Oleh: Moh Fauzan
Wartawan LPM Qalamun
Meskipun ketikanmu beku tanpa sapa,
dingin seperti angin yang tak lupa pulang,
aku percaya — di balik layar tak bersuara,
ada hati yang mungkin sedang rapuh, dan sedang diam.
Huruf-huruf berdiri tegak, tak berpeluk,
namun tiap jeda menyimpan luka yang tak kau tunjuk.
Apakah itu caramu melindungi rasa?
Membungkus air mata dengan logika?
Kata-katamu seperti pagar besi,
namun kadang logam pun berkarat oleh sepi.
Dan aku melihat cela di antara titik dan koma,
tempat sunyi bernafas dalam rahasia.
Siapa tahu — hatimu bukan batu,
tapi kain yang menyerap semua luka tanpa suara,
yang memilih diam daripada menjelaskan
betapa dunia pernah menjahitmu dengan benang luka.
Maka biarlah tulisanmu tetap seperti itu.
Aku tak akan paksa ia hangat atau manis.
Karena kadang, cinta tak datang dari kata,
tapi dari keberanian membaca jiwa yang tak bicara.







