Nama: Nadjwa Nurul Awalia
Jurusan: Sejarah Peradaban Islam
Pengurus Redaksional LPM Qalamun
Aku selalu percaya bahwa beberapa orang datang ke hidup kita bukan untuk tinggal, melainkan untuk meninggalkan sesuatu yang akan kita ingat jauh lebih lama daripada kehadiran mereka.
Dia adalah salah satunya.
Namanya masih sama seperti yang kuingat dahulu. Senyumnya pun ternyata masih sama senyum sederhana yang dulu sering membuatku lupa dengan apa yang ingin kukatakan.
Kami pertama kali bertemu dalam sebuah kegiatan. Saat itu, kami hanya saling menyapa dan berbicara seperlunya. Tidak ada kejadian istimewa yang membuatku langsung menyadari apa pun. Hanya percakapan sederhana yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Sejak pertemuan pertama itu, kami sering bertukar cerita. Tentang kuliah, tentang keluarga, tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Namun, entah sejak kapan, aku mulai menunggu pesan darinya. Mulai mencari keberadaannya di antara banyak orang. Mulai menghafal kebiasaan-kebiasaan kecilnya tanpa pernah berniat untuk menghafalnya.
Saat itu, aku sadar, mungkin aku menyukainya.
Sayangnya, aku terlalu takut untuk mengatakannya. Aku selalu berpikir akan ada waktu yang tepat.
“Besok saja,” pikirku.
Besok berubah menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Sampai akhirnya, keadaan membuat kami berjalan ke arah yang berbeda.
Hari itu, kami berpisah tanpa pengakuan apa pun.
Aku hanya mengatakan, “Jaga diri.”
Padahal, ada begitu banyak kalimat yang ingin kusampaikan.
Aku suka kamu.
Aku senang setiap kali kita berbicara.
Aku ingin mengenalmu lebih lama.
Namun, semuanya hanya tinggal di kepala.
Waktu berlalu. Aku mulai terbiasa tanpa kehadirannya. Setidaknya, begitulah yang selalu kukatakan kepada diriku sendiri.
Sejak pertemuan di lobi kampus itu, kami kembali sesekali bertukar kabar. Tidak setiap hari, tidak juga terlalu sering. Hanya percakapan-percakapan sederhana yang entah mengapa selalu membuatku menunggu pesan berikutnya.
Sampai suatu hari, dia mengabariku.
“Kayaknya sebentar lagi aku bakal sibuk.”
“Sibuk kenapa?”
“Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Tinggal beberapa minggu lagi.”
Aku tersenyum kecil.
“Berarti sebentar lagi kamu pergi?”
“Mungkin. Tapi belum tahu juga.”
Entah mengapa, kalimat itu membuatku terdiam.
Sejak saat itu, aku mulai menyadari bahwa waktuku bersamanya mungkin tidak sebanyak dulu. Beberapa urusan di kampus membuatnya lebih sering berada di sana, meskipun hanya sebentar.
Suatu sore, kami kembali bertemu di lobi.
“Kamu sekarang sering banget di kampus,” kataku.
Dia tertawa. “Iya, lagi banyak yang harus diurus.”
“Capek?”
“Capek sih. Tapi sebentar lagi selesai.”
Aku mengangguk.
“Setelah itu, kamu bakal jarang ke sini?”
“Kayaknya begitu.”
Dia menjawabnya dengan santai, tetapi entah mengapa aku justru merasa ada sesuatu yang berat dari kalimat itu.
Aku memperhatikannya beberapa saat.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi seperti dulu, aku kembali ragu.
Aku tahu waktu kami tidak banyak.
Dan semakin dekat waktunya, semakin sering muncul satu pertanyaan di kepalaku:
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Bertahun-tahun kemudian, aku masih sesekali mengingatnya.
Bukan karena aku masih menunggu, melainkan karena ada bagian dari masa lalu yang memang tidak pernah benar-benar selesai.
Aku pernah menyukainya. Sangat sederhana, sebenarnya. Hanya saja, perasaan itu terlalu lama kusimpan sampai akhirnya kesempatan untuk mengatakannya hilang begitu saja.
Mungkin memang tidak semua perasaan harus memiliki akhir seperti yang kita inginkan. Ada yang cukup menjadi cerita, ada yang cukup menjadi kenangan, dan ada pula yang hanya tinggal sebagai kalimat yang tidak pernah sempat disampaikan.
Kalau suatu hari nanti kami kembali bertemu, mungkin aku tidak akan lagi berharap apa-apa.
Aku hanya ingin tersenyum dan berkata,
“Terima kasih pernah menjadi bagian dari cerita yang tidak akan pernah kulupakan.”
Karena pada akhirnya, aku belajar satu hal yaitu tidak semua perasaan yang tulus harus dimiliki. Namun, setiap perasaan yang berarti setidaknya pernah pantas untuk diungkapkan.
Dan perasaanku kepadanya?
Tetap menjadi satu kalimat yang sampai hari ini belum pernah benar-benar sempat kuucapkan:
“Aku pernah menyukaimu.”







