Home CERPEN Maaf yang Tak Pernah Sampai

Maaf yang Tak Pernah Sampai

6
0

Nama: Muhammad Gibran
Jurusan: Perbandingan Madzhab
Wartawan LPM Qalamun

Gerimis sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Saya duduk di lantai kamar yang kosong, menatap sebuah jaket tua berwarna cokelat yang tergantung di balik pintu. Jaket dengan bau yang sangat khas: campuran aroma keringat, matahari, dan tembakau murah.

Ya, itu bau ayah saya.

Selama ini, hubungan saya dan ayah tidak pernah seperti yang ada di film-film penuh pelukan atau obrolan mendalam dari hati ke hati. Ayah adalah manusia paling kaku yang pernah saya temui. Ia jarang tersenyum, bicaranya singkat, dan lebih sering diam. Dulu, saya sering merasa asing ketika berada di dekatnya. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa ayah tidak terlalu memedulikan saya.

Sampai pada suatu malam, beberapa minggu sebelum ayah pergi untuk selamanya.

Malam itu saya pulang larut karena urusan kuliah dan pekerjaan yang menumpuk. Saya sangat stres, lelah secara mental, lalu tanpa sengaja membentak ayah hanya karena ia bertanya,

“Sudah makan?”

Saya menjawab dengan ketus, “Ah, jangan di situ. Saya mau lewat.”

Ayah tidak marah. Ia hanya terdiam, mengangguk pelan dengan tatapan mata yang sedikit meredup, lalu berjalan kembali ke kamarnya yang gelap. Saya tidak pernah meminta maaf setelah malam itu karena gengsi yang begitu besar. Dalam pikiran saya saat itu,

“Ah, nanti kapan-kapan saja minta maaf. Paling ayah juga paham.”

Namun, waktu tidak pernah mau berkompromi dengan penyesalan.

Dua minggu kemudian, ayah ambruk. Tubuhnya yang selama ini saya kira sekuat “Thanos” ternyata sudah digerogoti penyakit parah yang ia sembunyikan rapat-rapat dari saya demi tidak menambah beban pikiran saya saat itu. Pada hari terakhirnya di rumah sakit, ketika napasnya sudah tersengal, ayah tidak bisa berbicara lagi. Ia hanya menatap saya dengan mata berkaca-kaca, menggenggam tangan saya dengan sisa tenaga yang begitu lemah, lalu perlahan genggaman itu terlepas.

Ayah pergi tanpa satu pun kata perpisahan dan tanpa sempat mendengar kata maaf dari mulut saya.

Seminggu setelah pemakaman, saya memberanikan diri membereskan kamar ayah. Di bawah kasurnya yang sudah tipis, saya menemukan sebuah buku agenda kecil yang usang.

Ketika saya membukanya, dada saya langsung terasa sesak. Di dalamnya penuh dengan tulisan tangan ayah yang kaku, mencatat setiap detail tentang hidup saya.

“Alhamdulillah, hari ini anak saya diterima kuliah. Uang tabungan belum cukup. Saya harus mencari pinjaman malam ini. Dia harus sekolah tinggi dan tidak boleh susah seperti ayahnya.”

Di lembar lain, ada catatan yang ditulis tepat pada malam saat saya membentaknya.

“Ibam pulang malam lagi. Wajahnya capek sekali. Saya mau mengajaknya bicara, tetapi takut mengganggu. Tadi saya bertanya apakah dia sudah makan atau belum, tetapi dia marah. Mungkin saya yang salah, terlalu cerewet dan tidak tahu cara mengekspresikan rasa sayang. Maafkan ayah yang tidak berguna ini, Nak. Ayah hanya takut kamu kelaparan di luar sana.”

Pada halaman paling terakhir, ada coretan gemetar yang tampaknya ditulis ayah saat menahan sakit sendirian di kamarnya.

“Ya Allah, sakitnya makin tidak tertahankan. Namun, saya harus bertahan sedikit lagi sampai dia lulus. Saya ingin melihat anak saya memakai toga. Setelah itu, kalau Tuhan ingin menjemput saya, saya ikhlas.”

Saat itu juga, pertahanan saya runtuh. Saya menangis sejadi-jadinya di lantai kamar ayah yang sepi. Udara di sekitar saya seakan hilang, dada saya sesak sampai sulit bernapas.

Selama ini saya menuntut ayah untuk mengerti dunia saya tanpa pernah mau mengerti dunianya. Saya terlalu sibuk tumbuh dewasa sampai lupa bahwa ayah juga semakin menua. Ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk menjadi tameng dari kerasnya dunia bagi saya, sementara dirinya sendiri terluka tanpa pernah mengeluh ataupun meminta tolong.

Kini, toga itu ada di tangan saya. Namun, orang yang paling ingin saya tunjukkan keberhasilan ini sudah tertimbun tanah sedalam dua meter.

Kalau kamu yang membaca ini masih bisa mendengar suara langkah kaki ayahmu di rumah atau masih bisa melihat pesannya di ponselmu, tolong kesampingkan gengsi dan segala urusanmu. Peluklah dia, atau setidaknya berbicaralah dengan lembut kepadanya.

Sebab, bagian paling menyakitkan dari kehilangan seorang ayah adalah ketika kamu menyadari bahwa semua cinta yang ia berikan baru kamu pahami saat tanah lebih dahulu memeluknya daripada dirimu.

Dan ketika kamu akhirnya ingin meminta maaf kepadanya, yang tersisa hanyalah sunyi karena maaf itu tak lagi bisa dibalas dengan suara lembut dan hangat pelukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here