Nama: Sitti Nurhalisa Humairah
Jurusan: Informatika
Wartawan LPM Qalamun
“Aluna, waktunya bangun. Sekolahmu sudah mau mulai, loh. Ayo, sini sarapan!” teriak Mama dari dapur, perlahan membangunkanku dari tidur.
Aku membuka mata dengan malas. Tanganku meraba ponsel yang terletak di samping bantal. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
“Ya ampun, sudah pagi.”
Aku langsung bangun dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap, aku menuju meja makan. Di depanku sudah tersedia sarapan yang dibuat Mama.
Hari ini adalah hari ketiga sekolahku dilakukan secara daring. Sekolah diliburkan selama dua minggu karena suatu keadaan yang mengharuskan kami belajar dari rumah. Awalnya, aku mengira sekolah daring akan terasa menyenangkan karena tidak perlu bangun terlalu pagi dan tidak perlu memakai seragam. Namun, setelah beberapa hari, ternyata aku justru mulai merindukan suasana sekolah.
Aku membuka laptop dan mengikuti pembelajaran seperti biasa.
“Baik, anak-anak, setelah pelajaran ini selesai, tugas yang diberikan dua hari kemarin dan tugas hari ini dikumpulkan langsung ke sekolah, ya. Ibu tunggu sampai jam tiga sore,” kata Bu Linda dari balik layar.
Aku melihat jam. Baru pukul sepuluh pagi. Tumben selesai cepat. Biasanya sekolah daring baru selesai sekitar pukul satu siang. Karena tugas harus dikumpulkan langsung ke sekolah, aku segera menyelesaikan semuanya.
Setelah selesai, aku bersiap untuk pergi. Kulihat matahari sudah cukup terik dan jam menunjukkan pukul satu siang.
Aku mengambil tas dan berjalan keluar rumah.
“Ma, aku pergi dulu ya, ke sekolah!”
Aku baru saja menyalakan motor ketika Mama keluar menghampiriku.
“Mau ke mana siang-siang begini?”
Aku langsung teringat bahwa aku belum meminta izin.
“Oh iya, Ma, lupa izin. Mau antar tugas ke sekolah.”
Mama menghela napas. “Ya sudah. Hati-hati. Jangan lama-lama.”
“Iya, Ma.”
Aku segera berangkat.
—
Sesampainya di sekolah, entah kenapa ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul. Sudah beberapa hari aku tidak melihat teman-temanku secara langsung. Walaupun sekolah daring tetap membuat kami berkomunikasi, rasanya tetap berbeda.
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Kelas-kelas terlihat sepi. Setelah itu, aku langsung menuju ruang guru untuk mencari Bu Linda.
“Bu, ini tugas saya.”
Bu Linda menerima tugas yang kubawa.
“Oh, Aluna, sini duduk dulu.”
Ia kemudian menanyakan beberapa hal mengenai materi yang sudah dipelajari selama tiga hari terakhir. Aku menjawab sebisaku. Beberapa poin memang sudah mulai kulupakan, tetapi untungnya aku masih bisa menjawab sebagian besar pertanyaannya.
Setelah selesai, aku berpamitan.
“Terima kasih, Bu.”
“Iya, hati-hati.”
Aku keluar dari ruang guru dan kembali memasang sepatu. Saat sedang mengikat tali sepatu, tiba-tiba seseorang berjalan melewatiku. Aku mengangkat kepala, dan saat itulah mata kami bertemu.
Untuk beberapa detik, dunia seolah kehilangan suara. Tatapannya membuatku terdiam, sementara entah mengapa jantungku justru lebih dulu mengenali sesuatu yang belum mampu kupahami.
Aku mengenal wajah itu—seorang laki-laki yang terasa tidak asing, tetapi sudah lama tidak kulihat.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, menyelesaikan tali sepatu, lalu berdiri dan berjalan menuju parkiran.
“Itu Sagara, kan?” gumamku dalam hati.
Aku menoleh sedikit ke belakang. Ternyata ia sedang berjalan menuju ruang guru.
“Sagara sekolah di sini juga? Kok aku nggak pernah lihat?” tanyaku dalam hati.
Aku menggeleng. Dia juga sudah jauh lebih rapi sekarang. Dulu, ketika masih SMP, penampilannya bisa dibilang cukup berantakan. Berbeda sekali dengan laki-laki yang baru saja kulihat.
