Home OPINI Mahasiswa dan Krisis Identitas di Era Banjir Informasi

Mahasiswa dan Krisis Identitas di Era Banjir Informasi

235
0

Oleh: Muh Ezwansyah Lapato
Wartawan LPM Qalamun

Di tengah arus informasi yang tak henti mengalir dari handphone di genggaman, mahasiswa Indonesia hari ini justru menghadapi krisis identitas. Ketika akses terhadap pengetahuan semakin luas dari berbagai aspek, justru semakin banyak mahasiswa yang merasa kehilangan arah, jati diri, bahkan kestabilan mental mereka sendiri.

Krisis identitas di kalangan mahasiswa bukan sekadar wacana psikologis, melainkan gejala sosial yang nyata. Banyak dari mereka mengalami kebingungan: langkah apa yang harus diambil untuk menjadi panutan? Bagaimana seharusnya mereka berperan dalam lingkungan masyarakat? Di balik status akademik dan prestasi digital, tersimpan pertanyaan eksistensial: “Apakah saya hanya sekadar produk algoritma dan tren?”

Salah satu penyebab utama krisis ini adalah banjir informasi. Mahasiswa hidup dalam dunia yang sangat bergantung pada teknologi. Contoh nyatanya, setiap detik mereka terpapar narasi dari media sosial—konten TikTok, diskusi politik di Twitter, motivasi instan dari YouTube, hingga perdebatan ideologis yang membanjiri grup WhatsApp. Alih-alih membantu menemukan jati diri, informasi-informasi ini justru membingungkan karena datang secara serampangan, tanpa konteks yang jelas, dan sering kali saling bertentangan. Mahasiswa yang belum memiliki fondasi nilai yang kuat akan mudah kehilangan arah.

Tak hanya itu, media sosial juga menciptakan tekanan untuk membentuk identitas palsu. Demi validasi sosial berupa like dan komentar, banyak mahasiswa merasa harus tampil sempurna: berpikir kritis, berprestasi, berpenampilan menarik, sekaligus aktif secara sosial. Identitas mereka pun dibangun bukan atas dasar nilai yang mereka miliki, melainkan berdasarkan persepsi orang lain. Akibatnya, muncul rasa cemas, kelelahan, dan kekosongan batin.

Lalu, apa yang harus dilakukan mahasiswa?
Pertama, mahasiswa perlu memperkuat kesadaran diri dan literasi digital melalui refleksi serta pembelajaran nilai. Pendidikan bukan hanya soal IPK, tetapi juga tentang bagaimana mengenal diri, berpikir kritis, dan berdialog dengan perbedaan.
Kedua, kampus harus menyediakan ruang aman untuk diskusi terbuka dan mengasah kemampuan intelektual mahasiswa.

Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa tidak boleh larut. Justru merekalah yang harus menjadi jangkar nilai di tengah zaman yang serba instan ini. Identitas bukanlah sesuatu yang instan dan viral, melainkan harus dibangun melalui pengalaman, pembelajaran, dan kesadaran akan peran di tengah masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here