Erosi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia: Ancaman Serius bagi Negara Hukum Indonesia
Demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) merupakan dua pilar utama negara hukum yang secara konstitusional diakui dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Sementara itu, jaminan terhadap HAM ditegaskan secara eksplisit dalam Pasal 28A sampai dengan Pasal...
Bangun Kepercayaan Civitas Akademika, UIN Datokarama Palu Raih Akreditasi Unggul
PALU, LPMQALAMUN.com – Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. H. Lukman S. Thahir, M.Ag., berhasil membawa UIN Datokarama Palu meraih akreditasi unggul dalam kurun waktu dua tahun masa jabatannya. Rektor mengungkapkan bahwa membangun _Trust_ (kepercayaan) menjadi tantangan tersendiri. Keberhasilan meraih predikat unggul tersebut tidak terlepas dari kerja sama antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. “Tantangan terberat dalam meraih akreditasi unggul ialah...
Milad ke-12 HMPS Hukum Keluarga, Menyatukan Kebersamaan dalam Bingkai Kekeluargaan
PALU, LPMQALAMUN.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga (HK) Fakultas Syariah (FASYA) UIN Datokarama Palu menggelar malam puncak milad ke-12 tahun di Graha Indah Makmur pada Kamis (18/12/2025). Kegiatan yang mengusung tema “Bersatu Dalam Cinta Untuk Membangun Kebersamaan Serta Mempererat Rasa Kekeluargaan” berlangsung meriah dengan beberapa penampilan dari mahasiswa/i HK. Dengan konsep outdoor dan nuansa segar, acara ini...
Manfaat Membaca Buku di Era Digital
Oleh: Rahmatia Wartawan LPM Qalamun Di era digital saat ini, remaja lebih akrab dengan gawai, media sosial, dan berbagai aplikasi hiburan dibandingkan dengan buku. Arus informasi bergerak sangat cepat, sehingga banyak orang lebih memilih konsumsi konten singkat seperti video pendek atau postingan media sosial. Namun, di tengah perubahan gaya hidup tersebut, membaca buku tetap memiliki manfaat besar yang tidak bisa tergantikan...
Menghargai Waktu, Menghargai Hidup
Oleh: Fikri Wartawan LPM Qalamun Kita semua memiliki satu kesamaan mutlak: waktu. Ia adalah mata uang paling berharga yang diberikan alam semesta—berbeda dengan uang atau harta benda, waktu tidak bisa kita tabung atau pinjam. Setiap detik yang berlalu adalah transaksi satu arah; ia hilang selamanya. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya menghemat waktu, banyak dari kita justru semakin sering menyia-nyiakannya,...
Hari Ini Milik Kita
Oleh: Fikri Wartawan LPM Qalamun Matahari pagi di Palu menyambut dengan hangat. Cahayanya menembus celah-celah pepohonan di sekitar Teluk Palu, menciptakan lukisan indah di permukaan air. Di sebuah gubuk kecil di tepi pantai, seorang pemuda bernama Ardi menggeliat bangun. Hari ini adalah hari yang berbeda. Hari ini, ia dan teman-temannya akan mewujudkan mimpi mereka. Ardi adalah seorang nelayan muda. Sejak...
Media Sosial, Cermin yang Membiaskan Diri Kita Sendiri
Oleh: Aura Reski Ramadani Wartawan LPM Qalamun Di era media sosial, kesehatan mental bukan lagi isu yang bisa dianggap sepele. Kita hidup dalam dunia di mana diri kita dinilai bukan dari siapa kita sebenarnya , tetapi dari apa yang terlihat di layar kecil. Media sosial awalnya diciptakan sebagai ruang berbagai, namun perlahan berubah menjadi panggung kompetisi yang tak terlihat. Kita men-scroll...
Lelah yang Tak Bisa Diceritakan
Oleh: Zul Syahrul Ramadhan Wartawan Magang Hidup ternyata tidak seindah cerita, bangun pagi bukan untuk mimpi, tapi untuk bertahan. Lelah datang lebih dulu sebelum sempat bahagia. Kita dipaksa kuat saat tak ada pilihan lain. Masalah datang satu-satu, sementara bantuan sering terlambat atau tak pernah ada. Banyak hal ingin diceritakan, tapi tak semua orang mau mendengar. Akhirnya diam jadi kebiasaan, menangis jadi urusan sendiri. Dan hari demi hari aku belajar, bahwa hidup bukan tentang bahagia, melainkan tentang seberapa lama...
Negeri yang Pandai Berjanji
Oleh: Zul Syahrul Ramadhan Wartawan Magang Di atas podium, janji dipoles seperti emas, turun ke jalan, ia mengelupas jadi debu dan lemas. Rakyat diminta sabar, katanya demi masa depan, sementara meja kekuasaan penuh piring kenyang. Anggaran dibacakan dengan suara berwibawa, namun bocor halus di saku yang tak pernah bernama. Hukum berdiri tegak—katanya sama rata, tapi selalu menunduk saat berjumpa tahta. Kami tak menuntut surga turun dari langit, hanya keadilan yang...
Sumatra Menunggu Tanggung Jawab
Oleh: Zul Syahrul Ramadhan Wartawan Magang Banjir itu bukan kecil, seribu lebih nyawa hilang, ribuan orang mengungsi, rumah hanyut seperti tak pernah dihuni. Namun negara memilih kata yang aman, agar tanggung jawab tak ikut tenggelam. Air datang membawa kayu gelondongan, katanya tak bertuan. Padahal hutan tak pernah berjalan sendiri ke sungai. Kayu ditebang, dilepas, lalu alam dipaksa jadi kambing hitam. Di tengah lumpur dan tangis, pejabat datang dengan kamera. Sepatu bersih, rompi anti peluru, pidato singkat...













