Home CERPEN Sapruddin

Sapruddin

57
0

Oleh: Muhammad Al-Fitrah
Wartawan LPM Qalamun

Kriingg! Alarm berbunyi, menunjuk pukul setengah enam pagi. Tapi Idin hanya menggerutu. Ia baru tidur pukul dua subuh setelah begadang main game dan keliling kota.
“Lima menit lagi…” gumamnya sambil menarik sarung.

Namun lima menit berubah menjadi satu jam. Saat membuka mata lagi, jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh. Padahal kuliah Filsafat Ilmu Hukum dimulai tepat pukul setengah delapan, dengan dosen yang terkenal anti toleransi keterlambatan. Jantung Idin serasa mau copot. Ia buru-buru meraih baju, wajah masih berbekas garis bantal, otak belum sepenuhnya kembali—dan yang paling fatal: ia lupa mandi.

Ponselnya bergetar. Nama yang muncul: Supri, komsat kelasnya.
“Idin, kamu di mana? Dosen sudah masuk!” suaranya dingin.
“I-iya, Sup… masih di jalan,” jawab Idin terbata, padahal ia baru keluar dari lorong rumah.

Ia berlari terburu-buru, seperti orang kebelet. Sampai di kampus, masalah baru muncul: area parkir penuh sesak. Setelah berputar cukup lama, ia baru bisa memarkir motor. Bergegas menaiki tangga menuju lantai empat, ia menabrak seorang mahasiswi. Buku-bukunya jatuh berserakan.
“Astaga, maaf banget!” Idin jongkok membantu memungut.

Saat menoleh, matanya terpaku. Gadis itu berwajah anggun, penampilannya rapi, mata teduh memancarkan ketenangan.
“Nggak apa-apa, kak. Hati-hati kalau lari,” ucapnya lembut.
Idin hanya mengangguk, lalu melanjutkan lari.

Ketika pintu kelas didorong, suasana hening. Semua menatapnya. Dosen yang sedang menulis di papan berhenti, menoleh tajam.
“Sang pahlawan kesiangan akhirnya datang,” ucapnya, nada jenaka tapi tegas.
“Heheh, maaf, Bu. Tadi ketiduran dikit,” jawab Idin kikuk.
“Mumpung saya lagi baik, silakan duduk. Tapi jangan berisik. Kalau ribut, silakan keluar sendiri.”

Wajah Idin memerah. Ia memilih kursi belakang. Namun matanya langsung berhenti pada sosok gadis tadi. Ia duduk manis di kursi depan. Idin menelan ludah. Malu pada dosen, sekaligus penasaran pada gadis itu.

Kuliah berjalan, tapi fokus Idin buyar. Pandangannya hanya tertuju pada punggung gadis itu. Sesekali gadis itu mengangkat tangan, menjawab pertanyaan dengan lancar. Dosen beberapa kali memuji, “Bagus, Natun.”
Nama itu terpatri di hati Idin. Natun. Nama sederhana, tapi langsung menetap di benaknya.

“Gadis sepintar itu, mana mungkin mau menoleh pada mahasiswa amburadul sepertiku,” batinnya getir.

Menjelang akhir kelas, dosen mengumumkan, “Besok kita mulai presentasi kelompok. Pastikan siap.”
Idin terperanjat. Ia bahkan belum tahu kelompoknya siapa. Saat daftar kelompok dibacakan, jantungnya berdebar: ia sekelompok dengan Natun. Antara bahagia dan panik bercampur.

Sore itu, Idin memberanikan diri menghampiri Natun di perpustakaan.
“Eh… Natun ya? Kita satu kelompok. Kapan kita bisa bahas presentasi?” tanyanya gugup.
Natun menutup laptop, menatapnya dengan senyum tipis.
“Bagus, akhirnya kamu muncul. Aku kira bakal cuek.”
“Hehe… nggak kok. Aku serius kali ini.”

Diskusi dimulai, tapi Idin sering salah paham dengan istilah-istilah yang Natun sebutkan. Natun sabar menjelaskan, meski sesekali menghela napas. Idin sadar, jika ia tak berubah, Natun akan menganggapnya beban.

Pertemuan berikutnya, Idin datang terlambat karena motornya mogok. Natun sudah menunggu hampir satu jam. Wajahnya dingin.
“Kalau kamu nggak serius, bilang aja. Aku bisa kerjain sendiri.”
Perkataan itu menusuk Idin. “Nggak, Natun… aku serius. Hanya saja—”
“Alasan lagi.” Natun berdiri, meninggalkannya.

Malam itu, rasa bersalah membuat Idin berubah. Ia begadang membaca materi. Pagi harinya, untuk pertama kali ia datang lebih awal ke kelas, lengkap dengan slide presentasi.
“Aku janji nggak akan bikin kamu malu, Tun,” katanya mantap.
Senyum tipis muncul di wajah Natun. “Oke. Kita lihat nanti.”

Hari presentasi tiba. Idin memulai dengan gugup, tapi perlahan lancar. Natun melanjutkan dengan tenang dan elegan. Keduanya saling melengkapi. Dosen mengangguk puas.

Saat kelas bubar, Idin keluar dengan lega. Di tangga kampus, senja menyambut mereka. Ia memberanikan diri berkata,
“Makasih udah sabar sama aku, Tun.”
Natun menoleh, senyumnya lembut.
“Kalau kamu terus berusaha, mungkin kamu bisa lebih dari yang kamu kira.”

Kata-kata itu menyalakan bara kecil di dada Idin. Dari perkuliahan yang penuh konflik ini, mungkin sebuah cerita baru akan dimulai.

Bersambung: Aurelia Zainatun Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here