Home CERPEN Dari Kupu-Kupu Menjadi Wakil

Dari Kupu-Kupu Menjadi Wakil

125
0

Oleh: Fitri Amalia
Wartawan LPM Qalamun

Hai semua, saya Aulia, mahasiswa jurusan Manajemen semester 3. Saya berkuliah di luar kota, mencari pengalaman baru, teman baru, dan lingkungan baru.

Sebagai mahasiswa, tentu ada kesibukan tersendiri. Awalnya, di semester 1, saya ingin menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah–pulang, kuliah–pulang).

Namun, suatu sore, ada seorang mahasiswa—memakai baju PDH Himpunan yang sama dengan jurusan saya—menghampiri saya yang sedang duduk sendiri.

“Mana, ya?” tanya mahasiswa itu.
“Iya, Kak,” jawabku.
“Oh, jurusan apa?” tanyanya lagi.
“Manajemen, Kak,” jawabku dengan malu-malu.
“Oh, sama berarti kita. Jadi, sudah ikut organisasi?”
“Belum sih, Kak. Rencananya mau jadi mahasiswa kupu-kupu aja,” jawabku jujur.
“Oh, kamu enggak suka ikut organisasi?”
“Bukan enggak suka, cuma ya pentingkan kuliah aja sih.”
“Oh, ikut organisasi tidak membuat perkuliahanmu jadi buruk, loh. Kamu bisa menambah relasi, tukar pikiran dengan yang lain, seru loh.”
“Oh, gitu ya. Nanti saya pikir-pikir lagi deh,” jawabku sambil mulai mempertimbangkan.

“Eh iya, kita belum kenalan. Namaku Dimas, saya dari HMJ Manajemen,” katanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Oh iya, Kak. Saya Aulia,” jawabku sambil tersenyum dan menyambut salamannya.
“Kami lagi buka rekrutmen anggota baru. Mungkin kamu tertarik? Boleh langsung ke stand kami di belakang gedung Akma.”
“Oh iya, Kak,” jawabku sambil mengangguk.
“Oh iya, saya pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi, Aulia,” katanya sambil melambaikan tangan, lalu pergi.

Entah kenapa, hati saya merasa ada yang aneh. Kenapa saya merasa senang ketika nama saya diingat, ya? Tidak lama setelah Kak Dimas pergi, saya pun beranjak dan pulang.

Saya selalu memikirkan apakah saya harus bergabung atau tidak. Dalam kebingungan itu, saya membuka Instagram HMJ Manajemen, melihat-lihat kegiatan mereka. Sampai ada satu postingan yang menampilkan Kak Dimas tersenyum lebar, seakan-akan dia sangat bahagia.

Lalu saya berpikir, “Apakah semenyenangkan itu?”

Keesokan harinya, saya memberanikan diri ke stand HMJ Manajemen untuk mendaftar. Ternyata, Kak Dimas sedang menjaga stand tersebut.

“Assalamualaikum,” kataku.
“Waalaikumsalam! Eh, Aulia! Mau daftar, ya?” jawabnya dengan semangat.
“Iya, Kak,” jawabku sambil tersenyum malu.
“Oh, boleh, boleh. Ini formulirnya, bisa diisi sekarang atau besok dikembalikan.”
“Saya isi sekarang saja, Kak.”
“Oh, boleh, ini ya. Nanti fotonya boleh menyusul.”
“Oh iya, Kak, saya isi dulu ya.”

Sambil mengisi formulir, saya terus diperhatikan oleh Kak Dimas, saya pun jadi gugup.

“Sudah, Kak. Berapa uang pendaftarannya?”
“Uang pendaftarannya dua puluh ribu.”
“Oh, ini, Kak. Besok fotonya saya kasih.”
“Oh iya, kami tunggu ya.”
“Iya, Kak. Kalau begitu, saya ke kelas dulu. Assalamualaikum, Kak.”
“Oh iya, Waalaikumsalam, Aulia.”

Saya pun pergi dari stand tersebut. Entah kenapa, hati saya senang sekali.

Keesokan harinya, ketika saya ingin menyerahkan foto, ternyata yang menjaga bukan Kak Dimas. Agak kecewa sih, tapi pasti Kak Dimas ada kelas.

Setelah itu, saya menuju kelas melewati tangga seperti biasa. Ternyata, saya berpapasan dengan Kak Dimas yang terburu-buru ingin turun. Kami pun saling bertukar sapa.

“Eh, Aulia!”
“Iya, Kak,” jawabku sambil tersenyum.

Walaupun hanya sebentar, hati saya senang sekali.

Singkat cerita, saya sudah masuk dalam organisasi tersebut. Ternyata, Kak Dimas angkatan 23, dan saya angkatan 24. Tidak lama lagi, akan diadakan pemilihan Ketua Umum baru satu bulan kemudian.

Hari terus berlalu. Tidak terasa, satu bulan itu tiba. Saya selalu datang saat Musyawarah Besar (Mubes) hingga pemilihan Ketua Umum baru. Karena sering datang saat Mubes, Ketua menawari saya untuk menjadi Wakil di salah satu divisinya.

Saya merasa, ternyata saya bisa menjadi wakil, ya? Padahal, tidak pernah terpikirkan olehku.

Saya menjawab iya, meskipun belum tahu siapa yang akan menjadi Ketua Divisi saya.

Setelah kesibukan dari Mubes hingga pergantian Ketua Umum baru, tibalah saatnya rapat yang diselenggarakan oleh Ketua Umum untuk mengumumkan setiap divisi dan orang yang menjabat.

Hari itu, banyak sekali anggota organisasi yang datang. Saya pun jadi gugup memikirkan siapa yang akan menjadi partner saya nanti.

Dan tiba saat pengumuman Divisi Komunikasi dan Informasi (Kuminf).

“Divisi Kuminf, yang menjadi Wakil Koordinator, yaitu Aulia,” ucap Ketua Umum.

Semua orang bertepuk tangan. Saya hanya tersenyum malu.

“Dan yang menjadi Koordinator Divisi Kuminf, yaitu Dimas! Mari beri tepuk tangan untuk keduanya!”

Saya merasa darahku berdesir, seakan seluruh udara di ruangan itu tercekat. Saya melirik ke arah Kak Dimas, dan butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa jantungku sedang menabuh genderang kemenangan—tidak percaya bahwa Kak Dimas yang menjadi Koordinator saya!

Selesai rapat, Kak Dimas menegurku.
“Aulia,” ucapnya.
“Iya, Kak,” jawabku spontan.
“Ternyata kamu yang menjadi wakilku. Mohon kerja samanya, ya,” ucapnya sambil tersenyum.
“Iya, Kak. Mohon kerja samanya,” jawabku sambil tersenyum.

Dengan adanya amanah tersebut, saya merasa dianggap dan diterima oleh organisasi ini, yang menjadi rumah kedua saya. Saya aktif di kegiatan apapun, senang rasanya ada tempat yang bisa membuat saya menjadi diri sendiri.

Dari sanalah saya menyadari, ternyata saya mengagumi Kak Dimas sejak awal pertemuan kami. Senyum lebarnya di postingan itu bukan sekadar senyum, tapi memancarkan energi, seolah setiap kegiatan yang ia ikuti benar-benar bermakna. Karena dialah, saya bertahan hingga kini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here