadar aku menjawab:
“Mungkin hujan memang sengaja datang, hanya untuk mempertemukan harapanmu dengan hatiku.”

Sejak hari itu, setiap hujan turun, aku tidak lagi mencari tempat berteduh, Aku hanya menunggu satu hal: payung biru milikmu, yang selalu datang membawa kehangatan.

Momen di bawah payung biru itu menjadi penanda, membagi waktu hidupku menjadi dua: sebelum dan sesudah pertemuan itu. Obrolan kami mengalir seiring air yang menuruni aspal, dari hal-hal remeh tentang kenapa kamu memilih warna biru hingga cerita tentang impian masa kecil yang sering kausebut “konyol”. Di dekatmu, semua keraguan yang selama ini kurawat dalam diam perlahan larut.

Namun, kehangatan itu juga membawa serta ketakutan baru. Aku takut hujan akan berhenti. Aku takut senja akan kembali cerah, dan kita akan terpaksa berjalan sendiri-sendiri lagi, tanpa alasan sah untuk berbagi ruang sedekat itu.

Kini, aku menemukan keindahan baru dalam hujan. Bukan lagi simbol kesedihan atau penghalang aktivitas, melainkan undangan rahasia. Aku mulai menyukai aroma tanah basah, bunyi gemericik, dan kabut tipis yang menyelimuti kota, sebab semuanya adalah isyarat. Isyarat bahwa sebentar lagi, siluet tubuhmu akan muncul dari kejauhan, membawa serta warna favoritku—biru.

Payung biru itu kemudian menjadi saksi bisu atas banyak hal yang tak terucapkan, dari genggaman tangan pertama yang terjadi karena “tidak sengaja” bersentuhan saat payung bergoyang diterpa angin, hingga tawa renyah saat salah satu dari kita menginjak genangan air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here