Home OPINI Kepada Perempuan yang Terkikis

Kepada Perempuan yang Terkikis

39
0

Oleh: Luli Afianti
Jurusan: Hukum Tata Negara Islam
Pengurus LPM Qalamun

Ada narasi besar yang terus dibisikkan oleh lingkungan: “Ingat umur, nanti susah dapat jodoh,” atau “Jangan terlalu memilih, keburu expired.” Bagi sebagian perempuan, umur sering kali tidak dirayakan sebagai bentuk kedewasaan, melainkan dianggap sebagai hitung mundur. Inilah yang disebut sebagai the biological clock, sebuah istilah medis yang kemudian dipersenjatai secara sosial untuk mendesak perempuan mengambil keputusan hidup yang paling krusial di bawah bayang-bayang ketakutan. Kita perlu mempertanyakan: apa dampak dari keputusan yang lahir dari rasa takut ini?

Ketika seorang perempuan dipaksa memutuskan untuk menerima ajakan menjalin hubungan, bahkan hingga menikah, di tengah tekanan stigma sosial yang berargumen, “Nanti terlambat, disangka terlalu memilih, atau akan berdampak buruk baginya jika menolak,” pada saat itulah perempuan berada pada titik terabaikan dan suaranya tidak didengar. Tidak sampai di situ, perempuan sering kali dihadapkan pada standar kecantikan dan keelokan postur tubuh yang membuatnya mengenakan “topeng” demi memenuhi perspektif publik. Tidak sedikit perempuan yang merasa tidak percaya diri akibat parameter tersebut. Ironisnya, perempuan hari ini tetap berjuang di tengah ancaman femisida, kekerasan, dan pedofilia.

Baru-baru ini, peristiwa pembacokan terhadap mahasiswi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau bukan sekadar tindak kriminal biasa. Ia merupakan tamparan keras bagi nurani akademik dan kemanusiaan kita. Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh, belajar, dan membangun masa depan justru ternodai oleh kekerasan yang melukai bukan hanya fisik korban, tetapi juga mentalnya. Seorang laki-laki yang seharusnya memahami batasan justru bertindak di luar nalar kemanusiaan.

Dalam perspektif keilmuan dan nilai Islam, perempuan memiliki posisi yang sangat mulia. Ungkapan populer menyebutkan, “Al-mar’ah ‘imad al-bilad, idza shaluhat shaluhal bilad” perempuan adalah tiang negara; jika ia baik, maka baik pula negara itu. Bahkan, perempuan sering disebut sebagai madrasah pertama bagi generasi. Seorang ibu adalah sekolah awal bagi anak-anaknya; dari rahim dan asuhannyalah lahir pemimpin, ilmuwan, ulama, dan pembangun peradaban. Maka, ketika seorang perempuan disakiti, sejatinya yang dilukai adalah masa depan peradaban itu sendiri.

Kekerasan terhadap mahasiswi bukan hanya persoalan individu antara pelaku dan korban. Peristiwa tersebut mencerminkan persoalan struktural: lemahnya sistem perlindungan, kurangnya kesadaran kolektif tentang keamanan kampus, serta masih adanya cara pandang yang merendahkan perempuan. Karena itu, respons terhadap tragedi ini tidak boleh berhenti pada empati sesaat. Perempuan bukan objek yang dapat diperlakukan semena-mena. Ia adalah subjek peradaban—madrasah pertama, penjaga nilai, dan penentu arah masa depan. Melindungi perempuan berarti menjaga kemanusiaan. Menjaga mahasiswi berarti menjaga masa depan bangsa.

Tragedi ini semestinya menjadi momentum refleksi bersama: apakah kita sungguh-sungguh menghormati perempuan sebagaimana yang kita ucapkan dalam retorika, ataukah hanya menjadikannya slogan tanpa perlindungan nyata? Peradaban yang besar tidak dibangun di atas ketakutan, melainkan di atas rasa aman dan penghormatan terhadap martabat manusia, terutama perempuan yang menjadi fondasi awalnya.

Kepada manusia yang memiliki rahim yang istimewa, kepada insan yang diciptakan begitu indah, kepada pemilik masakan terenak di dunia, kuharap langkahmu selalu ringan, tempatmu selalu aman, dan jiwamu selalu tenang saat mengembara di mana pun berada. Semua perempuan berhak hidup aman, setara, dan sejahtera. Bukan salahmu menjadi perempuan. Ingatlah, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas. Bahkan jika seluruh dunia memilih kesalahan, kebenaran tetap berdiri di atas prinsip Ilahi. Dunia mungkin berjalan seperti jam dinding yang terus berdetak, namun ingatlah: kamu adalah pemilik jam itu sendiri. Putarlah sesuai kata hatimu, bukan sesuai teriakan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here