Home PUISI Lelaki yang Memilih Menjadi Tulang

Lelaki yang Memilih Menjadi Tulang

5
0

Nama: Haikal Rizieq
Jurusan: Informatika
Pengurus LPM Qalamun

Ia memilih menjadi akar yang terbenam tenang,
agar pohon-pohon di atasnya tetap menjulang.
Tak mengapa namanya hilang,
asal daun-daun lain masih bisa bergoyang.

Ia memilih menjadi jembatan yang terbentang,
meski telapak demi telapak datang menginjak tanpa bilang.
Tak ada yang memeluk ketika ia mulai renggang,
semua hanya marah saat ia hampir tumbang.

Ia memilih menjadi payung di tengah petir menyerang,
menadah hujan hingga tubuhnya remuk berlubang.
Orang-orang pulang dengan pakaian tetap kering dan senang,
Sedangkan ia pulang membawa dingin yang tak pernah hilang.

Ia memilih menjadi lilin yang terus berjuang,
mencair sedikit demi sedikit demi seberkas terang.
Orang-orang memuji indahnya cahaya yang datang,
namun tak seorang pun melihat tubuhnya habis perlahan menghilang.

Ia memilih menjadi laut yang selalu lapang,
menerima setiap sungai yang membawa lumpur dan kenangan.
Tak pernah meminta siapa datang, siapa pulang,
sebab hatinya terlalu luas untuk sekadar menimbang.

Lalu orang-orang berkata,
“Lelaki itu memang kuat …”

Padahal …

Tak ada pohon yang menangis ketika akarnya patah di belakang.
Tak ada langit yang bertanya ketika awan menyimpan petir sendirian.
Tak ada ombak yang mengerti betapa laut sedang karam diam-diam.
Sebab yang terlihat hanya tenang.

Ia membiarkan namanya menjadi arang,
agar nama mereka tetap dikenang.
Ia rela wajahnya dipandang curang,
asal orang yang disayang tak ikut dipandang.

Ia memeluk semua orang yang datang,
meski tak satu pun tinggal ketika malam menjelang.
Ia menjadi rumah yang selalu terbuka sepanjang siang.
Namun, tidur sendiri ketika sunyi mulai menyerang.

Sampai akhirnya

Akar itu tak lagi mampu menggenggam batang.
Jembatan itu tak lagi sanggup menahan yang datang.
Lilin itu tak lagi memiliki sisa untuk menyala terang.
Dan payung itu robek tanpa sempat dikenang.

Orang-orang bertanya,
“Mengapa ia berubah sekarang?”

Tak seorang pun sadar …

Yang mereka sebut “berubah”
hanyalah seorang lelaki
yang akhirnya kehabisan dirinya sendiri
karena terlalu lama membagikan seluruh hidupnya untuk orang lain.

Dan andai suatu hari kau melihat pohon besar yang tumbang,
jangan salahkan badai yang datang.
Barangkali yang membunuhnya bukan angin yang menerjang …

Melainkan
Akar yang terlalu lama menanggung
beban kehidupan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here