Home CERPEN Atlas Prima Facie Love

Atlas Prima Facie Love

70
0

Oleh: Afra’im
Wartawan LPM Qalamun

Namaku Leo. Biasanya orang memanggilku begitu. Aku berasal dari darah campuran Tionghoa dan Bugis. Aku bukan siapa-siapa, bukan orang kaya, bukan pula seseorang yang punya setangkai bunga untuk kuberi. Namun, aku memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada harta: kekuatan rasa, yang kusebut cinta.

Berbeda dari kebanyakan orang, aku selalu belajar dari kesalahan yang kulakukan. Aku terbiasa menunggu keajaiban yang muncul dari sesuatu yang tampak mustahil. Aku seorang penulis yang menuangkan perasaan ke dalam kata-kata, menjadikannya puisi agar orang lain bisa merasakan makna cinta dari sisi yang berbeda. Mungkin hanya secuil yang mereka rasakan, tetapi bagiku, secuil itu sudah cukup berarti untuk menggambarkan keabadian rasa.

Kadang aku termenung, berpikir bahwa takdir yang membawaku sampai ke titik ini pasti punya maksud. Mungkin agar aku menemukan tulang rusuk yang lama hilang, atau sekadar belajar bertahan hidup sampai waktu menjemput. “Entah mana yang lebih kuat, takdir manusia atau takdir semesta,” bisikku dalam hati.

Seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa tidak ada yang benar-benar pasti. Takdir sering kali berlari lebih cepat dari rencana. Namun, walau banyak keterlambatan yang terjadi, semoga kita tidak pernah terlambat untuk menghargai yang berharga—terutama waktu. Waktu bersama orang yang membuat kita merasa dihargai dan diakui oleh semesta.

Kisahku dimulai dari antara mati dan hidup, cinta dan kehilangan. Mereka bilang hanya orang buta yang bisa benar-benar melihat, dan hanya orang tuli yang bisa benar-benar mendengar. Aku menyebutnya keheningan, atau kehilangan rasa. Tanpa cinta, hidupku hanyalah rutinitas biasa—sekadar bernapas tanpa makna.

Mengikuti arus takdir bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Dalam logikaku, mengikuti kata hati jauh lebih sempurna. Sebab, di dalam kata hati, Tuhan sedang menulis skenario-Nya dengan indah.

Aku pernah jatuh cinta pada seseorang dengan rasa yang tak pernah kualami sebelumnya. Rasa yang bahkan tak bisa kujelaskan dengan logika. Sore itu, aku melihatnya untuk pertama kali. Ia mengenakan gaun hitam dan kerudung merah. Senyumnya mencuri pandanganku yang sipit. Ia tampak ceria dan ringan, mungkin sedang berolahraga, karena ia mengenakan sepatu.

Bagiku, perempuan itu mungkin wujud dari doa-doaku selama ini. Seakan ia bidadari tanpa sayap, dengan senyum yang diciptakan khusus untukku. Walau mataku kecil, aku tahu aku sedang melihat ciptaan Tuhan yang luar biasa.

Ketika aku mencoba menyapanya, ia hanya menatap sekilas lalu berpaling. Aku tersenyum pahit, mencoba menenangkan diri. “Mungkin aku bukan tipenya, atau mungkin aku memang tidak menarik,” kataku dalam hati. Hari-hariku pun berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, hanya hampa yang menumpuk di dada.

Namun entah mengapa, bayangan wajahnya terus menghantuiku. Dalam sepi aku bertanya, apakah akan ada keajaiban dari semua ini? Ataukah hanya rasa yang akan membeku kembali?

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mencarinya. Dengan harapan yang setengah yakin, aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Takdir, seolah ikut menuntunku, membawaku ke rumahnya. Dari orang-orang di kompleks itu, aku tahu ia tinggal di dekat rumah sakit—tempat di mana aku dulu menemani pamanku yang sakit.

Pagi itu, aku mendapati seorang wanita tua berdiri di depan rumahnya. Aku menanyakan tentang gadis itu, dan beliau menjawab lembut, “Oh, itu anak saya. Ada perlu apa, Nak?”

Dengan jantung berdebar, aku menjawab jujur, “Saya datang untuk melamar anak Ibu. Saya mencintainya.”

Wanita itu tersenyum, sedikit terkejut. “Serius, Nak? Anak saya itu pemalu dan agak cuek. Kamu yakin?”

Aku mengangguk mantap. “Saya yakin, Bu. Dia cinta pertama dan terakhir saya. Apa pun risikonya, saya siap.”

Ibunya lalu memanggil sang anak dengan bahasa daerah yang tak kumengerti. Gadis itu keluar tergesa-gesa, dan ketika matanya bertemu denganku, ia terdiam, tersipu malu. Setelah mendengar apa yang ibunya katakan, ia hanya tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.

Dan hari itu, tanpa banyak kata, ia menerima lamaranku. Aku nyaris tak percaya. Dunia seolah berhenti berputar.

Dari kisah itu, aku belajar satu hal: cinta bukan hanya tentang kata-kata manis atau harapan kosong. Cinta harus diperjuangkan dengan tindakan, dengan keberanian untuk jujur pada rasa. Karena kadang, cinta tidak perlu banyak bicara—cukup bertindak, dan biarkan semesta mengamini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here