—
Keesokan harinya, setelah selesai pembelajaran daring, ponselku berbunyi. Ada pesan dari nomor yang tidak kukenal.
“Ini Aluna, kan?”
Aku mengernyitkan dahi. Siapa?
“Iya, saya Aluna. Ini siapa?”
Beberapa saat kemudian balasan masuk.
“Sagara.”
Aku langsung terdiam.
“Sagara? Sagara yang SMP dulu?”
“Iya, wkwk.”
Aku tersenyum kecil.
“Nomorku dapat dari mana?”
“Dari teman kelas kita dulu.”
Tidak kusangka, pertemuan singkat di sekolah kemarin akhirnya membuat kami kembali berkomunikasi. Awalnya kami hanya membahas hal-hal biasa: sekolah, tugas, teman-teman SMP, dan perubahan penampilan masing-masing.
Namun, lama-kelamaan pembicaraan kami melebar. Kami membicarakan tren TikTok, video lucu, gosip sekolah, bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Entah bagaimana, kami terus mengobrol.
Hari demi hari, tanpa kusadari, pesan dari Sagara mulai menjadi sesuatu yang kutunggu.
—
(Waktu berjalan, hubungan makin dekat…)
Hingga suatu hari, semuanya berubah perlahan.
Sagara tidak lagi mengirim pesan.
Satu hari.
Dua hari.
Tiga hari.
Awalnya aku tidak peduli.
“Mungkin dia sibuk.”
Namun, di hari keempat, aku mulai membuka WhatsApp berkali-kali. Tidak ada pesan.
Aku mengetik:
“Sagara, kamu kenapa?”
Lalu menghapusnya.
Aku mengetik lagi:
“Sibuk?”
Lalu menghapusnya lagi.
Aku tidak mau terlihat menunggu, padahal sebenarnya aku sedang menunggu.
—
Di sekolah, Sagara tetap bersikap seperti biasa. Namun, aku tahu ada yang berubah.
“Sagara.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Jarang chat.”
Sagara tersenyum tipis.
“Bukannya kamu yang bilang kita jangan terlalu jauh?”
Aku terdiam.
“Aku cuma berusaha menghargai batas yang kamu buat.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ternyata selama ini aku sendiri yang meminta batas. Aku yang mengatakan kami hanya teman, tetapi saat ia mulai menjauh, aku justru merasa kehilangan.
—
Waktu terus berjalan hingga hari kelulusan tiba.
Di tengah keramaian, aku melihat Sagara.
“Selamat lulus, Gar.”
“Selamat lulus juga, Lun.”
Kami tersenyum. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi tidak ada satu pun yang keluar.
“Setelah ini kamu kuliah di mana?” tanyanya.
Aku menyebutkan kota tujuanku.
“Aku mungkin juga pergi,” katanya pelan.
Kami terdiam.
“Lun.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita ketemu lagi?”
Aku tersenyum.
“Ya, kita ketemu lagi.”
—
Tidak ada janji untuk menunggu. Tidak ada janji untuk tetap bersama. Kami hanya berpisah.
Dan mungkin, itulah kesalahan terbesar kami.
Kami terlalu sibuk menunggu waktu yang tepat, sampai akhirnya waktu itu benar-benar habis.
—
Bertahun-tahun kemudian, aku menemukan kembali percakapan lama kami.
Tentang tugas, tentang sekolah, tentang hal-hal kecil yang dulu terasa penting.
Aku teringat satu kalimat itu:
“Aku suka sama kamu. Kamu mau nggak kita jadi kita?”
Aku tersenyum kecil.
Dulu aku pikir lima bulan itu panjang. Ternyata, lima bulan terlalu singkat.
Yang kutahu, kami pernah saling suka. Kami pernah hampir menjadi “kita”. Namun, kami tidak pernah sampai ke sana.
Sekarang aku mengerti, tidak semua cerita harus berakhir bersama.
Sebab ada cerita yang selesai bukan karena kehilangan rasa, tetapi karena waktu memilih berjalan lebih dulu.
Aku dan Sagara bukan kisah cinta yang gagal.
Kami hanya cerita yang tak pernah berlanjut.







