Home CERPEN Sepotong Kenangan di Ruang OSIS

Sepotong Kenangan di Ruang OSIS

59
0

Oleh: Siti Hajar
Wartawan LPM Qalamun

Jam Malam dan Secangkir Janji
Bau cat kering, tumpukan proposal acara, dan suara ketikan laptop menjadi aroma khas ruang OSIS SMK N 1 LWK. Di tengah kekacauan yang terasa nyaman itu, ada Farhan, Iky, Rifky, Ima, Siti, dan Ana.

Farhan—ketua seksi acara yang enerjik—sibuk menyusun rundown Pensi yang nyaris mustahil. Rambutnya acak-acakan, dengan coretan spidol yang entah sejak kapan menempel di pipinya. Di sebelahnya, Ana, sekretaris yang rapi dan teliti, sabar mengetik surat perizinan sambil sesekali meluruskan ide-ide “gila” Farhan.

Iky, Rifky, Ima, dan Siti duduk tak jauh dari mereka. Tawa dan candaan kecil mengisi ruangan.

“Gimana, Na? Kalau bintang tamunya band indie itu, suratnya harus super formal atau agak santai?” tanya Farhan sambil mengipasi wajahnya dengan map.

Ana mendongak, menatap Farhan dengan mata tenangnya.
“Formal, Han. Sekeren apa pun band-nya, ini tetap urusan birokrasi sekolah. Jangan sampai acara gagal hanya karena kita terlalu santai.”

Farhan mendengus lalu bergabung bersama yang lain, ikut larut dalam tawa ringan. Ruang OSIS bukan hanya tempat mereka bekerja, melainkan tempat persahabatan mereka tumbuh. Malam-malam mereka habiskan di sana, berbagi cerita, impian, dan secangkir kopi instan.

Malam itu, di bawah cahaya lampu OSIS yang hampir padam, mereka membuat janji.

“Aku mau kuliah Hukum di Jogja. Mau jadi jaksa,” ucap Rifky sambil menatap kalender penuh coretan.

“Aku mau jadi desainer interior. Harus ke Bandung, kampus desain terbaik ada di sana,” timpal Ima.

Satu per satu mereka bercerita tentang mimpi dan rencana setelah lulus.
“Jauh ya?” ujar Siti pelan.

Iky tersenyum khas.
“Jarak itu relatif, Sit. Yang enggak relatif itu janji kita: lulus SMK, kita masih tetap sahabatan atau enggak.”

Ruangan mendadak hening. Di meja, kopi instan yang mulai dingin dan tumpukan kertas HVS menjadi saksi bisu janji malam itu.


Koordinat yang Berbeda
Setahun kemudian, realitas kuliah memisahkan mereka. Telepon menjadi satu-satunya penghubung yang konsisten.

Semester demi semester berlalu, tugas menumpuk, janji untuk bertemu selalu kandas. Jadwal liburan tak pernah sinkron. Saat Farhan pulang ke LWK, Ana sibuk KKN. Ketika Siti pulang, Ima sudah kembali ke Bandung untuk semester pendek.

Panggilan telepon yang dulu bisa satu jam kini hanya tiga menit. Sepi perlahan menyelinap. Mereka merindukan chemistry saat bekerja di ruang OSIS, merindukan celoteh konyol dan tawa tanpa beban, merindukan kopi instan dingin setelah event besar.

Jarak kian menjauh, namun mereka tahu: persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari seberapa besar mereka saling mendukung—di mana pun koordinat mereka berada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here