Oleh: Ayu Cahya Dewi
Wartawan LPM Qalamun
Sejak kecil, aku terbiasa melihat ayah sebagai tempat belajar banyak hal. Ia bukan sekadar orang tua, tapi juga panutan—sosok yang sikapnya sering berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Dari caranya bersikap sehari-hari, aku belajar arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan tanpa perlu nasihat panjang.
Bagiku, ayah adalah bukti nyata bahwa ketegasan tidak harus ditunjukkan dengan kemarahan atau kekerasan. Ia tidak pernah sekalipun mengangkat tangan, bahkan ketika aku berbuat salah. Cukup dengan tatapan matanya, aku langsung merasa bersalah dan sadar akan kesalahanku.
Ayahku orang yang sederhana, tapi prinsip hidupnya kuat. Ia selalu mengajarkan aku dan saudara-saudaraku untuk bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Cara ayah menegur membuatku lebih menghargai perkataannya. Dari setiap kesalahan, aku belajar bahwa pengalaman bisa menjadi pelajaran berharga.
Yang paling aku kagumi, ayah selalu bersikap adil. Ia tidak pernah membedakan aku dengan saudara-saudaraku. Jika aku salah, aku ditegur; jika saudara-saudara lain salah, mereka pun diperlakukan sama. Tidak ada kata “karena kamu perempuan harus begini” atau “karena dia laki-laki boleh begitu.” Semua diperlakukan setara.
Aku masih ingat suatu kali pulang terlambat tanpa memberi kabar. Ayah tidak membentak. Ia hanya menatapku dan berkata pelan, “Lain kali jangan lupa beri kabar, supaya kami tidak khawatir.” Kata-kata sederhana itu terasa penuh makna, dan sampai sekarang masih kuingat dengan jelas.
Kelak, ketika aku menjadi orang tua, aku ingin meneladani caranya. Menjadi tegas tanpa menakutkan anak, adil tanpa membeda-bedakan, dan memberi kasih sayang tanpa berlebihan.
Kadang aku berpikir, mungkin aku tidak akan pernah benar-benar bisa membalas semua kebaikan ayah. Tapi aku yakin, dengan menjadi anak yang jujur dan bertanggung jawab, itu sudah cukup membuatnya bangga. Begitulah caraku menjaga semua nasihat yang ia wariskan.
Ayahku mengajarkanku bahwa menjadi pemimpin keluarga bukan soal siapa yang paling keras, tapi siapa yang paling sabar, adil, dan bisa diandalkan. Bagiku, ayah adalah bukti nyata bahwa cinta seorang ayah tidak kalah tulusnya dari cinta seorang ibu.
Kini, setiap kali menatap ke belakang, aku merasa sangat beruntung dibesarkan oleh sosok seperti ayah. Tanpa dirinya, mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang. Ia bukan sekadar bagian dari hidupku, tapi fondasi yang membuatku berdiri lebih kuat.







