PALU, LPMQALAMUN.com — Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) UIN Datokarama Palu menggelar Seminar Nasional, di Gedung Auditorium Kampus I UIN Datokarama Palu, pada Selasa (28/04/2026).
Kegiatan ini bertema “Islam dan Krisis Lingkungan Global: Ekoteologi sebagai Kebijakan Agama dan Strategi Keberlanjutan Masa Depan”, diangkat sebagai bentuk tanggung jawab institusi dalam membangun kesadaran kolektif, terutama di Sulawesi Tengah yang menghadapi tingginya eksploitasi sumber daya alam.
Ketua Panitia, Dr. Muhammad Patri Arifin, M.Th.I., menjelaskan bahwa ekoteologi selama ini masih sebatas gagasan dan perlu dikaji secara akademik agar dapat dipahami secara utuh.
“Selama ini kita hanya mendengar wacana atau konsep yang disebarkan oleh Kementerian Agama mengenai ekoteologi. Hal itu yang kemudian ingin kita dalami seperti apa konsep yang hendak dibangun,” jelasnya.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Budhy Munawar Rachman, sebagai narasumber utama, dan dihadiri oleh Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. H. Lukman, M.Ag., serta mahasiswa/i FUAD.
Dalam pelaksanaannya, panitia menempuh sejumlah tahapan, mulai dari konsultasi internal hingga penentuan narasumber yang kompeten di bidang teologi dan berperan sebagai penasihat Menteri Agama dalam pengembangan ekoteologi.
Dr. Patri menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif terhadap isu lingkungan melalui pendekatan keagamaan.
Ia mengatakan bahwa dalam perspektif agama, alam memiliki makna yang luas, tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik.
“Kalau kita melihat dari konsep agama, alam itu bukan hanya berkaitan dengan lingkungan seperti tumbuhan atau hewan, tetapi segala sesuatu selain Tuhan adalah makhluk. Artinya, manusia juga bagian dari alam yang harus menjaga keseimbangan itu,” katanya.
Terakhir, ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata bagi mahasiswa dan masyarakat dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keagamaan.
“Harapan kami, masyarakat bisa lebih sadar dan memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya, karena alam juga memiliki nilai sakral sebagai ciptaan Allah SWT yang harus dijaga,” harapnya.
Wartawan: Jaye, Qhosirotuthorfi, Arin







