Home CERPEN Ketika Waktu Berhenti

Ketika Waktu Berhenti

123
0

Oleh: Luthfia Rahmadani
Wartawan LPM Qalamun

Pagi itu, Puskesmas berdenyut dengan kehidupan. Gemuruh batuk, rengekan anak-anak, dan seruan dari pengeras suara membentuk simfoni yang khas. Di antara hiruk-pikuk itu, seorang wanita renta duduk di bangku tunggu, menggenggam erat tas kain yang tampak usang dimakan waktu. Di sisinya, seorang wanita muda bersandar lemah, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal.

Wanita renta itu menoleh perlahan, matanya menyipit, menelisik sosok di sebelahnya. “Ngapain kamu di sini, Nduk?” tanyanya dengan suara serak.

Wanita muda itu tersenyum tipis, senyum yang menyimpan lelah. “Berobat, Bu.”

“Oh… sendirian?”

“Nggak kok, Bu.”

Wanita renta itu mengangguk-angguk, namun tatapannya kosong. Wanita muda itu hanya membalas dengan senyum.

Keheningan mengisi ruang di antara mereka. Beberapa menit berlalu, wanita renta itu kembali membuka percakapan. “Kamu sakit apa?”

“Demam, Bu. Sudah dua hari nggak turun.”

Kerut di wajah wanita renta itu semakin dalam, tanda khawatir. “Seharusnya ada yang nemenin kamu. Jangan sendirian.”

Wanita muda itu menatapnya lekat, matanya mulai berkaca-kaca. “Saya nggak sendirian kok, Bu.”

Wanita renta itu terdiam, sorot matanya masih hampa.

Tiba-tiba, pengeras suara memecah kesunyian:

“Pasien atas nama Alya, silakan menuju ruang pemeriksaan.”

Wanita renta itu menoleh dengan bingung. “Alya? Siapa itu?”

Dengan perlahan, wanita muda itu berdiri dan meraih tangan wanita renta di sampingnya. “Ayo, Bu. Giliran kita.”

Wanita renta itu menatap tangan yang menggenggamnya erat. Lalu, pandangannya beralih pada wajah wanita muda itu. Sesaat, ada kilatan aneh di matanya—seperti memori yang lama terkubur tiba-tiba muncul kembali.

“Alya…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. “Kamu… anakku?”

Wanita muda itu mengangguk, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. “Iya, Bu. Saya Alya, anak Ibu.”

Wanita renta itu terdiam, lalu senyum perlahan merekah di wajahnya, seolah menemukan kembali kepingan dirinya yang hilang.

Mereka berjalan bersama menuju ruang pemeriksaan, tangan mereka saling menggenggam erat. Di balik pintu itu, mungkin waktu akan terus menggerogoti ingatan, tapi cinta ternyata tetap bersemayam di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here