Home CERPEN Di Balik Pintu Rumah Bernama Organisasi

Di Balik Pintu Rumah Bernama Organisasi

110
0

Oleh: Syahida Amalia
Wartawan LPM Qalamun

Sore itu langit berbalut mendung. Pandangannya mengembara dari awan kelabu ke kerumunan orang-orang. Ia mengenali setiap raut, namun tak satu pun nama menyingkap jelas di lipatan memorinya.

Di tengah keramaian, kesepian justru meresap perlahan ke dalam jiwanya. Pertanyaan-pertanyaan kecil merayap di kepalanya, tak satu pun menemukan jawaban—entah kapan akan terungkap.

Senja beralih menjadi malam. Ia memilih duduk di sudut ruangan, menatap kosong hamparan rerumputan hijau. Tak lama, seorang perempuan berparas cantik menghampiri. Senyum hangat tersungging di bibirnya.

“Kenapa, Nara? Ayo bergabung dengan teman-teman yang lain,” ujarnya sambil mengusap bahu dengan sentuhan penuh kasih.

Kemudian ia menoleh kepada seorang pengurus sebaya—Hania, kaderisasi di organisasi itu—dan berkata lembut:

“Fia, kenapa tidak kamu ajak ia berbicara?” tanyanya.

Nara menatap Hania dan tersenyum tipis.

“Aku tidak sedang mengasingkan diri, Kak. Hanya saja… entah kenapa, setiap kali bertemu kakak, momennya selalu pas saat aku sendiri. Padahal aku juga sering berbaur dengan teman-teman,” ucapnya pelan.

Hania menanggapi dengan senyum hangat.

“Baiklah, adik. Jangan terlalu sering sendiri. Berbaurlah dengan teman-teman.”

Ia lalu meninggalkan Nara dengan langkah tenang.

Sepeninggal Hania, Nara bergabung dengan Fia—pengurus yang tadi disebut. Mereka saling menyapa, menukar cerita, hingga tiba-tiba air mata Nara menetes tanpa sebab yang jelas.

Fia menoleh, cemas.

“Kenapa? Kamu ada masalah?”

“Tidak, Kak,” jawab Nara lirih sambil mengusap pipinya. “Hanya saja… suasana hatiku sedang tidak baik.”

Air mata itu tak kunjung berhenti. Fia mengusap punggung Nara lembut, menenangkan dan menyemangati.

Di tengah keheningan itu, seorang perempuan cantik berhidung mancung mendekat dan ikut duduk.

“Ih, kenapa menangis? Ada masalah apa?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Nara berusaha menghentikan tangis, namun air matanya tetap mengalir. Tak lama kemudian, seorang laki-laki datang sambil bercanda.

“Kamu apakan dia? Kamu gigit dia, ya?” godanya.

Ucapan itu membuat Nara tertawa di sela-sela tangisnya. Ia adalah salah satu pengurus muda di organisasi itu. Malam itu mereka bercanda bersama, dan perlahan hati Nara terasa lebih lega.


Pagi menjelang. Mentari menyapa lembut di hari terakhir perkaderan. Namun pertanyaan yang sama masih berbisik di kepalanya: haruskah aku bertahan di organisasi ini, atau memilih mundur?

Waktu berlari. Tanpa terasa jarum jam menunjuk pukul empat sore. Seluruh pengurus dan calon anggota baru berkumpul dalam lingkaran, merangkul satu sama lain. Suasana sore itu penuh haru. Tiga hari dua malam terasa singkat, meski diwarnai lauk sederhana dan tidur yang tak pernah cukup.

Kali ini, Nara menatap sekeliling dengan berbeda. Perlahan, pertanyaan dalam benaknya menemukan jawaban. Ia teringat seorang sahabat yang tak henti mengajaknya hadir meski sering ia tolak. Ia teringat kaderisasi yang sabar meminta waktu luang walau hanya sejenak. Ia teringat pada seorang perempuan—pemimpin redaksi—yang dengan sabar mengajaknya belajar menulis dan meliput berita, meski ajakan itu berkali-kali kandas. Ia juga teringat sang direktur organisasi, sosok yang tak pernah lelah merangkul siapa pun—baik pengurus muda, pengurus tua, hingga para wartawan. Dan terakhir, ia mengingat kebersamaan dengan orang-orang baru yang kini melekat di relung hati dan memorinya.

Sebuah tanya lirih menyeruak di dadanya:

“Bila aku undur diri dari organisasi ini, akankah hangatnya kebersamaan tetap bisa kurengkuh? Aku tak rela kehilangan rasa itu.”

Sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga, Nara berbisik lirih, mungkin hanya untuk dirinya sendiri:

“Walau belum sepenuhnya menjadi diriku, aku ingin bertahan dan berproses di organisasi ini. Terima kasih, karena telah menjadi rumah kedua setelah rumah bernama keluarga ❤🖤.”

Senja menutup hari dengan isak lembut, diiringi pelukan hangat dari wajah-wajah yang sebelumnya hanya nama asing baginya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here